Hari-hari berikutnya berjalan seperti kaset yang mulai akrab di telinga. Kelas X-2 masih punya papan tulis yang malas dibersihkan, kursi-kursi yang suka protes tiap kali diseret, dan udara yang menyimpan wangi seragam baru—sedikit kapur, sedikit deterjen, sedikit jam istirahat yang selalu datang terlambat. Di baris dekat jendela, Ahmad dan Diva tetap satu meja. Safira masih di belakang mereka, jadi tiga titik yang kalau ditarik garis membentuk segitiga kecil bernama kebiasaan.
“Pagi, Tim Jendela,” sapa Safira setiap datang, menepuk pelan sandaran kursi Ahmad.
“Pagi, Ratu Pita,” balas Diva, menunjuk pita krem di ujung kepang Safira.
Ahmad mengangkat tangan singkat. “Pagi.” Senyumnya selalu telat satu detik, tapi makin hari telatnya makin tipis.
Mereka punya ritual sederhana. Diva menyalakan mode cerewet on: mengingatkan jadwal pelajaran, menegur kalau Ahmad lupa bawa penggaris, dan otomatis menyodorkan correction tape saat Safira salah tulis. Ahmad kebagian tugas mencatat rapi di buku kotak-kotak—tulisannya clean, hurufnya tegak lurus seperti barisan anak paskibra. Sementara Safira menjadi orang yang selalu punya barang tak terduga di tas: tisu basah aroma anggur, plester lucu, bahkan jarum pentul cadangan. Dari semua barang itu, tisu anggur jadi lelucon langganan. Setiap kali Ahmad bersin kecil karena debu, Diva akan berbisik, “Panggilkan tisu anggur,” dan Safira dengan gaya ala-ala pramugari akan menyodorkannya. Kelas sering tak paham lucunya di mana, tapi tawa mereka selalu kompak.
Istirahat pertama, kantin sekolah berubah jadi museum suara. Ada bunyi sendok mengaduk kuah bakso, denting gelas es teh beradu, piring melorot halus di meja plastik, dan obrolan yang melambung-lambung dari semua sudut. Udara hangat oleh penggorengan yang tak pernah mati. Wangi mendoan, bakwan, sosis goreng, dan cabai rawit menumpuk seperti antrean anak kelas X.
“Antreannya sabar banget ya,” gumam Diva, memeluk perutnya yang beberapa detik sekali berbunyi pelan—cukup untuk membuat Ahmad dan Safira saling melirik, menahan senyum.
“Perutku kayak bel sekolah,” kata Diva lagi. “Setiap lima menit bunyi.”
“Bedanya, bel sekolah punya jadwal,” sambung Safira.
Ahmad menahan tawa. “Oke, aku pesanin paket hemat tiga ya: nasi, tahu-tempe, sambal yang nggak terlalu sadis.”
Diva mengangguk semangat. “Plus es teh. Kurang manis, biar aku nambah gula.”
“Es teh juga, tapi no es batu kebanyakan,” tambah Safira.
Ahmad maju ke barisan, luwes untuk ukuran anak pemalu. Dia menghafal pesanan seperti hafal bait lagu. Ketika kembali ke meja, nampan di tangannya seperti misi: tiga piring nasi sederhana, dua porsi tahu-tempe, satu ayam goreng untuk dibagi, dan tiga gelas es teh yang mengembun.
“Kapten Ahmad, terima kasih,” ucap Diva, mengambil gelas sambil memiringkannya sehingga esnya berdenting kecil—suara yang entah kenapa selalu bikin nyaman.
Safira menempelkan telapak tangannya di dinding gelas. “Dingin pas. Ini definisi kebahagiaan kecil.”
Mereka makan pelan, berbagi ayam goreng tanpa perlu adil-adhilan. Diva biasa mencubit bagian kulit, Safira memilih daging dekat tulang, Ahmad mengambil sisa yang tersisa. Ada kalanya mereka diam—makan itu kegiatan sakral—tapi seringnya obrolan menggantung di antara bunyi sendok.
“Di kelas sebelah, wali kelasnya killer,” bisik Diva, menunduk seolah rahasia negara.
“Dari mana?” tanya Safira.
