Remy memutuskan pergi ke vila lama sebelum Armand atau Rania menemukan salinan bukti milik William. Lukas meminta ikut karena petunjuk menyebut tempat pertama kedua putra William belajar menjadi saudara.
"Saya juga ikut," ujar Nesia.
"Tidak," jawab Remy dan Lukas bersamaan.
Nesia bersedekap. "Mengapa kalian tiba-tiba kompak hanya untuk melarang saya?"
"Tempat itu mungkin sudah diawasi," kata Remy.
"Justru karena masalah ini juga berhubungan dengan masa lalu saya, saya berhak mengetahui apa yang ditemukan."
Setelah perdebatan panjang, Remy mengalah. Mereka berangkat bersama dua kendaraan keamanan. Perjalanan menuju vila memakan waktu hampir tiga jam melalui jalan pegunungan.
Bangunan kayu itu berdiri di tepi danau yang dikelilingi pohon pinus. Catnya sudah memudar, tetapi bentuknya masih sama seperti dalam foto keluarga.
Petugas keamanan menemukan jejak ban baru di tanah yang lembap. Gerbang tidak rusak, menandakan seseorang memiliki kunci atau mengetahui cara membuka pengaman lama.
"Kita bukan orang pertama yang datang," ujar Lukas.
Remy meminta dua petugas memeriksa hutan dan seorang lainnya menjaga kendaraan. Nesia mengenakan alat komunikasi yang diberikan Remy, meskipun tempat itu tampak tenang.
Di ruang utama, perabot ditutupi kain putih. Debu menempel di hampir semua permukaan kecuali sebuah meja dekat perapian. Seseorang baru saja membuka laci dan menggeser foto keluarga.
Nesia mengambil foto yang memperlihatkan Remy dan Lukas memegang ikan kecil. Keduanya masih tertawa tanpa jarak seperti sekarang.
"Kalian terlihat akrab," katanya.
"Itu sebelum aku mengerti siapa ibunya," jawab Remy.
Lukas menunduk. "Setelah pulang dari perjalanan itu, Tuan tidak pernah lagi mengajak saya bermain."
Remy hendak mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata tertahan. Dia baru mengetahui kebencian selama ini mungkin dibangun dari kebohongan Armand, namun luka masa kecil tidak mudah dibongkar dalam satu hari.
Di dekat perapian terdapat papan permainan yang belum selesai. Bidak milik Remy dan Lukas masih berada di posisi terakhir mereka puluhan tahun lalu.
"Papa melarang siapa pun membereskannya," ujar Lukas. "Beliau bilang permainan harus dilanjutkan saat kita kembali."
"Ternyata kita tidak pernah kembali bersama," gumam Remy.
Nesia menyentuh tangan Remy. "Sekarang kalian kembali. Mungkin belum terlambat menyelesaikan sesuatu yang tertunda."
Remy memandang Lukas, lalu menempatkan satu bidak ke posisi berikutnya. "Nanti kita lanjutkan setelah urusan ini selesai."
Lukas mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Janji kecil itu terdengar seperti pintu yang mulai dibuka setelah lama terkunci.
Mereka memeriksa kamar William. Lemari sudah dibongkar dan beberapa buku berserakan, tetapi tidak ada dokumen penting. Di bawah meja ditemukan puntung rokok yang masih baru. Remy mengenali merek mahal yang pernah diisap Anton.
"Dia pernah berada di sini," katanya.
"Mungkin mencari bukti sebelum meminta bertemu dengan kita," jawab Nesia.
Petugas melaporkan ada kamera kecil dipasang menghadap jalan masuk. Kabelnya menuju gudang di belakang vila. Siapa pun yang mengawasi tempat itu pasti sudah mengetahui kedatangan mereka.
Remy ingin memindahkan Nesia kembali ke kendaraan, tetapi petugas menemukan kabel rem salah satu mobil sudah dipotong. Kendaraan kedua juga tidak bisa dinyalakan karena sistem kelistrikannya dirusak.
"Mereka menunggu kita masuk sebelum menutup jalan keluar," ujar Lukas.
"Apakah sinyal telepon masih ada?" tanya Nesia.
Sinyal menghilang beberapa menit sebelumnya. Kamera tersebut ternyata terhubung dengan alat pengacau komunikasi yang disembunyikan di atap.
