Dokumen dari vila cukup untuk membantah tuduhan Armand, tetapi identitas wali kedua menjadi pertanyaan baru. Orang tersebut mungkin memegang akses rekening dan bukti asli transaksi.
"Ibu Maria menjadi saksi. Mungkin beliau tahu siapa wali itu," ujar Nesia.
Mereka kembali ke Panti Kasih Bunda pada pagi berikutnya. Ibu Maria memeriksa surat pernyataan William dan mengingat penandatanganan yang berlangsung diam-diam.
"Ada seorang perempuan bersama William," katanya. "Dia tidak masuk ruangan, tetapi William menyebutnya sebagai orang yang akan menjaga dana jika sesuatu terjadi."
"Siapa namanya?" tanya Remy.
"Ibu hanya mendengar nama belakangnya, Smith."
Lukas menegang. Nama belakangnya adalah Smith, mengikuti nama keluarga ibunya.
"Apakah perempuan itu ibu saya?" tanyanya.
Ibu Maria memperhatikan wajah Lukas. "Mungkin. Wajahmu mirip dengannya."
Remy merasa bersalah. Selama ini dia menganggap ibu Lukas merebut tempat Helena, padahal perempuan itu mungkin membantu William melindungi Nesia dan bukti kematian istrinya.
Mereka memutuskan menemui Miriam Smith, ibu Lukas. Perempuan itu tinggal di rumah sederhana dengan kebun bunga di halaman. Ketika melihat Remy datang, dia tampak gugup dan hampir menutup pintu.
"Saya datang bukan untuk menyalahkan Anda," ujar Remy.
Miriam menatap putranya, lalu mengizinkan mereka masuk. Di ruang tamu terdapat foto William, tetapi disimpan di sudut yang tidak mencolok.
"Papa menunjuk Anda sebagai wali kedua saham Nesia?" tanya Lukas.
Miriam mengangguk. "William takut Armand mengambil semuanya jika dia meninggal. Saya membuka rekening menggunakan nama yayasan dan menyimpan laporan setiap tahun."
"Mengapa tidak pernah memberi tahu saya?" tanya Remy.
"Kamu membenci saya. Jika saya datang membawa cerita tentang ibumu, kamu mungkin mengira saya sedang membersihkan nama sendiri. William juga meminta rahasia disimpan sampai Nesia ditemukan."
Miriam mengambil kunci brankas dan mengeluarkan buku rekening, surat asli, serta rekaman percakapan William dengan pegawai bank. Semua bukti menunjukkan saham tersebut dititipkan untuk Nesia.
"Ini bisa menghentikan ancaman Armand," ujar Nesia.
"Belum semuanya," kata Miriam. "Ada surat lain dari Helena."
Remy membeku saat menerima amplop dengan tulisan tangan ibunya. Surat itu ditulis sehari sebelum kecelakaan. Helena mengatakan dirinya menemukan hubungan keuangan Armand dan Adrian. Dia meminta Miriam menjaga Remy jika sesuatu terjadi.
Tangan Remy gemetar ketika membuka lembar berikutnya. Helena menulis bahwa Remy kecil sering terlihat kuat hanya untuk menutupi rasa takut. Dia berharap jika dirinya tidak ada, William tidak membiarkan anak mereka tumbuh sendirian.
"Ibu tahu tentang Lukas?" tanya Remy.
Miriam mengangguk. "Helena yang pertama kali mengetahui William memiliki seorang putra dari hubungan sebelum mereka menikah. Dia meminta William mencari kami."
"Jadi Ibu tidak membenci Anda?"
"Tidak. Beliau bahkan mengirim biaya ketika Lukas sakit. Saya tidak pernah berani mengatakannya karena kamu sudah percaya cerita lain."
Lukas terkejut. Selama ini dia juga mengira keberadaannya melukai Helena. Kenyataan bahwa perempuan itu justru peduli membuat beban lama terangkat.
Miriam mengambil kotak kecil dari lemari. Di dalamnya terdapat mobil mainan milik Remy yang pernah diberikan Helena untuk Lukas.
"Ibumu bilang saudara harus belajar berbagi," katanya.
Remy mengenali goresan pada sisi mainan. Dia pernah marah ketika benda itu hilang dan menuduh salah seorang pekerja membuangnya.
"Mengapa Papa tidak pernah menjelaskan?"
