Aula sore itu seperti d**a yang ditarik-tarik cahaya. Lampu-lampu panggung menyilau, tirai merah tergulung separuh, dan tepuk tangan memantul di langit-langit seperti gelombang yang tidak selesai-selesai. Aku duduk di barisan ketiga dari depan—jauh dari pintu, dekat dari panggung. Buku catatan biru kupeluk di d**a, seperti bantalan kecil yang tidak bisa benar-benar menahan apa pun. Di panggung, Ahmad dan Safira berdiri di bawah sorot kuning. Orang-orang menyebut ini pentas seni. Bagiku, ini kenyataan yang sengaja dipentaskan di depan mataku sendiri.
Aku berusaha terlihat tenang. Setiap kali penonton tertawa pada adegan lucu—dialog ringan tentang bangku taman, tentang keterlambatan yang dijadikan alasan—aku tersenyum. Topeng itu pas di wajah, tapi longgar di hati. Senyum terasa seperti pita yang diikat terlalu kencang: rapi, tapi membuat napas pendek.
Cahaya panggung menaruh kilau di rambut Safira, mengekalkan pita krem di ujung kepangnya seperti tanda seru yang lembut. Ahmad berdiri setengah langkah di sisinya, suaranya tenang—tenang yang selama ini kupahami, tapi malam ini terdengar seperti sesuatu yang baru. Dari tempatku, aku melihat hal-hal kecil yang penonton lain mungkin tidak peduli: cara Ahmad mencondongkan badan setipis angin waktu Safira lupa satu kata, cara Safira mengembalikan tatapan seperti mengenali rumah. Bahkan diam di antara kalimat pun terasa hidup—seolah-olah kata-kata sengaja memberi ruang pada dua jantung yang sedang belajar berbicara tanpa bunyi.
Tepuk tangan datang berlapis. Jauh di belakangku, kursi-kursi berderit, bergeser, seperti kawan lama yang ikut antusias. Di barisan paling depan, kamera sekolah berkedip. Semua orang tampak bahagia, dan aku ikut meminjam bahagia itu beberapa detik, lalu mengembalikannya sebelum ketahuan.
Tangan kiriku tanpa sadar naik ke d**a, menekan permukaan baju tepat di atas jantung. Bukan cemburu. Cemburu terdengar ribut. Yang kurasakan sunyi—semacam kehilangan yang tumbuh diam-diam seperti lumut di batu, hijau tetapi dingin saat disentuh. Kalimat yang kusimpan untuk menenangkan diri muncul, tapi ringan seperti kertas: Aku bangga sama mereka. Kubisikkan pelan di kepala, mengulang dua kali, tiga kali. Tetap hampa. Hampa yang sopan.
Di panggung, naskah bergerak seperti jam. Ada adegan berdebat kecil, ada adegan saling menertawakan kebodohan sendiri. Lalu kalimat itu turun seperti hujan yang tidak ditangkap payung: “Cinta bukan untuk dimiliki… cukup disyukuri dari jauh.” Tokoh Ahmad mengucapkannya, tokoh Safira menatap, penonton menarik napas bersama. Di bangku, aku menelan sesuatu yang rasanya seperti tepi kertas—tipis, tajam, menggores dari dalam.
Aku menunduk, pura-pura membetulkan tali sepatu. Di sela-sela jari, aku melihat ubin aula yang licin oleh pijakan ribuan siswa, melihat debu tipis di tepi bangku kayu yang tidak dibersihkan sempurna. Jari-jariku gemetar kecil saat menarik tali—padahal tidak longgar. Ada air yang berkumpul di ujung mata, sudah siap, menunggu alasan. Kukasih alasan lain: sepatu harus rapi. Kupaksa tatapanku kembali ke panggung sebelum ada yang melihat mata yang mulai berkaca-kaca.
Sorot lampu bergeser; adegan duduk di bangku taman. Musik organ teratur, mengalasi dialog yang makin pelan—semakin sedikit kata, semakin banyak yang dikatakan. Ahmad menoleh sebentar ke arah penonton—bukan mencari siapa saja, aku yakin, tapi gemetar kecil di d**a membuatku merasa seolah-olah tatapan itu sengaja mencari celah di wajahku. Safira berbicara tentang masa depan yang tidak bisa ditebak, Ahmad menanggapi tentang takut kehilangan yang tidak pernah selesai.
Aku menyalakan rekam di ponsel, padahal tim dokumentasi sudah punya kamera resmi. Mungkin aku hanya ingin punya bukti suara, satu hari nanti, kalau aku menyangkal bahwa aku pernah duduk di sini, pernah menonton dua orang yang kusayangi berubah menjadi tokoh yang lebih jujur dari kami bertiga di luar panggung.
“Kalau kita jatuh,” suara Safira, jernih, “jatuhnya pelan-pelan, ya. Biar nggak sakit.”
