Dona bersembunyi di kamar mandi ketika menelepon. Suaranya bergetar dan dia hanya memiliki sedikit waktu sebelum Armand menyadari ponselnya masih aktif.
"Jangan berikan liontin," ujar Remy. "Kami akan menghubungi polisi."
"Ayah mengancam ibu dengan senjata," bisik Dona. "Kalau melihat polisi, dia akan menembak."
Nesia mengambil ponsel. "Katakan kepada beliau saya akan membawa liontin. Ulur waktu sebanyak mungkin."
"Kamu tidak boleh datang," kata Dona.
"Beliau menginginkan saya dan bukti warisan. Kita bisa menggunakan itu agar ibu Anda keluar."
"Dia juga ibu kamu secara hukum," ujar Dona lirih. "Tetapi jangan mempertaruhkan diri hanya karena itu."
Untuk pertama kalinya, Dona terdengar mengkhawatirkan Nesia sebagai saudara.
Remy menyusun rencana bersama polisi. Liontin asli tetap disimpan, sedangkan salinan sempurna dibawa Nesia. Dona akan membuka pintu samping saat Armand memeriksa benda tersebut.
"Tidak ada rencana yang benar-benar aman," ujar Remy kepada Nesia. "Kamu tetap di mobil sampai aku memberi tanda."
"Armand tahu wajah saya. Dia tidak akan membebaskan siapa pun jika saya tidak terlihat."
"Aku tidak ingin kembali berdebat soal keselamatanmu."
"Dan saya tidak ingin bersembunyi ketika keluarga saya membutuhkan bantuan."
Mereka akhirnya sepakat Nesia boleh mendekati teras dengan rompi pelindung. Remy berada beberapa langkah di belakang, sedangkan penembak jitu polisi mengambil posisi.
Di dalam rumah, Armand berdiri di ruang tamu sambil menodongkan pistol kepada ibu Dona, Liana. Dona berada di sisinya dengan wajah pucat.
"Liontinnya sudah datang," kata Dona.
Armand menyuruh Nesia masuk sendirian. Nesia memperlihatkan kotak dari pintu.
"Lepaskan Nyonya Liana dahulu."
"Kamu tidak berada dalam posisi memberi perintah."
"Kalau saya terluka, liontin asli tidak akan pernah Anda temukan."
Armand ragu. Dia tidak tahu benda di tangan Nesia hanya tiruan. Akhirnya dia mendorong Liana ke arah pintu sambil meminta Dona mengambil kotak.
Dona berjalan mendekati Nesia. Saat jarak mereka cukup dekat, dia berbisik, "Setelah ibu keluar, lari."
Nesia menyerahkan kotak. Dona membawanya kepada Armand, lalu membantu Liana menuju pintu. Namun, Armand segera menyadari berat liontin berbeda.
"Ini palsu!" bentaknya.
Dia mengarahkan pistol kepada Nesia. Dona berdiri di depan adiknya tepat ketika suara tembakan terdengar. Peluru mengenai bahu Dona dan membuatnya jatuh.
Polisi menyerbu. Remy menarik Nesia ke balik dinding, sedangkan Armand melarikan diri melalui pintu belakang. Beberapa petugas mengejar, tetapi fokus utama adalah menyelamatkan Dona.
Nesia menekan luka di bahu kakaknya. "Mengapa Anda melindungi saya?"
Dona meringis. "Entahlah. Tubuhku bergerak sendiri."
"Bertahanlah. Ambulans segera datang."
"Jangan menangis. Aku tidak suka melihat wajahmu semakin mirip denganku."
Nesia tertawa di antara air mata. Dia menggenggam tangan Dona sampai petugas medis mengambil alih.
Di rumah sakit, dokter mengatakan peluru tidak mengenai organ penting. Liana memeluk Nesia dan berterima kasih karena membantu menyelamatkan mereka.
"Saya seharusnya membenci kamu karena menjadi bukti pengkhianatan suami saya," ujar Liana. "Tetapi kamu tidak bersalah atas pilihan orang tua."
"Saya juga tidak ingin menggantikan posisi siapa pun," jawab Nesia.
Liana mengangguk. "Kamu tidak menggantikan Dona. Kalian berdua memiliki tempat masing-masing."
Ketika Dona sadar, Nesia duduk di sampingnya. Hubungan mereka belum berubah menjadi akrab, tetapi batas permusuhan sudah runtuh.
"Ibu bagaimana?" tanya Dona.
"Nyonya Liana sedang diperiksa. Beliau hanya mengalami memar dan syok."
