Berita bahwa seseorang menggunakan identitas Nesia untuk membuka kotak penyimpanan menghapus suasana hangat di antara mereka. Remy langsung meminta bank menutup seluruh akses dan menyimpan rekaman kamera.
"Identitas saya pernah diberikan Tita kepada Dona," ujar Nesia.
"Tetapi wajah pada kartu berbeda dengan Dona," jawab Remy. "Petugas bank seharusnya menyadarinya."
"Bagaimana jika ada orang dalam?"
"Itu akan diketahui besok."
Pagi hari, mereka tiba sebelum bank dibuka. Kepala cabang membawa rekaman transaksi. Seorang perempuan memakai kerudung dan kacamata hitam datang dengan salinan identitas Nesia serta surat kuasa yang terlihat resmi.
Ketika perempuan itu melepas kacamata untuk verifikasi, wajahnya sangat mirip dengan Nesia.
"Itu bukan saya," ujar Nesia tegas.
Remy menghentikan gambar dan memperbesar wajah. Perempuan tersebut memiliki bentuk mata serta garis rahang yang hampir sama, tetapi terlihat beberapa tahun lebih tua.
"Apakah Nyonya Sandra memiliki anak lain?" tanya kepala cabang.
"Tidak setahu saya," jawab Nesia.
Petugas yang melayani transaksi dipanggil. Dia mengatakan sistem verifikasi menerima wajah dan sidik jari perempuan itu. Surat kuasa juga memiliki cap notaris Gunawan.
"Tidak mungkin sidik jarinya sama," ujar Remy.
"Mesin kami mencatat kecocokan sembilan puluh dua persen," jawab petugas.
Lukas memeriksa perangkat dan menemukan data biometrik di dalam sistem sudah diganti sehari sebelum transaksi. Seseorang dengan akses administrator mengubah profil Nesia.
Kotak penyimpanan akhirnya dibuka di hadapan mereka. Isinya kosong kecuali secarik kain dengan lambang bunga seruni.
"Orang itu sudah mengambil lampiran surat wasiat," kata Remy.
Nesia memperhatikan rekaman sekali lagi. Cara perempuan tersebut berjalan terasa tidak asing. Dia pernah melihatnya di panti, meskipun hanya dari jauh.
"Saya pikir dia pernah menjadi pengurus di Panti Kasih Bunda," ujar Nesia. "Namanya Ratih. Dia pergi ketika saya berusia sekitar sepuluh tahun."
Ibu Maria dihubungi dan membenarkan bahwa Ratih pernah bekerja di panti. Perempuan itu datang membawa rekomendasi dari donatur, lalu menghilang setelah seorang pengurus mengalami kecelakaan.
"Apakah dia memiliki hubungan dengan keluarga saya?" tanya Nesia.
Ibu Maria terdiam sebelum menjawab. "Ratih mengaku sebagai adik Sandra."
Dina yang ikut mendengar melalui sambungan video langsung membantah. Sandra tidak memiliki adik perempuan. Dia adalah anak tunggal keluarga Maheswari.
"Berarti dia menggunakan identitas palsu sejak dulu," simpul Lukas.
Rekaman pintu keluar menunjukkan Ratih menyerahkan sebuah map kepada seorang lelaki di parkiran. Wajah lelaki itu tidak terlihat, tetapi mobilnya terdaftar atas nama salah satu anak perusahaan Wijaya Group.
Remy meminta polisi menyebarkan foto Ratih. Kepala cabang menyerahkan daftar akses sistem dan menemukan perubahan data dilakukan menggunakan akun manajer teknologi bernama Bagus.
Ketika dicari, Bagus sudah mengundurkan diri sehari setelah transaksi. Alamat rumahnya kosong.
"Armand menempatkan orang di mana-mana," ujar Nesia. "Bagaimana kita bisa mempercayai siapa pun?"
Remy menggenggam tangannya. "Kita mempercayai satu sama lain. Yang lain harus dibuktikan."
Ucapan itu membuat Nesia teringat ciuman malam sebelumnya. Di tengah ancaman yang semakin besar, setidaknya ada satu hal yang mulai terasa pasti di antara mereka.
Mereka kembali ke rumah sakit untuk menemui Sandra dan menunjukkan foto Ratih. Begitu melihatnya, Sandra langsung pucat.
"Namanya bukan Ratih," katanya. "Dia Rania, putri Adrian dari pernikahan pertamanya."
"Mengapa wajahnya mirip saya?" tanya Nesia.
