Pagi menempel pelan di jendela kelas. Udara membawa sisa hujan semalam—bau tanah basah yang tenang, seperti halaman buku yang baru dibuka. Ruang kelas masih sepi; hanya suara jam dinding yang mengetuk pelan dan sapu petugas kebersihan yang sesekali lewat di lorong—ras… ras…—mendorong daun-daun yang jatuh. Cahaya matahari masuk dari sisi timur, memantul di lantai ubin yang lembap, memantulkan kilau tipis.
Aku datang lebih awal karena tugas matematika menagih penggaris—dan penggarisku entah kenapa menghilang. Ahmad belum ada. Tasnya tertinggal di meja paling belakang, dekat jendela, sedikit terbuka. Beberapa buku terlihat keluar dari ritsleting, map mading menyembul, correction tape tergeletak miring. Pemandangan yang kukenal—kekacauan kecil yang rapi kalau dilihat pakai sayang.
Aku melangkah pelan, menaruh tasku di bangku sendiri, lalu menuju meja Ahmad. “Pinjam penggaris, ya,” kataku otomatis—seolah dia duduk di situ dan mendengar. Niatku polos, cepat, biasa. Aku menarik ritsletingnya lebar-lebar, mencari penggaris bening yang biasanya diselipkan bersama buku catatan.
Penggarisnya ketemu. Di bawahnya, ada sesuatu yang tidak biasa: lipatan kertas berwarna krem, sedikit kusut, diselipkan di antara halaman buku. Sudutnya basah tipis—seperti pernah terkena sesuatu yang jatuh dan diserap diam-diam. Di pojok atas, ada tulisan kecil, miring, nyaris ragu: Safira.
Aku berhenti. d**a rasanya ditarik perban yang tak terlihat. Ini mungkin tugas. Ini mungkin… apa pun selain yang kupikirkan. Tapi huruf kecil itu, miring itu, menabrak sesuatu yang sejak lama berusaha kuatur: ritme napas, posisi senyum, ketenangan yang kupelihara.
Aku mengetuk bibir dengan gigi—pelan, kebiasaan buruk yang kubenci tapi sering menyelamatkan. Penasaran datang seperti air di retakan—pelan, lalu penuh. Tanganku gemetar ketika meraih lipatan itu. “Hanya lihat judulnya,” bisikku pada diri sendiri. “Hanya memastikan.”
Jari-jariku membuka kertas itu seperti membuka sesuatu yang rapuh. Tinta gel hitam. Tulisan Ahmad—tegak, bersih, dengan garis yang kadang ragu di tepi. Di baris pertama, tidak ada judul. Hanya kalimat yang langsung jatuh ke dadaku.
Malam ini, aku menulis karena aku tidak punya tempat lain untuk menyimpan yang ramai.
Aku takut—karena perasaan bisa seperti air: menyusup dari celah paling kecil, tiba-tiba memenuhi kamar.
Napas di tenggorokanku menahan. Aku menelan. Mataku bergerak ke baris berikutnya, pelan, seperti seseorang yang tahu di depan ada tebing tapi tetap melangkah.
Aku nggak tahu sejak kapan, tapi setiap kali kamu tertawa, rasanya dunia berhenti sebentar.
Aku nggak tahu sejak kapan, tapi aku mulai menghafal yang tidak perlu kuhafal: arah cahaya di jendela, cara kamu menunduk saat membaca, pita krem yang menepuk pipimu kalau angin nakal.
Aku takut bilang, karena aku nggak mau kehilangan dua orang sekaligus—kamu, dan persahabatan kita.
Kata-kata itu sederhana. Tidak meledak. Tidak berpuisi berlebihan. Tapi setiap kalimat seperti batu kecil yang jatuh ke permukaan kolam di dadaku—riaknya membesar, menabrak tepi. Aku ingin berhenti membaca. Aku ingin menutup kertas itu, mengembalikan, pura-pura tidak pernah melihat. Namun mataku memaksa—pelan, tapi patuh.
Aku tahu kita bertiga adalah rumah yang kita dirikan bersama: kursi yang selalu kita simpan, tawa yang kita ulang, es teh yang jadi bahasa.
Aku takut pintu rumah itu goyah kalau aku menamai sesuatu yang selama ini sengaja kubiarkan tanpa nama.
Jadi malam ini, biarkan aku menamai tanpa menyuarakan—biarkan kertas ini menjadi satu-satunya saksi.
Di sudut kertas ada noda bening yang sudah mengering—bulat kecil. Aku menelusuri bekasnya dengan ujung kuku. Air mata. Entah kapan jatuhnya, entah milik siapa—tapi hatiku tahu. Dadaku memanas; mataku ikut basah, cepat, lalu kutahan. Bibir bawahku kutarik pelan, menggigit agar suara yang ingin keluar kembali ke tempatnya.
Aku meneruskan—karena kejujuran yang sudah terbuka tidak bisa setengah.
Aku baik-baik saja berdiri di sampingmu, memegang reflektor karton agar cahayamu tidak terlalu keras.
