Rapat pemegang saham Maheswari Group berlangsung di hotel terbesar kota. Keamanan diperketat karena polisi menduga Armand akan muncul. Nesia datang bersama Remy, Sandra, Lukas, dan tim hukum.
Gaun gelap yang dikenakan Nesia dipilih Rosa. Penampilannya sederhana tetapi berwibawa. Meski demikian, jemarinya tetap dingin ketika memasuki ruang rapat.
"Gugup?" tanya Remy.
"Sangat."
"Pegang tanganku jika perlu."
Nesia menyambut uluran itu. "Jangan lepaskan."
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Para pemegang saham mulai berbisik ketika melihat Nesia. Sebagian mengenali wajah Sandra ketika muda. Dona sudah duduk di barisan depan sebagai wakil saham keluarga Wijaya.
Sebelum rapat dimulai, Dona menghampiri Nesia di ruang tunggu. Dia membawa map berisi surat kuasa atas saham milik ibunya.
"Aku akan mendukung pembekuan aset," katanya. "Jangan mengira aku sudah menerima kamu sebagai saudara."
"Saya tidak akan salah mengerti," jawab Nesia.
"Kalau Ayah jatuh, sebagian besar kehidupan yang kukenal juga ikut runtuh."
"Kita bisa membangun sesuatu yang lebih jujur setelahnya."
Dona tersenyum pahit. "Kamu bisa mengatakan itu karena baru mengenal kekayaan. Aku dibesarkan untuk percaya bahwa perusahaan adalah seluruh nilai diriku."
"Saya dibesarkan tanpa perusahaan dan tetap bisa hidup. Mungkin kita sama-sama harus belajar bahwa nilai kita bukan berasal dari sesuatu yang diberikan orang tua."
Dona menatap Nesia. Tidak ada nada mengejek dalam perkataan itu. Untuk sesaat, dia membayangkan bagaimana rasanya tumbuh bersama seorang adik yang berani melawannya dengan kejujuran.
"Jika rapat menjadi kacau, jangan berdiri sendirian," kata Dona. "Rania pandai memancing emosi dan mungkin membawa bukti palsu."
"Terima kasih sudah memperingatkan."
"Aku melakukannya demi perusahaan."
"Tentu saja," jawab Nesia sambil menahan senyum.
Rosa masuk untuk memeriksa penampilan Nesia terakhir kali. Dia membetulkan kerah gaun dan meminta Nesia mengulang kalimat pembuka.
"Saya tidak datang untuk merebut hak siapa pun," ujar Nesia. "Saya datang agar hak orang lain tidak lagi direbut."
"Bagus," kata Rosa. "Jangan membaca catatan terlalu sering. Tatap mereka ketika bicara."
Remy menyaksikan latihan tersebut dengan bangga. Beberapa minggu lalu Nesia bahkan tidak mengetahui cara menggunakan peralatan makan formal. Kini dia bersiap berdiri di depan orang-orang paling berkuasa dalam Maheswari Group.
"Kalau saya gagal?" tanya Nesia ketika Rosa pergi.
"Kegagalan satu rapat tidak menentukan siapa dirimu," jawab Remy.
"Saya takut merugikan Ibu dan semua orang."
"Kamu tidak sendiri. Ada aku, Lukas, Dona, dan tim hukum."
Nesia mendongak. "Aneh mendengar nama Dona dalam daftar orang yang membantu."
"Keadaan bisa mengubah posisi siapa pun."
"Termasuk posisi saya dalam hidupmu?"
Remy merapikan rambut di dekat telinga Nesia. "Posisimu sudah berubah sejak lama. Aku hanya terlambat mengakuinya."
Nesia tersenyum, lalu meraih tangan Remy ketika pintu ruang rapat dibuka.
Ketua rapat membuka agenda pemindahan aset yang diajukan Armand. Pengacara perusahaan mengatakan Armand berhalangan hadir dan memberikan kuasa kepada Rania.
Rania masuk dengan setelan putih dan senyum tenang, seolah tidak pernah menyerang vila. Polisi belum bisa menangkapnya karena bukti keterlibatan langsung masih diproses.
"Perempuan itu bukan ahli waris sah," ujar Rania sambil menunjuk Nesia. "Pengakuan darahnya belum disahkan pengadilan."
Gunawan berdiri dan menyerahkan hasil DNA serta surat kelahiran. "Proses hukum sedang berjalan. Sampai selesai, aset tidak boleh dipindahkan."
"Anda sendiri sedang diperiksa karena nomor kantor terhubung dengan pelaku," balas Rania.
Gunawan pucat. Nomor tersebut ternyata digunakan mantan staf tanpa sepengetahuannya, tetapi penjelasan itu belum dibuktikan.
