Setiap stasiun radio menyimpan satu benda yang lebih jujur daripada manusianya: buku jadwal siaran. Di sanalah tercatat siapa duduk di kursi penyiar pada jam berapa, lagu apa diputar, iklan apa dibacakan, siapa operator teknis yang menjaga peralatan. Maritsa tahu, jika ada kebenaran administratif tentang malam itu, ia ada dalam tinta, bukan dalam ingatan yang sudah sepuluh tahun dipoles.
Meminta buku itu tanpa membuat curiga butuh kesabaran. Maritsa membingkainya sebagai bagian dari pekerjaan restorasi, ia perlu mencocokkan label pita yang pudar dengan jadwal asli agar pengarsipannya benar. Alasan yang masuk akal, membosankan, dan benar secara prosedur. Pak Darus, setelah ragu sesaat yang Maritsa tangkap di kerutan dahinya, menyerahkan tumpukan buku besar bersampul keras yang berbau jamur. Tahun yang ia butuhkan ada di salah satunya.
Ia membawanya ke ruang arsip dan bekerja di bawah lampu meja, membalik halaman demi halaman yang ditulis tangan oleh entah berapa petugas selama bertahun-tahun. Tulisan berganti-ganti, tinta memudar berbeda-beda. Ia menemukan tanggal malam itu dan menelusuri kolomnya pelan, dengan jari, seperti membaca huruf braille yang sebenarnya bukan braille.
Kolom penyiar: nama Reno, jelas, dengan jam siaran malam panjang. Kolom lagu: daftar judul, dan ia mengenali salah satunya, lagu yang sama yang ditumpuk di atas tiga detik itu. Kolom iklan. Lalu kolom paling kanan, kolom operator teknis, orang yang menjaga peralatan dan papan suara selama penyiar bicara.
Di kolom itu ada satu nama. Lalu nama itu dicoret. Bukan dihapus, dicoret, satu garis tinta menebal di atasnya, dan di sebelahnya ditulis nama lain dengan tinta yang sedikit berbeda warnanya. Maritsa mendekatkan wajahnya. Di bawah cahaya, ia memiringkan halaman, dan melihat bahwa nama yang dicoret ditulis dengan tinta yang sama dengan seluruh jadwal malam itu, sementara nama pengganti ditulis dengan tinta yang lebih segar, dan goresan penanya berbeda. Tekanan yang berbeda. Sudut yang berbeda. Tangan yang berbeda, di waktu yang berbeda.
Seseorang telah mengubah catatan siapa yang berada di ruang teknis malam itu. Bukan saat menyusun jadwal. Belakangan.
Ini petunjuk pertama yang adil, yang bisa dilihat siapa pun dengan mata yang mau memiringkan halaman ke cahaya. Maritsa memotretnya dengan ponsel, beberapa kali, dari beberapa sudut, agar perbedaan tinta tertangkap. Lalu ia menelusuri buku ke belakang, mencari nama yang dicoret itu di malam-malam lain. Ia menemukannya berulang kali di bulan-bulan sebelumnya, operator yang sama bertugas teratur. Lalu, setelah malam Reno, nama itu lenyap total dari buku. Tidak pernah muncul lagi. Orang yang seharusnya ada di ruang teknis malam itu menghilang dari catatan kota persis setelah malam itu.
Ia kembali ke pita. Sekarang ia tahu apa yang harus dicari, dan ia mencarinya bukan di lagu, melainkan di antara segmen. Setiap kali mesin perekam pita dihentikan dan dijalankan lagi secara manual, ia meninggalkan jejak: perubahan kecil pada nada dengung listrik yang selalu terekam diam-diam di latar, dengung jaringan listrik kota yang menyusup ke setiap rekaman lewat kabel. Dengung itu seperti detak jantung yang stabil. Tapi saat mesin dijeda dan disambung, detak itu tersentak, fasenya patah, ada lompatan yang tak akan ada dalam rekaman yang berjalan utuh.
Maritsa menarik garis dengung listrik itu sepanjang pita di layarnya, jadikan ia sebuah garis tunggal yang seharusnya mulus dari awal sampai akhir. Dan di sana, persis di tepi tiga detik yang ditumpuk, garis itu patah. Dua kali. Sekali sebelum, sekali sesudah. Rekaman ini dijeda, sesuatu terjadi di luar pita, lalu dijalankan lagi dan ditambal dengan lagu di sambungannya. Bukan kerusakan pita. Bukan kecelakaan mekanis. Tangan manusia menekan jeda pada malam itu, dan tangan manusia menjalankannya lagi.
Ia duduk kembali dan menyusun apa yang ia punya, dengan hati-hati, melawan godaan untuk melompat ke kesimpulan. Catatan siaran yang diubah belakangan oleh tangan kedua. Operator yang lenyap dari kota. Jeda manual pada pita persis di sekitar tiga detik berisi teriakan, benturan, dan seretan. Dan sebuah lagu, ditumpuk dengan terampil, untuk menambal lubang waktu yang ditinggalkan oleh jeda itu.
Masing-masing, sendirian, bisa dijelaskan. Bersama-sama, mereka membentuk satu bentuk yang sama jelasnya dengan transien logam di spektrogram. Seseorang yang menguasai peralatan ruang teknis berada di sana malam Reno mati, menghentikan rekaman pada saat yang tepat, dan kemudian, dengan tenang, menjahit kebohongan dari benang lagu dan tinta.
Maritsa menutup buku jadwal dan meletakkan tangannya di atasnya, merasakan getaran samar generator naik dari lantai. Untuk pertama kalinya ia merasa bukan sekadar membaca sebuah kejahatan, melainkan diawasi balik olehnya, seperti orang yang menggali sumur dan, di dasar yang gelap, merasa air menatap ke atas.