Malam setelah pemeriksaan Anton, Remy berdiri sendirian di balkon rumah. Kaset suara William sudah didengarnya berkali-kali, terutama bagian permintaan agar dia menjaga Lukas.
Nesia datang membawa dua cangkir teh. "Anda belum tidur?"
"Aku sedang berpikir."
"Tentang Tuan Lukas?"
Remy menerima teh, tetapi tidak meminumnya. "Selama ini aku menyalahkannya atas sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui."
"Anda bisa memperbaikinya."
"Tidak mudah menghapus sikap selama puluhan tahun dengan satu permintaan maaf."
"Tidak ada yang meminta semuanya langsung terhapus. Anda hanya perlu memulai."
Remy menatap Nesia. Perempuan itu juga sedang belajar memaafkan Tita dan Sandra. Barangkali memaafkan tidak berarti melupakan luka, melainkan berhenti membiarkannya menentukan hubungan yang akan datang.
Keesokan paginya, Lukas sudah berada di ruang kerja ketika Remy masuk. Dia membawa laporan perlindungan Jaka dan persiapan rapat pemegang saham.
"Duduklah," ujar Remy.
Lukas terlihat heran. Biasanya dia berdiri selama memberikan laporan.
"Ada yang salah, Tuan?"
"Berhenti memanggilku tuan untuk beberapa menit."
Lukas semakin bingung, tetapi menurut dan duduk di seberang meja.
Remy meletakkan surat William di antara mereka. "Papa meminta aku menjagamu sebagai adik. Aku gagal melakukannya."
"Tuan tidak perlu—"
"Remy," potongnya. "Panggil aku Remy. Atau Kakak jika kamu mampu."
Lukas menatapnya lama. Mata lelaki itu mulai memerah. "Saya tidak pernah mengharapkan permintaan maaf. Cukup diizinkan tetap berada di keluarga ini sudah lebih dari yang saya miliki dahulu."
"Itu masalahnya. Kamu seharusnya tidak perlu meminta izin untuk menjadi keluarga."
Remy mengakui bahwa kebenciannya kepada William membuat Lukas menjadi sasaran. Dia juga meminta maaf karena selalu memperlakukannya hanya sebagai asisten meskipun Lukas berkali-kali melindunginya.
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu," ujar Remy. "Tetapi jika kamu masih bersedia, aku ingin mencoba menjadi kakakmu."
Lukas menghapus air mata dan tersenyum. "Saya sudah menunggu kalimat itu sejak kecil, Kak."
Panggilan tersebut terdengar canggung sekaligus hangat. Remy berdiri dan mengulurkan tangan. Lukas menyambutnya, tetapi Remy justru menarik adiknya ke dalam pelukan singkat.
"Jangan membuat ini menjadi kebiasaan," ujar Remy setelah melepaskan pelukan.
"Tentu saja, Kak," jawab Lukas dengan senyum lebar.
"Dan jangan memanggilku begitu di depan pegawai."
"Baik, Kak."
Remy menyadari Lukas sengaja menggodanya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa terganggu.
Nesia masuk membawa sarapan yang disiapkan Bu Maryam. "Saya pikir pembicaraan kalian membutuhkan makanan."
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Remy.
"Tidak semuanya. Hanya bagian yang cukup membuat saya tahu kalian tidak akan saling mendorong ke danau lagi."
Lukas tertawa. Mereka bertiga duduk di meja kecil ruang kerja. Biasanya Lukas tidak pernah makan bersama Remy kecuali dalam perjalanan dinas, tetapi pagi itu Remy sendiri menuangkan kopi untuk adiknya.
"Ibumu berada di mana sekarang?" tanya Remy.
"Beliau tinggal di kota sebelah. Saya mengunjunginya setiap akhir pekan."
"Mengapa kamu tidak pernah memberi tahu?"
"Tuan—Kakak tidak pernah bertanya. Ibu juga takut kehadirannya akan membuat Kakak marah."
Remy menunduk. "Setelah rapat selesai, ajak beliau datang ke rumah. Aku ingin meminta maaf."
Lukas terdiam dan matanya kembali berkaca-kaca. "Saya akan menyampaikannya."
Nesia menepuk tangan kecil. "Baiklah, cukup menangis untuk pagi ini. Kalau tidak, sup yang saya buat akan terasa semakin asin."
"Ini bubur, bukan sup," koreksi Remy setelah mencicipi.
"Apa pun namanya, habiskan."
Suasana sarapan dipenuhi ejekan ringan yang tidak pernah ada sebelumnya. Bu Maryam yang melihat dari pintu mengusap matanya. Dia sudah bekerja sejak William masih hidup dan lama menunggu kedua putranya duduk bersama sebagai keluarga.
