Remy menghubungi tim perlindungan Jaka. Sambungan tidak dijawab, sehingga polisi mengirim petugas tambahan ke desa. Remy, Lukas, dan Nesia ikut berangkat meskipun perjalanan memakan waktu hingga malam.
Rumah Jaka ditemukan kosong. Pintu belakang terbuka dan meja makan belum dibereskan. Tidak ada tanda perkelahian, tetapi ponsel petugas keamanan tergeletak di lantai.
Di lantai terdapat bekas obat bius dan dua cangkir pecah. Seorang petugas menemukan tanda pengenal polisi palsu di bawah lemari. Rania rupanya datang dengan menyamar sebagai bagian dari tim perlindungan.
"Bagaimana dia mengetahui lokasi ini?" tanya Nesia.
Remy menghubungi kepala operasi. Hanya enam orang yang menerima alamat Jaka, termasuk Anton dan penyidik yang merekam kesaksiannya. Semua perangkat mereka segera diperiksa.
Lukas menemukan kamera pengawas milik tetangga. Rekaman menunjukkan mobil polisi palsu datang tanpa paksaan. Jaka bahkan membukakan gerbang, membuktikan penyamaran mereka sangat meyakinkan.
"Ada tiga orang," ujar Lukas. "Rania duduk di belakang dan tidak turun."
Nomor kendaraan terhubung dengan mobil yang dilaporkan hilang dari kantor polisi dua hari sebelumnya. Seorang petugas asli ditemukan pingsan di gudang dekat kota.
"Dia memiliki bantuan dari dalam kepolisian," kata Remy.
Penyidik yang menemani mereka terlihat malu. "Kami akan memeriksa seluruh tim. Untuk sementara, komunikasi hanya melalui saluran khusus."
Nesia masuk ke kamar anak Jaka. Di atas meja terdapat buku sekolah dan gambar keluarga di depan mercusuar. Pada bagian belakang gambar, anak itu menulis bahwa ayahnya sering pergi ke sana ketika merasa takut.
"Petunjuk mercusuar mungkin sengaja diberikan Jaka, bukan ditinggalkan penculik," ujar Nesia.
Mereka memeriksa peta pantai. Selain jalan utama, mercusuar dapat dicapai melalui jalur perahu. Polisi membagi tim agar Rania tidak memiliki jalan melarikan diri.
Remy meminta Nesia menunggu di rumah bersama petugas. "Kali ini terlalu berbahaya."
"Saya tidak akan masuk ke mercusuar. Tetapi Jaka mungkin lebih bersedia bicara jika melihat orang yang berhubungan dengan kesaksiannya."
"Dia bersaksi tentang ibuku, bukan tentangmu."
"Namun saya juga korban Armand. Dia tahu saya tidak datang untuk membalas dendam."
Setelah mempertimbangkan, Remy mengizinkan dengan syarat Nesia berada di kendaraan komando. Perjalanan ke mercusuar berlangsung melalui jalan sempit di tepi tebing. Hujan mulai turun dan ombak terlihat semakin tinggi.
Di tengah jalan, mereka menemukan syal milik seorang perempuan tersangkut di pagar. Di dekatnya ada bekas roda berhenti mendadak.
"Mereka mengganti kendaraan di sini," ujar petugas.
Jejak kaki menuju dermaga kecil. Sebuah perahu hilang, memperkuat dugaan bahwa sebagian penculik mendekati mercusuar dari laut.
Remy memeriksa rompi pelindung Nesia sekali lagi. "Jika terdengar tembakan, kamu tetap di dalam mobil."
"Saya berjanji."
"Jangan hanya mengatakannya agar aku berhenti bicara."
Nesia menggenggam tangannya. "Saya ingin kita semua pulang dengan selamat. Saya tidak akan gegabah."
Barulah Remy bergerak bersama petugas menuju batas pengamanan.
"Mereka pergi terburu-buru," ujar Lukas.
Seorang tetangga mengatakan Jaka berangkat bersama istri dan anaknya menggunakan mobil polisi satu jam sebelumnya. Nomor kendaraan yang dicatat ternyata palsu.
"Rania mendahului kita," kata Remy.
Nesia menemukan secarik kertas di bawah cangkir. Jaka menulis satu kata: mercusuar.
Mercusuar tua berada beberapa kilometer dari desa. Polisi mengepung tempat itu, sementara Remy dan yang lain menunggu di batas aman. Dari dalam bangunan terdengar suara seorang perempuan berteriak.
Rania muncul di balkon sambil menahan anak Jaka. Dia meminta bukti dari vila ditukar dengan keluarga tersebut.