Dona mengembuskan napas lega. "Ayah berubah sejak mulai kehilangan kendali perusahaan. Atau mungkin selama ini aku hanya menolak melihat siapa dirinya."
"Mencintai orang tua tidak berarti harus membenarkan kesalahannya," ujar Nesia.
"Kamu masih bisa mengatakan itu karena tidak pernah tumbuh bersamanya. Ketika kecil, Ayah selalu datang ke setiap acara sekolahku. Dia mengajariku bersepeda dan menunggu ketika aku sakit. Sulit menerima lelaki yang sama juga memerintahkan kebakaran."
Nesia memahami kerumitan tersebut. Sandra juga membuat pilihan yang melukai dirinya meskipun dilakukan karena takut. Manusia tidak hanya terdiri dari satu sisi.
"Saya tidak akan meminta Anda membencinya," kata Nesia. "Saya hanya berharap kita bisa menghentikan beliau sebelum ada orang lain terluka."
"Termasuk Ayah sendiri?"
"Termasuk beliau."
Dona menatap Nesia lama. "Kamu benar-benar menyebalkan karena selalu mencoba melihat kebaikan."
"Remy mengatakan saya terlalu mudah memaafkan."
"Untuk hal itu, aku setuju dengannya."
Keduanya tersenyum tipis. Liana masuk menggunakan kursi roda dan melihat kedua putri Armand berbicara tanpa pertengkaran. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Saya tahu tentang keberadaanmu sejak beberapa tahun lalu," katanya kepada Nesia.
Dona terkejut. "Ibu tahu?"
"Saya menemukan hasil tes di ruang kerja Armand. Dia bersumpah bayi itu sudah meninggal dan meminta saya melupakan. Saya memilih percaya karena takut keluarga kita hancur."
"Semua orang memilih diam," ujar Nesia dengan sedih.
Liana menggenggam tangannya. "Maafkan saya. Jika dulu saya mencari kebenaran, kamu mungkin tidak harus tumbuh tanpa keluarga."
"Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi Ibu Maria dan anak-anak panti juga keluarga saya. Kehidupan saya tidak hanya berisi kehilangan."
Jawaban itu membuat Liana menangis. Dona memandang ibunya dengan campuran kecewa dan pengertian.
"Setelah semua selesai, kita perlu membicarakan banyak hal," ujar Dona. "Tanpa Ayah menentukan apa yang boleh kita ketahui."
Nesia mengangguk. "Saya bersedia jika Anda juga bersedia."
Remy dan Lukas berdiri di balik pintu, tidak ingin mengganggu. Lukas tersenyum melihat kedua saudara itu perlahan menemukan jalan, sama seperti dirinya dan Remy.
"Keluarga kita semakin rumit," gumam Remy.
"Setidaknya sekarang semua orang mulai berhenti berbohong," jawab Lukas.
"Terima kasih, Kak," ujar Nesia pelan.
Dona menatapnya tajam. "Aku sudah bilang jangan memanggilku begitu."
"Tapi Anda memang lebih tua tujuh bulan."
"Panggil Dona saja."
Nesia tersenyum. "Baik, Kak Dona."
Dona memutar mata, tetapi tidak lagi membantah. Remy yang berdiri di pintu ikut tersenyum melihat keduanya.
Polisi gagal menangkap Armand. Mobil pelariannya ditemukan kosong di dekat sungai. Namun, pistol dan darahnya tertinggal di dalam, menunjukkan dia mungkin terluka.
Remy membawa Nesia menjauh dari ruang rawat setelah memastikan Dona stabil. "Kamu hampir terkena peluru lagi."
"Saya mengenakan rompi dan mengikuti rencana."
"Rencana tidak meminta kamu berdiri begitu dekat."
Nesia menggenggam wajah Remy agar lelaki itu berhenti mondar-mandir. "Saya selamat. Kak Dona juga selamat. Jangan menghukum dirimu atas sesuatu yang tidak terjadi."
Remy memeluknya erat. "Aku baru saja menemukan alasan untuk percaya pada masa depan. Aku tidak sanggup kehilanganmu sekarang."
"Kamu tidak akan kehilangan saya," janji Nesia sambil membalas pelukan.
Di balik pintu, Dona mendengar kalimat tersebut dan tersenyum tipis sebelum kembali memejamkan mata.
Di jok belakang terdapat permohonan pembatalan pernikahan Remy dan Nesia yang sudah ditandatangani menggunakan nama Nesia.
Ancaman baru kembali menunggu mereka.
***