Remy memberikan satu-satunya telepon satelit kepada petugas untuk meminta bantuan. "Mulai sekarang, Nesia tetap di tengah kita. Jangan ada yang berjalan sendirian."
"Saya bisa menjaga diri," ujar Nesia.
"Aku tahu. Tetapi membiarkanmu ikut bukan berarti aku berhenti khawatir."
Nesia tidak lagi membantah. Mereka bergerak menuju gudang melalui sisi bangunan yang tertutup pepohonan. Jejak sepatu baru mengarah ke sana, disertai bekas sebuah benda berat yang diseret.
Di balik tumpukan kayu, mereka menemukan tas milik Anton. Isinya hanya obat, dompet, dan secarik peta vila dengan ruang bawah tanah diberi tanda merah.
"Rania sudah mengetahui tempat yang kita cari," kata Remy. "Kita harus menemukan bukti sebelum dia kembali."
Remy berhenti di depan teras. Kenangan masa kecil yang selama ini dikubur kembali muncul. Dia pernah dibawa William ke sana beberapa minggu setelah Lukas dan ibunya datang ke rumah.
"Aku membencimu ketika itu," ujar Remy kepada Lukas.
"Saya tahu. Tuan mendorong saya ke danau pada hari pertama," jawab Lukas.
"Kamu menarik kakiku hingga aku ikut jatuh."
Nesia menahan senyum. "Jadi itulah saat pertama kalian belajar menjadi saudara?"
"Kami berkelahi sampai Papa menghukum kami membersihkan gudang," kata Remy.
Gudang yang dimaksud berada di belakang vila. Pintunya masih terkunci, tetapi kayunya sudah rapuh. Petugas keamanan memeriksa seluruh bangunan sebelum mengizinkan mereka masuk.
Di dalam gudang terdapat alat pancing, perahu kecil, dan kotak permainan masa kecil. Lukas menemukan ukiran dua huruf pada dinding: R dan L, disertai garis yang menunjukkan tinggi tubuh mereka setiap tahun.
"Papa masih membawa kita ke sini setelah Ibu meninggal," gumam Remy.
"Beliau mengatakan suatu hari Tuan akan menerima saya sebagai keluarga," jawab Lukas.
Remy tidak menanggapi. Dia mencari tempat yang mungkin digunakan William menyembunyikan dokumen. Nesia memperhatikan foto lama di atas rak. Dalam foto itu, William berdiri di antara Remy dan Lukas sambil memegang sebuah jam saku.
"Apakah jam itu masih ada?" tanya Nesia.
"Papa selalu menyimpannya di vila," jawab Remy.
Mereka menemukan jam saku di laci meja. Bagian belakangnya memiliki ukiran kalimat: waktu akan menunjukkan tempat kebenaran disimpan. Jarum jam berhenti pada pukul empat lewat dua belas menit.
Lukas melihat sekeliling. "Mungkin angka itu merujuk pada rak atau halaman buku."
Nesia menatap empat jendela kecil di gudang. Jendela keempat menghadap danau. Di bawahnya terdapat dua belas papan lantai.
Papan kedua belas terdengar berongga ketika diketuk. Remy membukanya dan menemukan kotak logam kecil. Di dalamnya ada kaset rekaman, surat tulisan tangan William, serta kunci ruang bawah tanah vila.
"Kita menemukan bukti," ujar Nesia.
Sebelum mereka sempat membaca surat, suara mesin mobil terdengar dari depan. Petugas keamanan memberi kabar bahwa sebuah kendaraan menerobos gerbang dan dua orang turun membawa senjata.
Remy menyerahkan kotak kepada Lukas. "Bawa Nesia keluar melalui pintu belakang."
"Saya tidak akan meninggalkan Tuan," jawab Lukas.
"Itu perintah."
"Dan keputusan yang menyangkut kita harus disepakati bersama," sela Nesia. "Kita keluar bersama."
Suara kaca pecah terdengar dari vila utama. Jalan belakang menuju danau sudah ditutup seseorang. Mereka terpaksa bersembunyi di gudang sambil menunggu petugas mengamankan keadaan.
Sebuah suara perempuan terdengar dari luar.
"Serahkan kotak itu, Nesia. Aku tidak ingin menyakiti keluarga barumu."
Remy mengenali wajah dari rekaman bank ketika perempuan itu muncul di balik jendela.
Rania telah menemukan mereka.
***