"Karena ibu Rania adalah sepupu saya. Keluarga kami memiliki banyak kemiripan. Adrian membawanya masuk ke panti untuk mengawasi kamu."
Sandra menjelaskan bahwa Rania membenci keluarga Maheswari karena ibunya tidak pernah diakui. Setelah Adrian meninggal, Rania bekerja untuk Armand dengan imbalan sebagian saham.
"Apa isi lampiran yang diambilnya?" tanya Remy.
"Daftar pemilik asli saham dan rekaman transaksi ilegal Armand. Tetapi ada satu dokumen yang jauh lebih penting," jawab Sandra. "Surat pengakuan seseorang yang membantu membawa Nesia dari rumah saat kebakaran."
"Siapa orang itu?"
Sandra menatap Remy dengan rasa takut. "William Wilson. Ayahmu."
Remy membeku. "Papa saya terlibat?"
"William tidak membakar rumah," kata Sandra cepat. "Dia menyelamatkan Nesia dan membawanya ke panti. Tetapi dia juga berjanji kepada Armand untuk tidak pernah mengungkap siapa yang memerintahkan kebakaran."
Kenangan tentang ayahnya muncul bergantian dalam benak Remy. William selalu mengajarkan bahwa nama keluarga harus dijaga dengan kejujuran, tetapi kini nama itu terhubung dengan kebakaran dan bayi yang disembunyikan.
"Bagaimana Anda mengenal Papa?" tanyanya.
"William adalah sahabat Armand ketika mereka muda," jawab Sandra. "Mereka membangun usaha bersama sebelum akhirnya bersaing. Pada malam kebakaran, William datang karena menerima telepon dariku. Dia berhasil masuk dan membawa Nesia keluar melalui pintu belakang."
"Mengapa dia tidak menyerahkan Nesia kembali kepada Anda?"
"Saya tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Armand mengatakan aku meninggal dan meminta William membawa bayi ke tempat aman. Setelah mengetahui aku masih hidup, William ingin mengembalikan Nesia. Tetapi Armand mengancam akan membuka sesuatu mengenai istri William."
Nesia menggenggam tangan Remy. Lelaki itu terlihat semakin pucat setiap kali nama ibunya disebut.
"Apakah Ibu saya mengenal Armand?" tanya Remy.
Sandra mengangguk pelan. "Kami pernah berada dalam lingkaran pertemanan yang sama. Ibumu mengetahui banyak hal tentang transaksi ilegal Armand. Beberapa hari sebelum meninggal, dia berniat menyerahkan bukti kepada polisi."
"Ibu meninggal karena kecelakaan mobil."
"Itulah yang dikatakan semua orang."
Remy menarik tangannya dari genggaman Nesia dan berjalan menuju jendela. Selama bertahun-tahun dia menerima kematian ibunya sebagai kecelakaan. Jika Armand terlibat, kebencian yang diarahkan kepada Lukas dan ibunya selama ini berdiri di atas kebohongan.
"Papa tidak pernah mengatakan apa pun," gumamnya.
"Mungkin dia juga diancam," ujar Nesia.
"Atau dia memilih melindungi nama keluarga daripada mencari keadilan untuk Ibu."
Sandra meminta Nesia mengambil buku kecil dari dalam tasnya. Buku itu memuat catatan pertemuan William dengan Sandra setelah kebakaran. Pada halaman terakhir, William menulis bahwa bukti kematian istrinya disimpan bersama lampiran surat wasiat Maheswari.
"Itulah dokumen yang baru saja diambil Rania," kata Remy.
"Belum tentu semuanya," ujar Sandra. "William selalu membuat salinan untuk melindungi diri. Dia meninggalkan satu petunjuk: tempat pertama kedua putranya belajar menjadi saudara."
Remy mengerutkan kening. Dia dan Lukas tidak pernah merasa belajar menjadi saudara di mana pun. Sejak Lukas datang ke rumah, Remy justru selalu menjaga jarak.
Nesia teringat foto di tangga rumah yang menunjukkan Remy dan Lukas kecil di depan vila kayu dekat danau. Tempat itu mungkin menyimpan jawaban yang mereka cari.
"Kuncinya dipegang Anton," ujar Remy setelah mengenali vila tersebut. "Jika Armand menangkapnya, mereka mungkin sedang menuju ke sana."
Remy merasa seluruh keyakinannya runtuh. Ayah yang selama ini dianggap tegas dan terhormat ternyata menyimpan hubungan dengan kejahatan keluarga Wijaya.
"Mengapa Papa melindungi Armand?"
"Karena Armand mengetahui rahasia mengenai kematian ibumu," jawab Sandra.
***