“Pelan-pelan,” sahut Ahmad. “Biar tetap bisa duduk di bangku yang sama.”
Penonton tertawa tipis, lalu tepuk tangan—entah karena lucu, entah karena lega. Untuk beberapa detik, aku membiarkan tubuhku ikut ritmenya. Aku menyandarkan punggung, memeluk buku catatan lebih erat. Di sampulnya ada bekas sidik jari lembar dekor kemarin, berpasir halus di ujungnya. Aneh, betapa benda kecil bisa terasa seperti jangkar.
Sorot lampu meredup tanda adegan akhir. Musik mengalun, menurunkan ketegangan sampai tinggal cahaya temaram lampu jalan kardus di panggung. Ahmad dan Safira duduk berdampingan tanpa bersentuhan—jarak diukur cermat oleh guru teater, juga mungkin oleh hati mereka sendiri. Ketika tirai mulai bergerak menutup, tepuk tangan meletup. Barisan di belakang berdiri duluan, domino yang menyapu aula. Aku ikut bangkit.
Aku bertepuk tangan paling keras. Begitu keras sampai telapak tangan panas dan perih. Aku tersenyum—senyum lebar yang diajarkan panggung: tunjukkan gigi, tahan air. Tapi dari sudut bibirku, ada getar kecil yang tidak bisa disuruh berhenti. Dunia terasa melambat ketika Ahmad menatap ke arah penonton. Satu detik, dua detik—mata kami bertemu. Bukan lama. Cukup untuk membuat satu detik itu punya berat bertahun-tahun. Lalu aku cepat-cepat menunduk, membiarkan rambutku jatuh menutupi pipi, menyeka ujung mataku sebelum sempat jatuh di hadapan siapa pun.
Tirai menutup habis. Lampu panggung padam setengah, diganti cahaya putih dari atas aula yang terasa dingin. Kerumunan bergerak ke arah pintu seperti arus yang hafal jalan pulang. Tawa-tawa bergaung, pujian-pujian bertebaran, “keren”, “bikin baper”, “chemistry-nya real banget”—kata-kata yang solider, meski bagiku terdengar seperti kerikil-kerikil kecil yang dilempar ke permukaan hati.
Aku tetap duduk. Buku catatan masih kupeluk, kertas-kertas di dalamnya bergeser pelan mengikuti detak. Di panggung, panitia mulai membereskan benda-benda palsu yang tadi terlihat sangat sungguh: lampu jalan kardus; bangku kayu yang sebetulnya goyang kalau diduduki terlalu condong; pot tanaman dari botol bekas. Satu per satu lampu sorot padam, suhu udara turun. Tepuk tangan terakhir meredup di langit-langit, menyisakan dengung kecil speaker yang lupa dimatikan.
Safira dan Ahmad tidak terlihat dari kursiku. Mungkin mereka sedang di sayap panggung, minum air, menunduk malu menerima selamat, atau hanya berdiri berdua di belakang tirai sambil menertawakan ketegangan mereka sendiri. Aku membayangkan itu dan, untuk beberapa detik yang jujur, aku ikut tersenyum. Lalu senyumnya pecah, pelan, tidak bersuara.
Aula mulai kosong. Kursi-kursi ditinggalkan dengan bunyi “klik” halus. Penjaga listrik mematikan tombol lampu satu demi satu; cahaya jatuh mundur seperti baris-baris kalimat yang sengaja dihapus. Dari jendela tinggi di sisi timur, sisa cahaya sore merayap, menebalkan debu di udara, menaruh garis tipis di pipiku.
Aku menarik napas panjang, merasakan berat di d**a yang akhirnya memilih duduk juga. “Aku nggak akan ganggu kebahagiaan mereka,” bisikku—pelan, hanya untuk kursi kosong di kiri-kananku. “Tapi boleh kan… aku sedih sebentar?”
Tidak ada jawaban. Tidak perlu. Aku menatap panggung yang sekarang gelap, hanya menyisakan siluet bangku kecil yang tadi jadi saksi. Kertas catatan di pelukanku mengerut karena keringat handal. Kubuka halaman terakhir, tanpa menulis apa pun. Kosong yang rapi kadang lebih jujur dari kalimat panjang.
Ketika akhirnya aku berdiri, kursi yang kutinggalkan tidak berderit. Seolah-olah ia pun belajar menahan suara. Aku berjalan pelan melewati lorong, membiarkan gema langkahku jadi musik penutup—sendiri, ringan, tapi bergaung. Di pintu aula, angin sore menjemput, membawa wangi debu halus dan sisa parfum panggung. Aku tersenyum sekali lagi—kali ini untukku—dan melangkah keluar, meninggalkan panggung yang diam, menuju malam yang, entah bagaimana, akan terus berjalan.