Remy memberi isyarat agar semua orang tetap diam. Rania berdiri di luar gudang bersama dua lelaki bersenjata. Petugas keamanan Remy terlibat baku hantam di bagian depan vila sehingga belum bisa mencapai mereka.
"Aku tahu kalian berada di dalam," seru Rania. "Pak Armand hanya menginginkan dokumen William."
"Kalau kami menyerahkannya, apa jaminan kamu membiarkan kami pergi?" tanya Remy dari balik pintu.
Rania tertawa. "Tidak ada. Tapi setidaknya kalian punya kesempatan."
Lukas menemukan pintu kecil menuju ruang bawah tanah. Kunci dari kotak logam cocok. Mereka turun melalui tangga sempit dan menutup pintu tepat ketika tembakan menghantam gembok gudang.
Ruang bawah tanah gelap dan lembap. Nesia menyalakan lampu ponsel. Di ujung ruangan terdapat alat pemutar kaset tua yang masih terhubung ke baterai cadangan.
"Papa menyiapkan semuanya," ujar Lukas.
Remy memasukkan kaset. Suara William terdengar lemah, seolah rekaman dibuat ketika dia sedang sakit.
"Jika Remy dan Lukas mendengar ini, berarti Armand akhirnya mencari bukti yang kusembunyikan. Maafkan Papa karena membiarkan kalian hidup di atas kebohongan."
Remy menahan napas. Nesia berdiri dekat dan menggenggam tangannya.
William menceritakan malam kebakaran rumah Sandra. Dia datang setelah menerima telepon dan melihat seorang pengawal Armand keluar melalui pintu belakang. William menyelamatkan bayi Nesia, tetapi Armand mengancam akan membunuh bayi itu jika diserahkan kembali.
Dalam rekaman terdengar William beberapa kali berhenti untuk menarik napas. Dia mengakui sempat membawa bayi itu ke rumah sakit, tetapi seorang dokter yang bekerja untuk Armand sudah menunggu. Karena takut Nesia diambil, William pergi dan menghubungi Ibu Maria yang dikenalnya melalui yayasan sosial.
"Ibu Maria tidak pernah mengatakan mengenal Papa," ujar Nesia.
"Mungkin Papa memintanya merahasiakan identitas," jawab Lukas.
Suara William kembali terdengar. Dia menjelaskan bahwa gelang serta liontin bayi sengaja dipisahkan. Gelang diberikan kepada Ibu Maria, sedangkan liontin diserahkan kembali kepada Sandra sebagai bukti Nesia masih hidup.
"Lalu mengapa Sandra tidak langsung mencari?" gumam Remy.
Rekaman menjawab seolah William mendengar pertanyaannya. Armand menyuruh orang mengawasi seluruh panti dan mengancam anak-anak lain jika Sandra mengambil Nesia. William mencoba memindahkan Nesia, tetapi Sandra memohon agar tidak ada anak yang dikorbankan.
Nesia menutup mulut menahan tangis. Selama ini dia pernah marah karena merasa ditinggalkan, tanpa mengetahui keselamatan seluruh panti menjadi taruhannya.
Remy memeluk bahunya. "Kamu tidak perlu mendengar semuanya sekarang."
"Saya harus tahu."
William kemudian berbicara langsung kepada Nesia meskipun saat merekam dia tidak tahu kapan kaset itu akan ditemukan.
"Maafkan Paman karena mengambil hakmu tumbuh bersama ibu kandungmu. Paman selalu mengatakan tindakan itu demi keselamatan, tetapi ketakutan juga membuat Paman pengecut. Jangan biarkan ketakutan orang dewasa membuatmu merasa tidak dicintai. Ibumu tidak pernah berhenti mencarimu."
Air mata Nesia akhirnya jatuh. Remy mengambil saputangan dan menghapusnya perlahan.
"Papa mengenalmu bahkan sebelum aku," katanya.
"Mungkin itu sebabnya saya merasa foto beliau tidak asing ketika pertama kali datang ke rumah."
Lukas menatap mereka berdua. Pertemuan Remy dan Nesia tampak seperti kebetulan yang dirancang Armand, tetapi hubungan yang tumbuh di antara keduanya jelas bukan bagian dari rencana siapa pun.
Rekaman berlanjut dengan daftar nama orang yang bisa dipercaya: Ibu Maria, seorang mekanik bernama Jaka, dan Anton sebelum pengacara itu terlilit utang. William memperingatkan bahwa kesetiaan Anton dapat berubah jika keluarganya terancam.