Nesia berdiri. Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Saya tidak datang untuk mengambil kekayaan siapa pun," katanya. "Saya datang karena selama puluhan tahun, perusahaan ini digunakan untuk menutup kejahatan dan memisahkan seorang ibu dari anaknya."
Rania tertawa kecil. "Cerita sedih tidak memberi Anda hak mengelola perusahaan."
"Saya tidak meminta hak mengelola. Saya meminta semua pemindahan aset dihentikan sampai kebenaran diperiksa. Jika perusahaan ini bersih, tidak ada alasan untuk takut menunggu."
Beberapa pemegang saham mengangguk. Rania mulai kehilangan dukungan.
Remy menyerahkan rekaman Anton dan Daniel kepada ketua rapat. Bukti transaksi menunjukkan Armand menggunakan dana perusahaan untuk membayar ancaman, penculikan, serta sabotase.
Dona berdiri di luar dugaan semua orang. "Sebagai pemegang saham keluarga Wijaya, saya mendukung penghentian pemindahan aset."
Rania menatapnya tajam. "Kamu mengkhianati ayahmu sendiri."
"Ayah lebih dahulu mengkhianati seluruh keluarga."
Suara gaduh memenuhi ruangan. Ketua rapat meminta pemungutan suara darurat. Mayoritas menyetujui pembekuan aset dan audit independen.
Rania berdiri dengan marah dan menuduh pemungutan suara tidak sah. Dia mencoba meninggalkan ruangan sambil membawa map, tetapi polisi menahannya untuk dimintai keterangan mengenai penyerangan vila.
"Kalian tidak mengerti siapa yang sedang dilawan," ancamnya kepada Nesia. "Pak Armand sudah mempersiapkan jalan keluar sejak sebelum kamu lahir."
"Kalau begitu, katakan kepadanya saya juga tidak akan berhenti," jawab Nesia.
Dona mengambil map dari tangan Rania dan menemukan beberapa surat penjualan aset yang belum ditandatangani. Dokumen itu membuktikan mereka berniat memindahkan perusahaan pada hari yang sama.
"Ayah bahkan tidak berencana menyisakan apa pun untukku," gumam Dona.
Nesia berdiri di sampingnya. "Sekarang kita tahu apa yang harus dihentikan."
Dona tidak menjauh ketika bahu mereka bersentuhan. Untuk pertama kalinya, keduanya berdiri di sisi yang sama tanpa penyangkalan.
Nesia mengembuskan napas lega. Remy meremas tangannya dengan bangga.
Tepat ketika rapat hendak ditutup, pintu terbuka. Armand masuk menggunakan tongkat berkepala burung dan dikawal beberapa pengacara.
"Rapat ini belum selesai," ujarnya.
Polisi bergerak mendekat, tetapi Armand menunjukkan surat penundaan penangkapan dari pengadilan. Dokumen itu memberinya waktu untuk memberikan keterangan secara sukarela.
Dia berjalan menuju meja dan menatap Nesia lama. "Kamu benar-benar mirip ibumu."
"Apakah Anda ayah saya?" tanya Nesia.
"Secara darah, ya. Tetapi menjadi anak membutuhkan lebih dari hasil laboratorium."
Remy berdiri di depan Nesia. "Jangan mencoba mengintimidasinya."
Armand tersenyum. "Kamu juga sangat mirip William. Selalu merasa bisa menjadi penyelamat, padahal ayahmu ikut membangun semua yang kamu sebut kejahatan."
"Kami memiliki rekamannya. Papa menyelamatkan Nesia."
"Rekaman orang mati mudah digunakan untuk membersihkan nama sendiri."
Armand mengeluarkan dokumen asli lampiran wasiat yang diambil Rania. Dia menyatakan dokumen tersebut membuktikan William menerima saham sebagai imbalan untuk membawa Nesia pergi.
Sandra berdiri dengan marah. "Itu bohong!"
"Tanda tangan William ada di sana."
Remy membaca salinan yang dibagikan. Tanda tangan ayahnya terlihat asli, begitu pula cap perusahaan Wilson.
Armand kemudian menatap Nesia. "Jika kamu tetap menuntut saham Maheswari, bukti ini akan membuat perusahaan suamimu ikut disita sebagai hasil kejahatan."
Nesia memahami pilihan yang sedang dipaksakan kepadanya. Mempertahankan hak berarti menyeret Remy dan keluarganya ke dalam kehancuran.
"Saya memberi waktu dua puluh empat jam," lanjut Armand. "Lepaskan seluruh hak warisanmu atau saksikan nama Wilson runtuh bersama nama Maheswari."
***