"Anda tidak akan mendapatkan apa pun dengan menyakiti mereka," seru Nesia.
"Kamu lagi," balas Rania. "Seharusnya aku membiarkanmu tenggelam bersama kotak itu."
Remy menarik Nesia ke belakangnya. "Bicaralah denganku."
"Pak Armand hanya menginginkan surat Helena dan saham titipan William. Serahkan, lalu keluarga ini bebas."
Polisi mencoba masuk melalui sisi belakang. Rania menyadarinya dan membawa anak Jaka masuk. Beberapa detik kemudian terdengar tembakan.
Nesia menahan napas. Petugas menyerbu dan berhasil menangkap dua pengawal. Rania melarikan diri melalui terowongan menuju pantai, tetapi Jaka serta keluarganya ditemukan selamat. Tembakan hanya diarahkan ke langit untuk menakut-nakuti.
Jaka dibawa ke tempat aman. Lelaki tua itu terlihat kelelahan, tetapi bersedia berbicara kepada Remy.
"Saya yang merusak rem mobil ibu Anda," akunya sambil menangis. "Armand mengancam akan membunuh anak saya yang ketika itu masih bayi."
Remy mengepalkan tangan. "Karena Anda, Ibu saya meninggal."
"Saya tahu tidak ada permintaan maaf yang cukup. Setelah melakukan itu, saya mencoba memperingatkan Nyonya Helena. Tetapi teleponnya tidak dijawab."
Jaka menyerahkan salinan rekaman perintah Armand. Selama bertahun-tahun benda itu disimpan dalam kotak kedap air di bawah mercusuar.
"Mengapa baru sekarang bersaksi?" tanya Lukas.
"Saya pengecut. Setiap melihat anak saya, saya memilih diam agar dia tetap hidup."
Remy hampir tidak mampu menahan amarah. Nesia menyentuh lengannya.
"Mendengar kesaksian bukan berarti harus langsung memaafkan," bisiknya. "Tetapi kita membutuhkan kebenarannya."
Remy meminta penyidik merekam seluruh pengakuan. Jaka menjelaskan bahwa Armand menyuruhnya membuat kecelakaan terlihat seperti kegagalan mekanis. Adrian menyediakan kendaraan pengganti untuk Helena, sedangkan Anton membantu menghilangkan laporan bengkel.
"Apakah William mengetahui semuanya?" tanya Remy.
"Tuan William mencurigai saya. Beberapa bulan kemudian saya mengaku kepadanya, tetapi dia meminta saya tetap hidup sampai bisa bersaksi."
"Papa melindungi Anda?"
"Dia melindungi keluarga saya. Katanya satu-satunya cara menghormati Nyonya Helena adalah menghentikan Armand, bukan membunuh saya karena dendam."
Kalimat William membuat amarah Remy perlahan mereda, meskipun luka kehilangan tetap terasa.
Polisi mengonfirmasi rekaman perintah masih asli. Dengan kesaksian Jaka, bukti terhadap Armand menjadi jauh lebih kuat.
Jaka menandatangani pernyataan dan meminta satu hal sebelum dibawa ke lokasi perlindungan.
"Izinkan saya meminta maaf di makam Nyonya Helena jika semua ini selesai," katanya kepada Remy.
Remy belum mampu memberi jawaban. "Bersaksilah dengan jujur lebih dahulu. Permintaan maaf tidak akan menghidupkan Ibu, tetapi kebenaran bisa mencegah korban berikutnya."
Jaka mengangguk dan menyerahkan cincin lama yang pernah diberikan Armand sebagai tanda pembayaran. Di bagian dalamnya terukir lambang seruni serta tanggal sehari sebelum kecelakaan Helena.
"Saya menyimpannya karena takut suatu hari tidak ada yang percaya," ujar Jaka.
Bukti itu dimasukkan ke kantong penyidik dan akan diperiksa bersama rekaman.
Saat fajar mulai terlihat, Remy berdiri di tepi pantai. Nesia menghampiri dan menyandarkan kepala di bahunya.
"Saya takut kebencian akan membuat saya menjadi seperti Armand," ujar Remy.
"Anda berhenti sebelum menyakiti Jaka. Itu sudah membuktikan kalian berbeda."
Remy mencium kening Nesia. "Aku bisa berhenti karena kamu ada."
Panggilan dari Dona memutus ketenangan mereka. Armand datang ke rumah dan menahan ibunya. Dia meminta Dona membawa liontin asli jika ingin perempuan itu selamat.
***