"Papa membawa Vanesia ke panti karena mengira itu satu-satunya cara menyelamatkannya," lanjut suara tersebut. "Namun, kesalahan terbesar Papa adalah tetap diam setelah mengetahui Sandra masih hidup."
Rekaman kemudian beralih pada kematian Helena, ibu Remy. Helena menemukan bukti transaksi Armand dengan Adrian dan berniat pergi ke polisi. Pada malam sebelum kecelakaan, seseorang merusak rem mobilnya.
Remy memejamkan mata. "Jadi Ibu dibunuh."
"Mengapa William tidak melaporkannya?" tanya Nesia.
Jawaban muncul dalam rekaman. Armand menanam bukti palsu yang akan membuat ibu Lukas dituduh sebagai pelaku. Saat itu perempuan tersebut sedang mengandung dan William takut kedua anaknya akan kehilangan ibu sekaligus.
"Papa memilih melindungi ibuku," gumam Lukas.
"Dan membiarkan pembunuh Ibu bebas," balas Remy dengan suara bergetar.
Lukas menunduk. "Saya tidak pernah tahu."
Nesia berdiri di antara mereka. "Yang bersalah adalah Armand. Bukan Tuan Lukas atau ibunya."
Remy tahu itu benar, tetapi menerima kenyataan berarti meruntuhkan kebencian yang dipeliharanya selama bertahun-tahun.
Suara di atas mereka semakin dekat. Rania sudah masuk ke gudang dan mencari pintu ruang bawah tanah.
Kaset berlanjut. William menyebutkan bahwa salinan bukti kecelakaan Helena disimpan di dalam dinding vila, tepat di belakang ukiran tinggi Remy dan Lukas. Dokumen asli berada dalam lampiran wasiat yang kini diambil Rania.
"Kotak yang kita temukan hanya petunjuk," kata Remy.
Lukas menyerahkan surat William kepada Nesia. Isi surat itu ditujukan kepada kedua putranya. William meminta Remy menjaga Lukas sebagai adik, bukan sebagai bayangan kesalahannya.
Remy belum sempat membaca seluruhnya ketika pintu ruang bawah tanah digedor. Rania berteriak agar mereka keluar.
Di sisi lain ruangan, Nesia merasakan aliran udara dari celah dinding. Setelah diperiksa, ada terowongan kecil menuju tepi danau.
"Kita bisa keluar melalui sini," ujarnya.
Remy meminta Nesia masuk lebih dahulu, disusul Lukas. Dia sendiri menunggu sampai pintu hampir terbuka, lalu menjatuhkan rak besi untuk menghalangi Rania.
Mereka keluar di balik semak dekat dermaga. Sebuah perahu tua masih terikat. Lukas menyalakan mesinnya sementara Remy membantu Nesia naik.
Tembakan terdengar dari terowongan. Peluru mengenai sisi perahu, tetapi mereka berhasil bergerak ke tengah danau.
"Dokumennya!" seru Rania dari tepi.
Remy mengangkat kotak kosong yang sengaja dibawanya, lalu melemparkannya ke air. Rania dan anak buahnya berlari mengikuti arah kotak, tidak menyadari kaset serta surat asli berada di dalam jaket Nesia.
Di seberang danau, petugas keamanan sudah menunggu. Mereka membawa ketiganya ke tempat aman.
Nesia baru menyadari telapak tangan Remy terluka akibat menahan pintu besi. Dia membersihkannya menggunakan kotak pertolongan pertama di mobil.
"Sepertinya setiap pergi bersama saya, Anda selalu terluka," ujarnya.
"Luka kecil bukan masalah."
"Bagi saya tetap masalah."
Remy membiarkan Nesia membalut tangannya. Lukas duduk di depan, pura-pura tidak memperhatikan kelembutan mereka.
"Tuan Lukas juga terluka?" tanya Nesia.
"Hanya lecet sedikit, Nyonya."
Remy memberikan kotak obat kepadanya. "Rawat lukamu."
Perintah itu sederhana, tetapi Lukas menangkap perhatian yang jarang diberikan kakaknya. Dia menerima kotak tersebut sambil mengucapkan terima kasih.
Saat Remy memeriksa surat William, dia menemukan satu kalimat tambahan di bagian bawah.
Anton mengetahui siapa saksi terakhir kematian Helena. Jangan biarkan Armand menemukannya lebih dahulu.
Ancaman itu kini terasa nyata.
***