“Dari grup gosip kantin tadi,” jawab Diva santai, menunjuk barisan belakang. “Ada yang cerita barusan disuruh push-up gara-gara telat.”
“Untung wali kelas kita Pak Surya,” kata Ahmad. “Killer-nya cuma di kalimat: ‘eksekusi menyebar’.” Mereka bertiga tertawa, mengingat kejadian tisu anggur di sepatu.
Di meja sebelah, sekelompok anak laki-laki tertawa agak berlebihan, suara mereka menyeberang. Salah satu, berambut cepak dengan gelang karet di pergelangan, melirik ke arah mereka. “Eh, trio baru. Anak jendela ya?” suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup didengar.
Diva menoleh. “Iya, perlu rekomendasi menu?” tanyanya datar, nadanya nyaris ramah.
Anak itu—yang belakangan mereka tahu namanya Rio—nyengir. “Nggak, cuma heran aja. Baru masuk udah jadi trio nempel. Jangan-jangan besok bikin seragam kelompok.”
Safira menatap ayam goreng mereka yang tinggal tulang, memilih diam. Ahmad menundukkan kepala sebentar, menimbang kata. Sesuatu dalam dirinya—seperti latihan kecil dari babak-babak sebelumnya—mengusap suara takutnya. Ia menoleh pelan, menatap Rio sebentar, lalu berkata lembut, “Mungkin karena duduk dekat jendela, kami cepat jadi terang.”
Diva berkedip. Safira spontan tersenyum. Rio mendengus, tidak menemukan tanggapan yang cukup seru, lalu kembali ke obrolannya. Diva menunduk ke arah Ahmad, seolah rahasia. “Itu tadi… keren,” bisiknya.
“Spontan,” balas Ahmad, pipinya memanas halus.
“Spontan yang manis,” tambah Safira. Tatapannya singkat, tapi isinya hangat.
⸻
Selesai jam pelajaran, mereka punya kebiasaan pulang bareng sampai pertigaan dekat warung kelontong. Jalan menuju gerbang ramai seperti arus kecil. Lapak-lapak di luar pagar sekolah menggelar cilok dan es lilin; asap gorengan terseret angin, mengelus pelipis. Diva hampir selalu tergoda. “Cilok satu,” ucapnya sambil menghitung receh, dan kemudian menawarkan, “Mau?”
“Kalau aku makan, pulang telat,” kata Safira. “Busnya nggak mau nunggu.”
“Kalau aku makan, ibuku curiga,” sahut Ahmad. “Katanya kantin sekolah cukup.”
“Aku makan, kalian nonton,” simpul Diva. “Win-win.” Dan mereka benar-benar nonton. Cara Diva mengunyah cilok yang kepanasan—meniup, menghempas-hempas—lebih lucu dari yang ia sadari sendiri.
Di pertigaan, mereka selalu berhenti satu menit seolah menandai akhir film harian. Safira ke arah halte bus kecil warna krem; Ahmad dan Diva jalan lurus ke gang yang bercabang dua—nanti mereka berpisah lagi di sana.
“Besok ada matematika jam pertama,” kata Safira sambil mengecek jadwal di ponselnya. “Aku lemah di pecahan.”
“Bawa alat perang: penggaris, coretan bekas, dan keberanian,” jawab Diva.
“Dan tisu anggur jika pecahannya bikin nangis,” tambah Ahmad. Tiga detik kemudian, mereka bertiga tertawa.
⸻
Hari ketiga, gurauannya datang dari hal lain. Di kelas, Pak Surya membagi kelompok diskusi. “Kerjakan latihan dan presentasikan singkat,” katanya. Ahmad, Diva, dan Safira—entah karena takdir atau strategi—duduk berdekatan hingga otomatis jadi satu tim. Saat mereka mulai menulis, Riko—teman satu kelas, berbeda dari Rio kantin—melempar komentar dari belakang, separuh bercanda, separuh mengetes.
“Ahmad, kamu dikerjain cewek ya? Nanti presentasinya juga disuapin.” Di beberapa kelas, kalimat seperti itu hanya akan mengundang tawa.
Diva menoleh cepat, menaikkan alis. “Kalau ‘disuapin’ itu artinya kami saling bagi tugas, iya. Kenapa?”