Aku baik-baik saja duduk satu setengah ubin darimu, mengukur jarak yang kita sebut “aman”.
Tapi hari-hari ini, aku tidak bisa membohongi diriku: aku selalu ingin menoleh lebih lama.
Udara kelas terasa pindah menjadi kaca. Aku bisa melihat debu menari di cahaya matahari yang lembut; bisa mendengar jam dinding mengetuk sabar; bisa mencium sisa hujan yang naik dari tanah. Di luar, pagi damai. Di dalam, ada badai kecil yang tidak berisik tapi menumbuk-numbuk dari dalam.
Baris terakhir menunggu, seperti akhir yang sudah kutahu tapi tetap kukira akan berubah jika tak k****a. Tanganku semakin gemetar; kertas bergetar sedikit, menghasilkan suara gesek samar di atas meja. Aku memaksa mata bergerak.
Aku nggak tahu kenapa setiap kali kamu tersenyum, aku ingin waktu berhenti.
Tapi bukan senyum kamu, Diva. Aku takut kehilangan Safira.
Ruang di sekitarku memendek. Kursi dan meja terasa menjauh. Ada suara sapu dari lorong, ada sinar yang menyentuh punggung tanganku, tapi rasanya dingin. Aku menutup mata sepersekian detik, lalu membuka lagi—karena lari, di saat seperti ini, tidak pernah benar-benar lari. Di bagian paling bawah, kecil dan ragu, seperti takut menyinggung halaman, tertulis sebuah nama. Safira.
Aku terdiam lama. Tidak marah. Aku menunggu marah, tapi yang datang adalah kecewa yang lembut, yang tidak menuntut balas. Perihnya bukan tajam; ia menyebar—hangat yang menyakitkan. Sakit yang tidak salah. Sakit yang tidak menyalahkan siapa pun.
Orang yang selama ini paling bisa menenangkanku—yang duduk di samping ketika nilai merah menampar, yang menaruh jaketnya di pundakku saat hujan—menyimpan cinta untuk orang lain. Bukan pengkhianatan. Bukan kebohongan. Hanya kebenaran yang menolak diundang.
Aku menutup surat itu perlahan, memastikan lipatannya kembali ke garis yang sama. Jari-jariku menyusuri tepi kertas, menghaluskan kusut yang kecil, seolah dengan begitu aku bisa menghaluskan sesuatu yang di dalam. Kutaruh kembali di tempat semula—di antara halaman buku catatan—menghadap arah yang sama. Penggaris yang tadi kucari tergeletak di meja; kuambil, kugenggam terlalu erat sampai telapak berkeringat. Aku menarik napas panjang, mengatur ulang wajahku di kaca jendela—mencari senyum yang bisa ditaruh tanpa bohong.
Langkah di lorong mendekat. Suara sepatu kets yang kukenal berhenti di ambang pintu. “Pagi,” suara itu. Ahmad masuk, rambutnya sedikit basah oleh sisa embun, map mading di tangan. Ia melihatku dan tersenyum—senyum yang selama ini menenangkan, yang hari ini terasa seperti jarum kecil.
“Pagi,” jawabku. Senyumku tipis, rapi, seperti pita yang diikat terlalu hati-hati.
“Pinjam penggaris, Div?” tanyanya ringan, bercanda—membalik kebiasaanku.
Aku mengangkat penggarisku—yang sebenarnya miliknya—sedikit terlalu tinggi. “Pinjam balik,” kataku, mencoba ikut tertawa. Suaraku hampir normal. Hampir.
Dari jendela, cahaya matahari menembus kaca. Hangatnya menempel di kulit, tapi yang kurasakan dingin. Pagi yang damai tetap damai. Hanya satu hati yang ribut, tapi memilih menata gaduhnya pelan-pelan.
Beberapa menit kemudian, Safira datang. Ujung pita krem di kepangnya memantul cahaya, seolah memiliki cahaya sendiri. Ia menyapa, duduk di belakang kami seperti biasa, membiarkan bangku-bangku menjadi saksi rutinitas yang kami banggakan. Aku menoleh sekilas—mencari benci, tidak menemukannya. Yang ada justru sesuatu yang mirip sayang, yang mematahkan.
Aku menatap keluar jendela. Pohon pucuk merah menahan sisa air, menjatuhkannya satu-satu. Tetesan itu jatuh di tanah, hilang tanpa suara. Di d**a, ada tetes yang tidak mau hilang, tapi juga tidak ingin dijadikan banjir. Kupeluk buku, menenangkan diriku perlahan.
Aku melipat kertas itu kembali di kepala—menutup halaman baru yang tidak kuminta, lalu menaruhnya di tempat yang tidak bisa dipinjam siapa pun. Rahasia itu akan tinggal di antara halaman buku Ahmad dan dadaku, berdiri seperti pagar yang tidak terlihat.
“Kadang,” bisikku kepada cahaya yang menempel di kaca, “yang paling menyakitkan bukan kehilangan cinta… tapi tahu sejak awal, cinta itu bukan untuk kita.”