Langit siang ini biru seperti cat baru—rata, halus, tanpa goresan awan. Seolah dunia sedang baik-baik saja. Seolah kemarin tidak pernah ada surat warna krem dengan nama kecil di pojoknya yang menggeser keseimbanganku beberapa derajat. Di lorong, bau kapur dan tanah basah sisa hujan semalam bertabrakan pelan. Sinar matahari menabrak kisi-kisi jendela, jatuh jadi kotak-kotak terang di lantai. Hangat di kulit, dingin di d**a.
Aku duduk di barisan depan, sesuatu yang jarang kulakukan. Biasanya aku memilih dekat jendela, dekat tawa. Hari ini aku ingin dekat papan tulis, dekat huruf-huruf, dekat hal yang bisa kugenggam tanpa takut berubah. Pulpen kugulung-gulung di jari, buku catatan kubuka, halaman kosong menunggu. Di belakangku, suara Safira tertawa—kecil, jernih, menempel di udara. Ahmad ikut tertawa pelan. Aku membiarkan suara itu melewati tubuhku seperti angin yang menolak masuk.
“Aku minjem penggaris ya, Div.” Safira berdiri di samping bangkuku, senyumnya seperti biasa: sopan, tulus, tidak mencurigai apa-apa. Matanya bening. Pita krem di ujung kepangnya menangkap cahaya kecil.
“Ambil saja,” sahutku, menggeser kotak pensil. Suara yang keluar terdengar normal. Itu kabar baik. Tanganku tidak lagi gemetar seperti pagi kemarin.
“Kamu duduk depan?” tanya dia, nada heran yang ramah.
“Sekali-kali jadi anak teladan,” jawabku, memasang wajah lucu. Safira tertawa lagi, mengucap terima kasih, lalu kembali ke belakang. Ahmad menyusul—aku bisa merasakan gerakannya meski tidak menoleh. Ada jeda yang kutahu adalah tatapan—bukan untukku.
Aku menunduk lebih dalam. Di margin buku, kutulis kalimat kecil, seperti menggulung perih menjadi kata agar tidak liar ke mana-mana:
Terkadang yang paling kuat bukan yang tak menangis,
tapi yang bisa tersenyum saat hatinya retak perlahan.
Huruf-hurufku agak miring. Aku coret sedikit, rapikan lagi. Seperti merapikan diriku sendiri: tidak sempurna, tapi harus cukup untuk hari ini.
Pelajaran dimulai. Suara Bu Rani merapikan definisi, rumus, contoh soal. Kapur menari di papan, debunya melayang seperti salju versi sekolah. Aku menulis cepat, nyaris tanpa jeda—mengejar ritme guru supaya tidak memberi ruang untuk pikiran yang ingin balik ke surat itu. “Tapi bukan senyum kamu, Diva.” Kalimat itu masih ada di telinga. Sederhana, jujur, dan tajam dengan cara yang tidak kejam.
“Diva,” panggil Bu Rani. “Contohkan nomor dua.”
Aku bangkit. Lututku terasa kosong sebentar, tapi suaraku stabil. Aku menulis langkah-langkah di papan, tangan tidak bergetar. Kucari arah ke kelas—bukan ke belakang. Di sela-sela, aku menangkap bayangan di kaca jendela: tiga sosok yang kukenal, satu berdiri di depan, dua duduk di belakang. Segitiga kecil yang selama ini seperti rumah. Segitiga yang tiba-tiba punya sisi yang panjangnya berubah.
“Bagus,” kata Bu Rani. Aku mengangguk, kembali duduk. Di perjalanan, aku lewat di dekat bangku mereka. Safira melirik, memberi jempol kecil. Ahmad tersenyum—senyum yang dulu membantu menenangkan degupku. Hari ini, senyum itu seperti menekan luka yang kusimpan rapi. Sakitnya halus, seperti kertas tajam yang tak terlihat.
Istirahat. Kantin mendidihkan siang: piring beradu, suara minyak mendesis, es batu yang berpindah gelas. Aku memutuskan tidak ke kantin. “Aku titip es teh kurang manis,” kataku ke Ahmad ketika ia melewati bangku, mengangkat map mading. “Sama bakwan satu. Kalo habis, pisang.”
“Siap, bos PR,” jawabnya sembari menepuk ringan meja. Itu panggilanku di antara kami—Penjaga Rasa. Aku mengangguk, memperbaiki duduk. Sepeninggal mereka, kelas jadi lebih lapang sekaligus lebih sempit.
Aku menatap kursi-kursi kosong. Kursi jendela kami, yang dulu sering protes dengan derit panjang, berdiri diam. Meja yang pernah meminjam bau tisu anggur seolah punya mulut, ingin mengingatkan hal-hal yang kusuruh diam. Warung kecil di dekat gerbang—tempat berteduh saat hujan—menyelinap di kepala: atap seng, uap teh, jaket Ahmad di pundak Safira. Aku menutup mata sedetik. Membuka lagi. Dunia tetap baik-baik saja; hati tetap tidak.
Safira kembali duluan, membawa dua gelas es teh mengembun. “Div,” katanya, meletakkan satu gelas di mejaku. “Aku ambil bakwan. Pisang habis.”
“Terima kasih,” jawabku. Aku sengaja menatap matanya. Ia tidak tahu. Ia tidak bersalah. Kau tidak apa-apa, Safira, batinku. Izinkan aku belajar tidak apa-apa juga.
Ahmad menyusul dengan piring bakwan. “Satu untuk ketua tim,” katanya. “Kalau nilainya kurang renyah, protes ke dapur.”