Riko terkekeh, tapi meredup. Safira, yang biasanya paling lembut, menambahkan kalimat yang terdengar dingin kalau diukur, tapi hangat kalau dicermati: “Kita senang kok kalau ada yang mau gabung dan bantu kerja. Biar presentasinya makin bagus.”
Kalimat itu merontokkan suasana ‘kami vs kamu’ yang Riko coba bentuk. Ia kikuk sejenak, lalu mendekat. “Ya udah, bahan bacaan bab dua bagi dong,” ujarnya lebih normal. Tiga menit kemudian, Riko duduk kerja bareng, dan komentar ‘disuapin’ menguap seperti kapur yang ditiup.
Presentasi mereka mulus. Ahmad membaca poin utama, Diva menambahkan contoh, Safira menutup dengan ringkasan. Tepuk tangan kecil bermunculan. Di ujung jam, ada bisik-bisik yang mulai jadi pola: “Itu trio jendela,” kata beberapa anak, bukan merendahkan, lebih seperti memberi label lucu.
“Trio Jendela, hmm,” gumam Diva selepas pelajaran. “Kedengarannya seperti band indie.”
“Logo kita gambar daun,” sahut Ahmad.
“Dan konsernya di kantin,” tambah Safira. Mereka tertawa. Candaan mereka sederhana, tapi perlahan membentuk kulit luar persahabatan: hal-hal kecil yang hanya mereka pahami.
⸻
Seminggu berlalu. Kantin masih bising dengan cara yang sama, tapi meja di pojok kiri—yang dekat kipas dinding—tiap siang jadi tempat resmi mereka. Penjaga kantin sampai hafal gaya pesan: “Tiga es teh kurang manis,” begitu mereka mendekat, dan gelas-gelas bening dengan embun tipis sudah dipersiapkan, sendok kecil beradu—ting—memberi salam.
Suatu siang yang panas, Ahmad datang lebih dulu. Ia duduk, menumpuk buku pe-er matematika di sudut meja, lalu menggambar kecil-kecil di belakang kertas: sketsa tanaman pucuk merah, dua gelas es teh, dan pita krem. Masih kasar, tapi garisnya punya arah.
Diva tiba beberapa menit kemudian, rambutnya sedikit berantakan oleh angin lorong. “Aku nambahin gula terlalu semangat,” katanya sambil menyodorkan gelas es teh dengan warna lebih gelap.
“Gula itu krisis tak terlihat,” jawab Ahmad, menyeruput pelan. Gelasnya dingin, manisnya pas.
Safira datang terakhir, berkeringat tipis. “Bus kecilnya balapan sama angin. Aku kalah tipis,” katanya sambil duduk. Ia menarik napas panjang, menempelkan pipi ke gelas. “Aduh, surga portable.”
Mereka makan seperti biasa. Di tengah suapan, dua siswi dari kelas sebelah—Mila dan Rara—mendekat. “Boleh gabung? Meja lain penuh,” kata Mila.
“Boleh banget,” jawab Safira, geser memberi ruang.
Rara menoleh ke Diva. “Kalian tuh dimana-mana bareng, ya. Sampai di jalan pulang aku lihat. Lucu, kayak punya film sendiri.”
Diva menatap Ahmad dan Safira singkat. “Kami trio yang tidak sengaja,” katanya.
“Trio yang tepat,” timpal Ahmad.
“Trio yang… berat di es teh,” tambah Safira. Mereka tertawa lagi, nada kecil yang ringan.
Obrolan melebar ke cerita guru favorit, cara mencontek yang tidak patut ditiru, dan rumor lomba fotografi yang akan digelar OSIS. Saat Rara bilang, “Diva, kamu cerewet tapi ngangenin,” Diva pura-pura protes. “Tolong, ganti katanya jadi ‘informatif’,” lalu semua orang di meja itu tertawa.
Sebagai gantinya, ketika Mila nyeletuk, “Safira kalem banget, kayak radio volume 2,” Diva segera membela, “Justru suaranya jelas kalau kamu dekat,” dan Safira menatap Diva dengan senyum yang mengucap terima kasih tanpa suara. Ahmad tidak ketinggalan: ketika Mila setengah bercanda menyebut Ahmad terlihat “bocah baik-baik yang bisa ditipu abang cilok,” ia menjawab, “Aku memang baik, tapi lidahku tajam kalau ciloknya basi.” Meja meledak lagi.