"William merasa bersalah karena memilih diam terhadap Armand. Setelah Helena meninggal, dia menjadi semakin tertutup. Dia pikir membawa kami ke rumah akan memenuhi pesan terakhir Helena, tetapi tidak tahu bagaimana menjelaskan tanpa membuka ancaman."
Nesia membaca bagian akhir surat. Helena meminta Remy tidak menilai seseorang dari asal-usul keluarga dan selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk menunjukkan kebaikan.
"Sepertinya ibu Anda sudah tahu sifat Anda akan sulit," ujar Nesia pelan.
Remy hampir tersenyum di tengah kesedihan. "Dia sering mengatakan aku terlalu keras kepala."
"Beliau benar."
Miriam menyajikan teh dan makanan sederhana. Untuk pertama kalinya, Remy duduk di rumah perempuan itu tanpa kemarahan. Dia bertanya tentang masa kecil Lukas dan mendengar cerita yang selama ini tidak pernah ingin diketahuinya.
"Lukas selalu menunggu William datang," kata Miriam. "Setiap ulang tahun, dia berdiri di depan jendela sampai malam."
Remy menatap adiknya. "Papa jarang datang?"
"Beliau takut keluarga Armand mengetahui keberadaan kami. Setelah keadaan dianggap aman, barulah kami dibawa ke rumah."
Lukas tidak menyalahkan siapa pun. Namun, Remy kini memahami bahwa adiknya juga tumbuh dengan kehilangan.
Sebelum pulang, Remy meminta Miriam memanggilnya dengan nama tanpa jarak formal. Perempuan itu ragu, lalu menyentuh bahunya seperti seorang ibu.
"Jaga dirimu, Remy. Helena pasti bangga melihat kamu dan Lukas datang bersama."
Remy mengangguk sambil menahan air mata.
Remy menunduk. Bertahun-tahun dia memperlakukan Miriam dan Lukas sebagai pengkhianat tanpa pernah mencari kebenaran.
Miriam mengambil album lain yang berisi foto dirinya bersama Helena. Dalam salah satu gambar, kedua perempuan itu menggendong Remy dan Lukas yang masih kecil di sebuah acara yayasan.
"Kami tidak pernah menjadi musuh," katanya. "Armand menciptakan cerita itu setelah Helena menemukan pencucian uang melalui yayasan. Dia tahu jika keluarga Wilson terpecah, William akan lebih mudah dikendalikan."
"Mengapa saya tidak mengingat pertemuan ini?" tanya Remy.
"Kamu masih terlalu kecil. Setelah ancaman dimulai, Helena meminta kami menjauh."
Lukas memperhatikan foto tersebut dengan mata berkaca-kaca. Dua ibu mereka pernah berdiri berdampingan, sementara kedua putranya menghabiskan sebagian hidup dengan saling menjaga jarak.
"Kita kehilangan terlalu banyak waktu karena kebohongan seseorang," ujar Remy.
"Jangan kehilangan waktu yang masih tersisa," jawab Miriam.
Remy meminta izin membawa album tersebut sebagai bukti sekaligus kenangan. Miriam menyerahkannya dan meminta kedua putranya kembali setelah persoalan selesai, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga.
"Saya minta maaf," katanya dengan suara berat.
Miriam menangis. "Saya tidak pernah meminta kamu menerima saya sebagai ibu. Saya hanya berharap kamu tidak lagi membenci adikmu."
Remy memandang Lukas. "Dia adikku. Saya terlambat mengakuinya, tetapi itu tidak akan berubah lagi."
Lukas memeluk ibunya. Nesia berdiri di sisi Remy dan menggenggam tangannya.
Miriam memberikan seluruh bukti kepada penyidik. Dia juga mengatakan wali rekening yang tercatat secara hukum adalah dirinya, sehingga Armand tidak bisa mengklaim saham sebagai milik William.
Ketika mereka hendak pulang, sebuah batu menghantam jendela. Di sekelilingnya terikat pesan agar Miriam tidak memberikan kesaksian.
Petugas keamanan mengejar pelaku, tetapi hanya menemukan motor yang ditinggalkan. Di bawah jok terdapat foto Rania bersama seorang lelaki tua.
Miriam mengenali lelaki tersebut sebagai Jaka, saksi kecelakaan Helena.
Di belakang foto tertulis alamat desa tempat Jaka bersembunyi dan satu ancaman: saksi berikutnya akan mati sebelum matahari terbit.
Waktu mereka kembali semakin sempit.
***