Kelas X-2 belum terbiasa dengan kehadiran kami. Papan tulis masih berdebu seperti baru saja ditinggalkan guru yang buru-buru. Kursi-kursi berderit tiap kali diseret, menimbulkan suara yang memanjang seperti keluhan. Aroma kain seragam baru bercampur wangi deterjen lembut, kabur tipis oleh bau kapur yang menempel di udara. Di luar, cahaya pagi menembus kisi-kisi jendela, jatuh jadi kotak-kotak terang di lantai keramik.
Ahmad berdiri di ambang pintu cukup lama untuk dikira ragu. Padahal memang ragu. Ia menggenggam tali tas lebih kencang dari seharusnya, jantungnya memukul pelan seperti ingin mengingatkan: ini hari pertama SMA, semua orang asing. Ia menelan ludah, melangkah masuk, dan memindai bangku-bangku.
Bangku dekat jendela, baris ketiga dari depan, terlihat aman. Tidak terlalu di tengah perhatian, tapi tidak juga paling belakang. Ia duduk pelan, memastikan bangku tidak goyah, lalu meletakkan tas di bawah meja. Dari tempatnya, ia bisa melihat halaman kecil di luar: tanaman pucuk merah berbaris, tukang kebersihan menyapu dengan ritme sabar. Sedikit tenang.
“Eh, ini kosong?” suara seorang perempuan memotong pikiran Ahmad.
Ia menoleh. Gadis itu berdiri di sampingnya, napasnya masih sedikit cepat seperti habis berlari kecil. Rambutnya dikuncir setengah, rapi tapi tetap ada anak rambut yang bebas di pelipis. Kulitnya bersih, matanya terang dan percaya diri. Dasi seragamnya sudah benar, pin nama menempel rapi: Diva A.
“Kosong,” jawab Ahmad, suaranya keluar lebih pelan dari niatnya.
“Boleh aku di sini?” Diva mengangkat dagu ke arah kursi kosong di sebelahnya.
Ahmad mengangguk, menahan keinginan untuk berdiri dan mempersilakan, tapi ia takut bangkunya bunyi berderit lagi. Diva tersenyum singkat dan menarik kursi. Deritnya ada, tapi tidak separah perkiraan. Ia duduk, membuka kotak pensil, mengeluarkan pena, stabilo warna pastel, dan correction tape yang masih mengilap.
“Aku Diva,” katanya, tangannya terulur tiba-tiba.
“Ahmad.” Telapak tangan Ahmad dingin, telapak Diva hangat. Sentuhan cepat itu entah kenapa membuat napas Ahmad sedikit lebih teratur.
“Dari SMP mana?” tanya Diva ringan.
“Negeri 2,” jawab Ahmad. “Kamu?”
“Swasta, dekat terminal.” Diva terkekeh. “Seragam kami dulu, entah kenapa, selalu kebesaran. Hari ini, akhirnya pakai seragam yang pas. Rasanya… kayak jadi orang baru.”
Ahmad mengangguk, tersenyum kecil. “Seragam baruku masih bau toko.”
“Wangi kemenangan,” canda Diva. “Btw, kamu tipe yang suka duduk di dekat jendela ya?”
“Kalau gugup, bisa pura-pura lihat tanaman,” jawab Ahmad jujur, memancing senyum yang lebih lebar dari Diva.
Di depan, seorang pria berkemeja biru muda masuk membawa daftar hadir dan spidol. “Selamat pagi,” suaranya tegas, menenangkan keramaian. “Saya Pak Surya, wali kelas kalian. Kita mulai sederhana—perkenalan dulu.”
Serentak, suara kursi dan bisik-bisik mereda. Di barisan paling depan, seorang murid berdiri, menyebut nama, hobi, cita-cita. Yang lain menyusul. Ada yang suaranya jelas, ada yang setengah berbisik. Ada yang bercita-cita jadi dokter, programmer, sampai barista.
Giliran hampir mendekat saat pintu kelas kembali terbuka. Seorang gadis muncul, memegang map transparan yang menyelipkan fotokopi raport. Nafasnya tersengal sedikit, pipinya memerah karena terburu-buru. Rambutnya dikepang longgar, dengan pita kecil warna krem di ujungnya. Di pin namanya tertulis: Safira N.
“Maaf, Pak. Saya terlambat. Bis translinenya berhenti lama di lampu merah,” katanya, jujur dan tidak berputar-putar.
Pak Surya menatap sebentar, lalu mengangguk. “Lain kali berangkat lebih awal, ya. Duduk di kursi kosong belakang dulu.”
Safira menunduk sopan. Saat ia melangkah lewat lorong meja, Ahmad menangkap aroma halus—campuran lotion murah dan wangi buku baru. Safira berhenti satu baris di belakang Ahmad dan Diva, lalu duduk. Kursi berderit lagi, tapi ia mengangkatnya sedikit sebelum diseret penuh, berusaha menjaga ketenangan kelas. Gerakan kecil yang menunjukkan pertimbangannya.