“Nilai bisa naik,” selorohku, “asal semangat penggorengan tidak turun.” Kalimatku keluar karena meminjam candaan lama. Mereka tertawa kecil. Tawa kami normal—atau cukup mirip normal untuk menipu otak, tidak untuk menipu d**a.
Kami membicarakan mading. Aku menyusun ulang caption supaya lebih “bernapas”. Safira menunjukkan foto koridor sore dengan cahaya miring, indah sekali. Ahmad memberikan ide letak teks yang tidak menutup garis cahaya. Pekerjaan membuat kami bertiga kembali menjadi mesin kecil yang cekatan. Setiap “bagus”, “boleh”, “setuju” adalah paku yang menahan papan agar tidak melengkung. Sesekali, aku menangkap tatapan Ahmad ke Safira—lembut, bukan sok. Tepat di situ, ada jarum halus yang menekan dadaku. Sakit yang bisa ditahan dengan cara paling sederhana: tersenyum.
“Div, kamu besok bisa bantu aku ngerapihin catatan sejarah?” tanya Safira.
“Bisa. Kirim fotonya malam ini,” jawabku. “Aku rapikan bullet points-nya.”
“Terbaik,” katanya. Pita kremnya menari kecil ketika ia mengangguk.
Pelajaran lanjut. Suhu kelas turun karena AC yang akhirnya taat. Bu Rani memberi latihan singkat, mengelilingi barisan. Aku selesai duluan. Kumasukkan kertas, kutengok jam, lalu kubuka lagi buku catatan. Di halaman yang sama, di bawah puisi kecil tadi, kutambah satu kalimat, pendek, seperti menambal retak:
Kuizinkan hari ini lewat tanpa aku mengubah apa-apa.
Bel istirahat kedua. Siswa-siswa lain ribut soal rencana ekskul. Aku berdiri, merenggangkan punggung. Ahmad menghampiri dari belakang, berdiri di sisi mejaku. “Div,” panggilnya pelan. “Kamu nggak apa-apa?”
Pertanyaan sederhana. Mata yang benar-benar memperhatikan. Tiba-tiba sulit bernapas karena beberapa alasan sekaligus. Aku menatapnya lama—cukup lama untuk melihat garis kecil yang terkadang muncul di tepi matanya saat ia cemas. Di belakang, Safira melihat ke arah kami, lalu menunduk lagi, memberi ruang seperti hanya dia yang bisa.
“Aku…” aku menelan. Senyumku muncul perlahan, bukan untuk menghiburnya, bukan untuk menipu siapa pun. Untukku. “Aku nggak apa-apa.”
“Kalo butuh apa-apa—belajar, catatan, ditemani ke kantin—bilang,” katanya. Nada yang sama yang dulu, berkali-kali, menyelamatkan hariku.
“Bilang,” sahutku. “Kamu juga.”
Dia mengangguk. Diam itu tidak canggung. Hanya berat, seperti buku yang terlalu banyak diselipkan kertas di dalamnya.
Sisa jam pelajaran berjalan seperti air yang tahu jalan pulang. Aku menyapa teman sebelah, mengajari dua nomor yang ia bingung, mengembalikan penggaris Ahmad yang tadi kupinjam—memastikan segala sesuatu di permukaan kembali ke tempatnya. Saat Pak Surya masuk sebentar mengumumkan jadwal piket, aku mengangkat tangan refleks: “Nama saya ditulis ya, Pak.” Semua itu kulakukan dengan wajah yang akrab untuk semua orang—Diva yang cerewet, rapi, informatif, yang siap tertawa duluan agar yang lain berani tertawa. Tidak ada yang tahu bahwa di antara tawa, ada jeda yang makin sering kututup dengan menunduk.
Jam pulang. Suara kursi berderit seperti paduan suara yang tak pernah latihan. Matahari condong, menaruh garis-garis panjang di lantai. Ahmad merapikan map mading. Safira memasukkan botol air ke tas. Mereka saling menunggu, seperti biasa. Aku memperlambat gerak, pura-pura sibuk memasukkan buku, menata pensil warna.
“Kami duluan ke gerbang, ya?” Safira melambai kecil. “Kamu nyusul?”
Aku mengangkat tangan. “Nyusul.”
Mereka berdua berjalan berdampingan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Biasa. Sangat biasa. Aku menatap punggung mereka dari jauh. Di antara banyak punggung lain yang bergerak ke arah yang sama, punggung dua sahabatku ini paling mudah kutemukan—bukan karena aku menghafal bentuknya, tapi karena aku menghafal rasanya.
Angin sore berembus dari arah lapangan, membawa bau rumput yang baru disentuh matahari. Rambutku terlepas menutupi separuh wajah. Syukur. Setengah wajah cukup untuk menyembunyikan mata yang nyaris berlinang. Aku berdiri sejenak, membiarkan lorong perlahan kosong. Suara hari mengecil.
“Aku nggak apa-apa,” bisikku—nyaris tak terdengar, terutama oleh diriku sendiri. Aku mengulang sekali lagi, lebih pelan, agar tidak terdengar seperti kebohongan.
Aku tersenyum. Bukan untuk menyenangkan siapa pun. Bukan untuk menunjukkan apa pun. Hanya cara paling halus untuk menenangkan diriku sendiri—menaruh tangan di kepala, bilang: sabar, kita lewatkan hari ini. Lalu aku melangkah, menjemput bayangan panjang di lantai, menjemput diriku yang masih belajar menjadi baik-baik saja di dunia yang tampak baik-baik saja.