Maritsa memutuskan ia perlu mengenal kota sebelum kota mengenalnya terlalu dalam. Pagi berikutnya ia berjalan kaki menyusuri Tanjung Beruk, membawa buku catatan dan tampak seperti yang ia akui sebagai penutup: konsultan arsip yang mendata sejarah lokal. Orang lebih mudah bicara pada perempuan yang menulis tentang masa lalu daripada perempuan yang menggali kuburan.
Kota ini punya tekstur yang sudah ia rasakan sejak hari pertama. Jalan-jalan menanjak dari pelabuhan ke bukit, dan semua yang berharga membelakangi air. Toko-toko menghadap jalan. Rumah-rumah panggung menghadap tetangga. Hanya gudang es dan dermaga yang menghadap laut, dan keduanya tampak seperti tempat yang orang datangi untuk bekerja, lalu segera pergi. Seakan kota ini sudah lama memutuskan bahwa laut adalah sesuatu yang lebih baik tidak ditatap terlalu lama.
Ia belajar membaca kota dari bibir orang. Tapi ia berhati-hati, karena ia tahu betul keterbatasannya. Membaca bibir bukan transkrip. Dari depan, di cahaya bagus, dengan orang yang bicara pelan, ia bisa menangkap mungkin separuh, dan menebak sisanya. Dari samping, di bayangan, dengan orang yang bicara cepat, ia hampir buta. Maka ia tak pernah mempercayai satu bibir untuk satu fakta. Ia mengumpulkan kepingan, membandingkannya, dan curiga pada dirinya sendiri sebanyak ia curiga pada orang lain.
Ia menyebut nama Reno di warung kopi, hati-hati, seolah nama itu cuma satu dari banyak dalam catatannya. Reaksinya selalu sama dan karenanya berarti. Seorang perempuan tua yang sedang tertawa berhenti tertawa. Seorang nelayan memalingkan wajah, jadi Maritsa kehilangan bibirnya dan, dengan itu, kehilangan apa pun yang ia katakan, kalaupun ia mengatakan sesuatu. Pemilik warung menyibukkan diri dengan gelas. Tak ada yang bilang jangan tanya. Mereka cuma berhenti menjadi orang yang bisa kau tanya. Sebuah kota tahu cara membungkam diri tanpa satu kata pun, dan keheningan itu, untuk perempuan yang hidup di dalam sunyi, terasa hampir bising.
Ia kembali ke Radio Camar lewat tengah hari dan menemukan Pak Darus di lobi, terlalu kebetulan ada di sana saat ia masuk. Manajer itu menyapanya hangat, menanyakan kemajuan, dan Maritsa membaca dari bibirnya pertanyaan yang dibungkus basa-basi: apakah ada pita lain yang menarik. Ia menjawab membosankan, iklan dan lagu. Ia memperhatikan bahwa Pak Darus, setiap kali topik mendekat ke malam sepuluh tahun lalu, punya cara melompat ke topik lain dengan senyum yang sama. Bukan menghindar kasar. Mengalihkan halus, seperti orang yang sudah lama berlatih. Itu sendiri adalah data. Orang yang tak tahu apa-apa tidak punya gerakan menghindar yang sehalus itu.
Sore harinya, hal yang tak ia rencanakan terjadi. Seorang perempuan muda menunggunya di depan losmen, berdiri kaku, memeluk sebuah tas kain di dada. Saat Maritsa mendekat, perempuan itu memperkenalkan diri dengan bibir yang bergetar tapi sengaja dilambatkan, seperti orang yang sudah diberitahu tentang ketuliannya. Lila. Adik Reno.
Maritsa mengajaknya duduk di teras losmen, di cahaya sore yang masih cukup untuk membaca wajah. Ia menahan diri untuk tidak menyodorkan rasa iba. Catatan di kepalanya tegas soal ini: gadis ini bukan cerita duka, bukan beban emosi yang harus ia gendong. Lila adalah sumber. Dan, ia mengingatkan diri, mungkin juga taruhan, karena siapa pun yang membantu Maritsa di kota ini ikut menanggung risikonya.
Lila bicara hati-hati, dan Maritsa membaca apa yang bisa ia baca, lalu meminta Lila menulis hal-hal penting di buku catatannya agar tak ada yang salah tangkap. Gadis itu berkata orang-orang di kota menyuruhnya melupakan, bahwa kakaknya ceroboh, bahwa dermaga itu memang licin. Tapi Lila tidak pernah percaya. Reno tumbuh di dekat laut. Reno tahu setiap papan dermaga itu. Reno tidak terpeleset dari tempat yang ia kenal sejak kecil.
Lalu Lila membuka tas kainnya dan mengeluarkan beberapa barang yang ia simpan sepuluh tahun: buku tulis Reno, sebuah pemutar kaset kecil yang rusak, dan setumpuk kaset mini berlabel tanggal. Ia menulis di buku Maritsa: kakak suka merekam diam-diam. Katanya buat latihan suara. Tapi kadang dia merekam hal yang aneh. Malam-malam.
Maritsa mengangkat salah satu kaset mini, memutarnya di tangan, merasakan beratnya. Bukan kaset siaran. Kaset pribadi. Alat seorang penyiar muda yang punya kebiasaan merekam, dan mungkin punya kebiasaan merekam hal yang tak seharusnya. Pikirannya melompat, hati-hati, ke pertanyaan editor yang selalu ia pelihara: jika pelaku menguasai pita siaran, apakah mereka tahu Reno juga punya pita sendiri? Mungkin tidak. Mungkin di situ ada salinan kedua kebenaran, di tempat yang tak terpikir pelaku untuk dikubur.
Ia menatap Lila dan, untuk pertama kalinya, mengizinkan dirinya berkata jujur, pelan, agar gadis itu bisa membaca bibirnya seperti ia membaca bibir Lila.
"Aku tidak datang ke sini untuk arsip kota," katanya. "Aku menemukan sesuatu di pita siaran terakhir kakakmu. Aku belum yakin semuanya. Tapi aku rasa dia tidak terpeleset."
Lila tidak menangis. Ia hanya menggenggam tas kainnya lebih erat, dan menulis satu baris di buku catatan dengan tangan yang mantap, seolah sudah menunggu sepuluh tahun untuk menuliskannya: kalau begitu tolong jangan berhenti.