“Baik,” kata Pak Surya. “Kita lanjut. Baris ketiga, dari kiri ya.”
Diva menoleh sebentar ke Ahmad. “Giliran kita,” bisiknya. Ahmad mengangguk, merasakan ujung jarinya dingin lagi.
Diva berdiri terlebih dahulu. “Nama saya Diva Ayu, panggil Diva. Hobi membaca fiksi dan nonton video masak yang nanti nggak saya praktekkan. Cita-cita… hmm, pengin kerja yang bikin ketemu banyak orang. Mungkin PR atau jurnalis.” Cara bicaranya mengalir, tidak dibuat-buat, sesekali memancing tawa kecil.
Giliran Ahmad. Ia menarik napas. “Nama saya Ahmad. Hobi… menggambar, kadang nulis. Cita-cita belum pasti, tapi… mungkin pengin kerja yang bikin saya belajar hal baru tiap hari.” Suaranya sempat retak di kata “nama”, tapi setelah itu stabil. Ahmad duduk dengan lega yang terlihat.
Di belakang, Safira berdiri saat gilirannya. “Saya Safira. Suka dengerin lagu-lagu lawas dan motret hal yang orang lain anggap biasa. Cita-cita… pengin jadi orang yang bisa bikin rumah terasa rumah buat orang lain.” Kelas hening sepersekian detik, lalu beberapa kepala mengangguk. Ucapannya sederhana, tapi ada sesuatu yang menempel.
Perkenalan selesai, Pak Surya menulis jadwal pelajaran di papan tulis. Debu kapur melayang halus setiap kali spidol menabrak sisa kapur. Ahmad, tanpa sadar, bersin kecil—“Hacih!”—dan buru-buru minta maaf. Diva menahan tawa sambil menyodorkan tisu dari saku kecil di kotak pensilnya.
“Thanks,” kata Ahmad pelan.
“Sehat, Mas,” sahut Safira dari belakang, suaranya lembut. Ahmad menoleh, mereka bertukar senyum singkat yang canggung tapi hangat.
Pak Surya membagikan kertas data siswa. “Isi biodata singkat. Nanti tukar sama teman sebangku kalian, biar saling kenal. Setelah itu, saya minta kalian perkenalkan lagi teman sebangkumu ke kelas. Anggap sebagai latihan percaya diri.”
Diva menggosok telapak tangan. “Challenge accepted,” katanya ke Ahmad. “Tapi kamu jangan tulis yang aneh-aneh ya. Biar aku nggak malu pas presentasi.”
“Aku juga berharap kamu nggak tulis kalau aku barusan bersin,” balas Ahmad.
“Catatan emas itu justru harus dicantumkan,” canda Diva. Mereka tertawa pelan. Kertas biodata mulai terisi: nama lengkap, tanggal lahir, alamat, makanan favorit, lagu yang lagi diputar akhir-akhir ini.
Ahmad sempat berhenti lama di kolom “Satu hal yang ingin orang lain tahu tentangmu.” Ia menggigit ujung pulpen (kebiasaan buruk yang langsung diingatkannya sendiri). Di belakang, seperti membaca kebingungan Ahmad, Safira menyenggol meja depan pelan. “Kalau bingung, tulis ‘sedang belajar berani ngomong’. Itu juga informasi,” bisiknya.
Ahmad menoleh dan mengangguk. “Terima kasih,” katanya sungguh-sungguh. Safira tersenyum kecil, lalu kembali menulis.
Ketika waktunya saling memperkenalkan, Diva berdiri lebih dulu. “Ini Ahmad,” katanya, suaranya jelas. “Dia suka gambar dan nulis, suka ayam goreng—penting—dan lagi belajar berani ngomong. Dia orangnya… jujur, saya rasa. Kelihatan dari cara dia jawab tadi. Oh, dan dia bersin lucu. Poin plus.”
Kelas menahan tawa, Ahmad memegang keningnya, pasrah. Tapi ia ikut tersenyum. Giliran Ahmad memperkenalkan Diva. “Ini Diva. Dia suka baca fiksi, nonton video masak, dan mungkin akan jadi jurnalis yang cerewet. Dia… bikin orang lain gampang ngomong. Termasuk aku.” Kata-kata terakhir keluar lebih lancar dari dugaannya. Diva memberi jempol kecil.
“Bagus,” komentar Pak Surya. “Belajar melihat teman dari kacamata yang jujur dan baik.”
Jam pertama selesai. Kelas kembali ramai. Beberapa murid bertukar nomor, beberapa minta tolong fotokan jadwal. Kipas di langit-langit mengeluarkan suara “duk-duk” sesekali, seperti ada baut yang longgar.
