Pagi setelah pentas seni terasa seperti halaman baru yang masih lembap. Udara di sekolah segar dan bersih; rumput di taman belakang memantulkan titik-titik embun yang memantul sinar matahari lembut, seolah menata suasana agar semuanya tampak baik-baik saja. Angin pelan membawa wangi tanah yang baru disapu, juga bau cat poster yang masih samar dari aula. Di kejauhan, terdengar bunyi barang-barang digeser—kru dan beberapa siswa membantu guru memindahkan properti panggung. Di antara suara itu, kudengar juga suara yang kukenal: tertahan, sopan, memberi komando kecil pada yang lain. Ahmad. Ia tidak di sini; ia ada di aula, di antara lampu jalan kardus dan bangku kayu yang semalam jadi saksi.
Di bangku kayu taman belakang—tempat biasa kami bertiga duduk—hanya ada aku dan Diva. Ia menepuk-nepuk