Setelah makan, Remy memberikan satu salinan surat William kepada Lukas. "Kamu berhak menyimpannya."
"Kita bisa menyimpannya bersama di brankas keluarga."
Kata bersama membuat Remy mengangguk. Mereka belum menyelesaikan seluruh luka masa lalu, tetapi setidaknya tak ada lagi satu orang yang berdiri di luar keluarga.
Edo yang datang belakangan melihat tiga mangkuk kosong dan mengeluh karena tidak disisakan sarapan.
"Pertama kalian berdamai, lalu melupakan sahabat sendiri," katanya dramatis.
"Kamu bisa meminta Bu Maryam," ujar Remy.
"Aku lebih tertarik pada hasil taruhan. Lukas, apakah kamu sudah siap berhenti memanggilnya tuan selama satu hari?"
Lukas tersenyum. "Sepertinya saya sudah mendapatkan izin untuk itu tanpa harus kalah taruhan."
Remy menatap mereka curiga. "Taruhan apa?"
Nesia, Lukas, dan Edo serentak mengalihkan pembicaraan. Rahasia kecil itu untuk sementara tetap aman.
Panggilan tersebut membuat Remy ikut terdiam. Nesia yang mendengarkan dari balik pintu tersenyum sambil menahan air mata.
Edo tiba-tiba muncul di belakangnya. "Kamu menguping?"
"Saya hanya tidak ingin mengganggu."
"Akhirnya Remy melakukan satu hal yang benar tanpa dipaksa."
"Saya yang menyuruhnya meminta maaf."
Edo tertawa kecil. Mereka masuk setelah Remy memanggil. Suasana ruang kerja terasa berbeda. Lukas duduk sejajar, bukan lagi berdiri menunggu perintah.
Pembicaraan beralih pada rapat pemegang saham. Nesia harus hadir sebagai calon ahli waris, tetapi pengakuannya belum selesai di pengadilan. Armand kemungkinan akan menggunakan keterlambatan itu untuk menjual aset.
"Saya tidak mengerti cara menghadapi rapat seperti itu," ujar Nesia.
"Kita akan belajar," kata Remy.
Rosa dipanggil untuk melatih penampilan dan cara bicara Nesia, sedangkan Edo menjelaskan struktur perusahaan. Lukas menyiapkan bukti hukum bersama notaris baru yang sudah diperiksa.
Latihan berlangsung sepanjang hari. Nesia beberapa kali salah menyebut istilah bisnis dan merasa putus asa.
"Saya hanya petugas kebersihan. Bagaimana mungkin melawan orang yang mengelola perusahaan puluhan tahun?"
Remy menutup dokumen di depannya. "Jangan pernah menggunakan pekerjaan lamamu untuk merendahkan diri. Kamu tidak perlu menjadi Armand. Kamu hanya perlu mengatakan kebenaran dengan caramu sendiri."
"Bagaimana jika mereka menertawakan saya?"
"Biarkan. Mereka akan berhenti tertawa ketika melihat bukti."
Nesia mengangguk dan mencoba lagi. Kali ini dia berbicara tanpa menghafal istilah rumit. Dia menjelaskan bahwa perusahaan dibangun dari hak banyak orang dan tidak boleh dikuasai melalui ancaman.
"Itu jauh lebih kuat," ujar Rosa.
Menjelang malam, Jaka akhirnya ditemukan. Dia bersedia bersaksi mengenai kematian Helena dengan syarat keluarganya dilindungi. Namun, dia juga memberikan kabar buruk: Armand sudah kembali ke kota menggunakan identitas palsu.
"Dia akan datang ke rapat," kata Remy.
"Bagus," jawab Nesia. "Kali ini kita tidak perlu mengejarnya. Dia sendiri yang akan datang kepada kita."
Remy menatap keberanian Nesia dan tersenyum tipis. "Beberapa minggu lalu kamu hanya ingin pulang ke kontrakan. Sekarang kamu siap menghadapi pemilik kerajaan bisnis."
"Saya masih ingin hidup sederhana. Tetapi sederhana bukan berarti membiarkan orang lain menginjak kita."
Lukas mengangguk bangga. "Nyonya akan baik-baik saja dalam rapat."
"Jika saya mulai gugup, kalian jangan meninggalkan saya."
"Kita masuk bersama dan keluar bersama," ujar Remy.
Malam itu, mereka makan di meja yang sama tanpa jarak majikan dan asisten. Untuk pertama kalinya, Lukas duduk di sisi Remy sebagai adik yang akan menghadapi masalah keluarga bersama-sama.
***