Diva menepuk meja ringan. “Aku ke kantin bentar beli air. Mau titip?”
“Air putih aja,” kata Ahmad.
Safira berdiri dari belakang. “Aku ikut. Sekalian balikin uang kembalian tadi ke koperasi,” katanya menunjukkan kertas kecil yang dilipat.
“Eh, kamu duduk belakang kami ya,” kata Diva, baru sadar. “Tadi aku mupeng lihat pita kepangmu. Cakep.”
“Pita murah, beli di pasar,” balas Safira santai.
“Justru itu, kelihatan nggak berusaha,” puji Diva. “Ayok, bareng.”
Mereka bertiga berjalan di lorong, melewati poster lomba OSIS yang baru ditempel. Di kantin, antrean sudah mengular. Bunyi sendok menghantam dandang, wangi gorengan mengajak, tapi mereka menahan diri.
“Jadi kalian tinggal di area mana?” tanya Diva sambil menggeser barisan perlahan.
“Dekat lapangan bola,” jawab Ahmad. “Kalau pagi suka lewat gang belakang biar cepat.”
“Aku di perbatasan kota,” kata Safira. “Naik bus kecil warna krem. Tadi sopirnya nunggu penumpang lama banget. Makanya telat.”
“Pertama kali telat di hari pertama… itu kombinasi klasik,” kata Diva. “Tapi kamu tetap santai.”
“Dalam hati nggak,” Safira tertawa pendek. “Di bis aku latihan cara bilang ‘maaf telat’ biar nggak berantakan.”
“Latihan ngomong. Kita semua sama, berarti.” Ahmad ikut tertawa, merasa lebih ringan.
Mereka kembali ke kelas membawa tiga botol air mineral. Di meja, Ahmad menyadari pulpen miliknya bocor, tinta biru m*****i ujung jari. “Aduh.”
“Sebentar,” kata Safira. Ia mengeluarkan tisu basah dari saku tas kecilnya, menyodorkan pada Ahmad. “Ini efektif ngapus tinta. Tapi nanti jarimu jadi bau anggur.”
Ahmad menatap bungkus tisunya—aroma grape. “Aku rela,” katanya. Diva tertawa.
Pelajaran berikutnya kosong karena guru berhalangan. Pak Surya memanfaatkan waktu untuk permainan kecil: “Cari tiga persamaan dengan teman sebangku dan teman di belakang kalian. Boleh apa saja, hobi, warna favorit, atau hal remeh. Lalu salah satu presentasi.”
Diva menepuk tangan dua kali. “Oke, tim jendela, mari berkumpul.” Ahmad memindahkan kursinya sedikit, Safira maju mendekat.
Mereka mulai dari hal mudah.
“Warna favorit?” tanya Diva.
“Biru,” kata Ahmad.
“Hijau daun,” kata Safira.
“Abu-abu,” kata Diva. “Oke, itu gagal.”
“Genre musik?” lanjut Ahmad.
“Yang liriknya jujur,” Safira menjawab duluan.
“Indie yang lembut,” kata Diva.
“Aku dengar apa aja yang nggak bikin pusing,” jawab Ahmad, membuat keduanya tertawa.
“Persamaan… kita bertiga suka air putih dingin?” usul Safira, menunjuk tiga botol.
“Setuju,” kata Diva. “Kedua, kita sama-sama nggak suka derit kursi.”
“Setuju kuat,” Ahmad mengangkat tangan.
“Ketiga,” Diva menatap Ahmad dan Safira bergantian. “Kita bertiga lagi belajar ngomong lebih berani.”
Hening sebentar. Ahmad merasa kalimat itu menempel. Safira mengangguk pelan.
“Presentasi siapa?” tanya Ahmad.
“Kamu,” sahut Diva dan Safira bersamaan. Mereka saling pandang, lalu spontan tertawa. Ahmad menghela napas dramatis, lalu berdiri.
“Tim kami,” kata Ahmad, suaranya lebih yakin dari pagi tadi, “punya tiga persamaan: kami minum air putih dingin, kami tidak menyukai derit kursi yang seperti hantu tersinggung, dan kami bertiga… lagi belajar ngomong lebih berani.” Ia menoleh singkat ke Diva dan Safira. Mereka memberi isyarat jempol.
“Baik,” kata Pak Surya. “Saya catat yang terakhir. Itu target kelas semester ini.”
Bel masuk berbunyi. Suaranya nyaring, menggelitik udara. Beberapa murid bersorak, beberapa hanya menghela napas panjang. Ahmad merapikan buku. Diva memasukkan alat tulis ke kotak pensilnya, gantungan kecil di ritsleting berayun-ayun. Safira menulis sesuatu cepat di ujung kertas biodatanya, lalu merobek kecil dan menyodorkannya ke Ahmad dan Diva.