Hal-hal seperti itu—kecil, sederhana, tidak heroik—membuat nama mereka beredar dengan cara yang menyenangkan. Bukan popularitas, hanya kehadiran yang mudah diingat. Di daftar piket, nama mereka sering berjejer; di tugas kelompok, guru kadang sengaja memisah, lalu menyerah, lalu menyatukan lagi karena presentasi mereka rapi.
Sore itu, sepulang sekolah, langit menjemur bumi. Jalan di depan gerbang seperti oven; aspal memantulkan cahaya. Penjual es lilin meraih rezeki. Ahmad membeli satu, membaginya dua dengan Safira dan Diva—bukan membelah betulan, hanya berbagi gigitan pertama, yang katanya paling nikmat. Mereka bertiga berjalan pelan sampai pertigaan.
“Kayaknya kita perlu aturan,” kata Diva tiba-tiba, menyeka keringat di dahi. “Semacam… perjanjian sahabat.”
“Pasal satu,” sambung Ahmad, “kalau salah satu telat, yang dua harus nyimpen kursi.”
“Pasal dua,” ujar Safira, “kalau ada yang diejek, yang lain bukan cuma membela, tapi bikin suasananya adem.”
“Pasal tiga,” Diva mengangkat botol air yang tinggal setengah, “es teh adalah bahasa cinta kita.”
“Bahasa cinta persahabatan,” tambah Ahmad cepat, pipinya kembali hangat.
Safira menertawakan pembetulan itu. “Setuju.”
“Pasal empat?” tanya Diva.
“Kalau salah satu sedih,” kata Safira pelan, “yang lain menunggu sampai sedihnya selesai, tanpa nanya-nanya yang bikin tambah berat.”
Keduanya mengangguk. Hening sebentar, bukan dingin—hening yang memeluk.
“Terakhir,” ucap Diva, “kita butuh upacara kecil.” Ia merogoh saku dan mengeluarkan… tisu basah aroma anggur. “Kontrak Tisu Anggur.”
Ahmad dan Safira spontan tertawa. Diva merobek tisu menjadi tiga bagian kecil. “Kita tempelkan di pergelangan tangan masing-masing, tanda sah,” katanya, sok serius.
“Bau anggurnya jadi saksi,” sambung Ahmad.
Safira menempelkan bagiannya, lalu mengangkat tangan. “Saksi yang manis.”
Mereka berdiri di tepi pertigaan, mengangkat gelas es teh masing-masing yang tinggal sisa-sisa, mengetukkan bibir gelas pelan—ting—seperti bel janji. “Untuk kita,” kata Diva.
“Untuk kita,” ulang Ahmad.
“Untuk kita,” Safira menutup, suaranya bening.
Sebelum berpisah, candaan kecil muncul begitu saja. Ahmad yang berjalan mundur sambil melambai hampir menabrak tiang listrik; Diva cepat menarik kerah seragamnya. “Woi, mas baik-baik yang tidak bisa ditipu abang cilok, jangan menipu tiang listrik,” katanya.
Safira terkikik. “Kalau ditanya nanti, bilang saja: ‘Kami sudah punya kontrak tisu anggur. Tolong hormati.’”
Mereka bertiga tertawa—ringan, lepas, pas. Di tengah riuh rendah sore hari, tawa itu jadi semacam garis bawah yang menegaskan hal sederhana: mereka bukan lagi tiga orang yang kebetulan duduk berdekatan, tapi tiga sahabat yang memilih berjalan berdampingan.
“Besok, jam tujuh kurang sepuluh, di jendela,” kata Diva.
“Siap,” jawab Ahmad.
“Siap,” sambung Safira.
Mereka saling melambaikan tangan sebelum berbelok ke arah masing-masing, membawa sisa rasa es teh di lidah, wangi gorengan yang menempel di baju, dan janji kecil yang terdengar sepele tapi terasa penting: untuk selalu jadi sahabat yang tak terpisahkan—apa pun nanti yang datang bersama cinta.