“Nomorku,” katanya singkat. “Biar kalau besok telat lagi, bisa nitip catatan.”
Diva mengedip. “Atau nitip gosip,” candanya. “Ini punyaku.” Ia menulis cepat, hurufnya rapi seperti garis penggaris. Ahmad sempat ragu, tapi akhirnya ikut menulis nomornya di kertas kecil untuk keduanya. Tangannya tidak sedisiplin Diva, tapi cukup terbaca.
Saat itulah, kejadian kecil yang tidak penting tapi mengikat terjadi. Ahmad mencoba membersihkan sisa debu di sudut meja dengan tisu basah aroma anggur tadi. Ia tidak sadar kalau ujung tisu tersangkut kaki meja. Ketika ia tarik, tisu mental—melayang parabolik sempurna—dan menempel di sepatu Pak Surya yang baru lewat di lorong.
Kelas hening satu detik. Ahmad membeku. Diva menutup mulut, menahan ledakan tawa. Safira refleks berdiri, hendak mengambil tisu itu, tapi keburu Pak Surya melihat ke bawah, mengangkat alis, lalu menatap Ahmad.
“Bau anggur?” tanya Pak Surya, tegas tapi bibirnya menahan senyum.
“Maaf, Pak. Saya… bersih-bersih,” jawab Ahmad, jujur tanpa alasan tambahan.
Pak Surya menghela napas dan akhirnya tertawa kecil. “Niat yang baik, eksekusi menyebar.” Ia melepas tisu dari sepatunya dan—entah kenapa—menempelkannya di sisi papan sebagai pengingat. “Lain kali, sampah ke tempatnya. Tapi terima kasih sudah peduli kebersihan.” Kelas meledak dalam tawa lega. Tegang yang tadi diam-diam menempel di pundak Ahmad lepas pelan-pelan.
Diva menunduk ke meja, tertawa sampai bahunya naik turun. Safira menyeka sudut matanya yang berair sedikit karena menahan tawa. Ahmad ikut tertawa, kali ini tanpa rasa bersalah.
Tawa mereka bertiga bertemu di udara seperti tiga garis yang akhirnya menyilang di satu titik. Bukan tawa yang keras atau berisik—tawa yang ringan, tulus, seperti seseorang menemukan hal kecil yang membuat hari jadi lebih bisa ditanggung. Untuk pertama kalinya sejak pagi, Ahmad merasa hari pertama SMA bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ada dua orang di dekatnya yang, entah bagaimana, membuat ruangan ini terasa lebih akrab.
Bel pulang belum berbunyi, tapi kelas pelan-pelan kembali ribut. Ada yang berdiri, ada yang bertanya tentang jadwal ekstrakurikuler, ada yang sudah sibuk merencanakan foto bareng. Di luar, angin menggerakkan pucuk merah. Sunyi dan bising bergantian masuk keluar jendela.
“Besok duduk sini lagi?” tanya Diva, seolah hal itu belum pasti tapi juga bukan sesuatu yang sulit.
“Kalau kamu datang tepat waktu,” goda Safira dari belakang.
“Kalau bisnya nggak drama,” balas Safira pada dirinya sendiri, tertawa kecil.
“Kalau kalian mau,” jawab Ahmad. Ia mengangkat botol airnya, menggoyang sedikit seperti membuat janji yang tidak perlu diucapkan keras-keras.
Diva mengangkat botolnya juga. “Untuk hari pertama yang… cukup bersejarah.”
Safira ikut mengangkat botolnya. “Untuk bangku berderit, papan berdebu, dan orang-orang baru.”
Mereka saling menyentuhkan botol pelan—klik kecil yang nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk mengikat momen. Lalu, tanpa direncanakan, mereka kembali tertawa oleh hal remeh: botol Safira tergelincir sedikit, hampir jatuh, dan Ahmad refleks menahan dengan pergelangan tangan—gerakan canggung yang justru membuat botolnya sendiri hampir tumpah. Diva menatap mereka berdua dan tertawa duluan, menularkan, sampai mereka bertiga tertawa bareng lagi.
Di tengah tawa itu, ada sesuatu yang diam-diam lahir. Sesuatu yang belum diberi nama, masih sederhana, masih kecil, tapi hangat. Persahabatan yang, suatu hari nanti, mungkin akan diuji oleh hal-hal yang tidak sederhana: perasaan yang tak lagi bisa disembunyikan, cemburu yang tak lagi bisa ditertawakan, pilihan yang tidak selalu bisa memihak semua orang. Untuk saat ini, mereka tidak perlu memikirkannya.
Untuk saat ini, di kelas yang masih berbau seragam baru, dengan papan tulis yang setengah bersih dan kursi yang suka berderit, mereka bertiga tertawa bersama untuk pertama kalinya. Dan itu cukup.