Permintaan Rania memecah pendapat tim. Sebagian direksi ingin memberikan saham demi mendapatkan dokumen, sedangkan polisi memperingatkan bahwa kesepakatan dapat dianggap menghalangi proses hukum.
"Saya tidak ingin memberi hadiah atas kejahatan," ujar Nesia. "Tetapi pekerja tidak boleh menjadi korban."
Remy menyarankan mencari halaman itu tanpa memenuhi tuntutan. Semua barang Rania sudah disita, tetapi kemungkinan dokumen disimpan melalui orang lain.
"Dia menyebut hak ibunya," kata Sandra. "Mungkin kita harus memeriksa sejarah keluarga, bukan hanya kejahatannya."
Ibu Rania bernama Laras Maheswari, sepupu Sandra yang tidak pernah diakui kakek mereka karena lahir di luar pernikahan. Meski tidak tercantum dalam surat waris, Laras pernah dijanjikan sebagian kepemilikan melalui surat pribadi.
"Apakah surat itu masih ada?" tanya Nesia.
Sandra mengangguk. "Saya menyimpannya. Ayah menyesal tidak mengakui Laras sebelum meninggal."
Surat tersebut tidak memberikan hak hukum sebesar sepuluh persen, tetapi membuktikan keluarga memang pernah memperlakukan Laras tidak adil.
Nesia kembali menemui Rania dan membawa salinannya.
"Ibu Anda memang memiliki hak yang seharusnya dibicarakan," katanya. "Saya tidak akan menukar saham dengan dokumen, tetapi saya bersedia membuka mediasi resmi setelah perkara selesai."
Rania menatap surat tulisan tangan kakeknya. Untuk pertama kalinya, sikap sinisnya goyah.
"Ibu meninggal sambil percaya keluarga Maheswari tidak pernah menginginkannya."
"Kita tidak bisa mengubah itu. Tetapi kita bisa mengakui kesalahan secara terbuka dan memberikan bagian yang adil kepada ahli warisnya."
"Mengapa aku harus percaya?"
"Karena saya datang tanpa meminta Anda membatalkan kesaksian atau melupakan kejahatan. Anda tetap harus bertanggung jawab. Saya juga akan menepati kewajiban keluarga saya."
Rania meminta waktu. Keesokan paginya, dia memanggil penyidik dan memberikan lokasi dokumen: sebuah loker di stasiun tempat dirinya ditangkap.
Halaman tanda tangan ditemukan bersama surat-surat lain yang membuktikan Armand mengendalikan perusahaan kreditur. Bank langsung menunda jatuh tempo dan mendukung penyelidikan penipuan.
Keputusan bank memberi waktu enam bulan untuk restrukturisasi, tetapi mensyaratkan audit menyeluruh dan penggantian beberapa direksi. Nesia mengumpulkan kepala bagian untuk memilih tim sementara berdasarkan pengalaman, bukan kedekatan keluarga.
"Saya tidak ingin semua jabatan diisi orang yang hanya setuju dengan saya," katanya. "Kita membutuhkan orang yang berani menunjukkan kesalahan."
Pak Rahmat diundang sebagai wakil pekerja dalam komite pengawasan. Beberapa direksi keberatan karena menganggap pekerja pabrik tidak memahami strategi perusahaan.
"Dia memahami akibat keputusan kalian lebih baik daripada siapa pun," jawab Nesia. "Itu cukup untuk memberinya satu kursi."
Dona mengusulkan seorang auditor lama yang pernah dipecat Armand karena menolak mengubah laporan. Lelaki itu bersedia kembali dengan syarat semua hasil audit diumumkan kepada pemegang saham.
"Setuju," kata Nesia. "Tidak ada lagi laporan yang hanya disimpan di meja keluarga."
Mereka juga menemukan dua pabrik sebenarnya menghasilkan keuntungan, tetapi labanya dipindahkan ke perusahaan cangkang. Setelah aliran itu dihentikan, Maheswari memiliki cukup dana operasional untuk bertahan.
"Ayah membuat perusahaan terlihat lemah agar mudah dijadikan jaminan," ujar Dona.
"Kita kembalikan uang yang masih bisa dilacak," jawab Nesia. "Sisanya menjadi bagian tuntutan hukum."
Sepanjang rapat, Nesia berkali-kali meminta penjelasan istilah yang tidak dipahami. Awalnya sebagian orang terlihat meremehkan, tetapi pertanyaannya justru menemukan biaya tersembunyi yang selama ini dianggap biasa.
"Mengapa perusahaan membayar sewa gudang yang tidak pernah digunakan?" tanyanya.
Direktur keuangan tidak mampu menjawab. Pemeriksaan menunjukkan gudang itu milik kerabat salah seorang direksi. Kontrak langsung dibekukan dan masuk daftar audit.
Saat istirahat, Dona memberikan secangkir kopi kepada Nesia. "Kamu membuat lebih banyak masalah dalam seminggu daripada yang kubuat selama bertahun-tahun."
"Apakah itu pujian?"
"Anggap saja peringatan. Orang-orang yang kehilangan keuntungan akan melawan."
"Kalau begitu, jangan tinggalkan saya sendirian."
Dona menghela napas seolah keberatan. "Aku akan tetap di sini sampai kamu bisa membedakan neraca dan laporan arus kas."
"Berarti kita akan bersama cukup lama, Kak."
Kali ini Dona tidak memprotes panggilan tersebut. Dia hanya menyembunyikan senyum di balik cangkir.
Remy datang membawa makan siang dan melihat keduanya bekerja berdampingan. Hubungan keluarga yang dulu dijadikan Armand sebagai sumber permusuhan kini justru menjadi kekuatan baru.
Para pegawai bersorak ketika kabar disampaikan. Nesia mengadakan pertemuan terbuka dan menjelaskan bahwa masalah belum selesai, tetapi tidak ada pemberhentian massal selama proses hukum berlangsung.
Pak Rahmat menyerahkan sebuket bunga dari para pekerja. "Kami tidak tahu apakah Nyonya memahami semua angka perusahaan. Tapi kami tahu Nyonya mendengarkan."
"Saya masih belajar," jawab Nesia. "Tolong ingatkan jika keputusan saya mulai menjauh dari kehidupan pekerja."
Sebelum acara ditutup, seorang pegawai perempuan bertanya apakah Nesia benar-benar akan memimpin perusahaan atau hanya menjadi wajah sementara.
"Saya menerima tugas tiga bulan," jawab Nesia. "Selama itu, semua keputusan besar akan diumumkan dan bisa diperiksa. Jika saya gagal, saya tidak akan bersembunyi di balik nama keluarga."
"Bagaimana dengan pengalaman Nyonya?" tanya pegawai lain.
"Saya tidak punya pengalaman memimpin perusahaan. Karena itu saya akan mendengarkan orang yang memahami pekerjaannya dan tidak malu mengatakan jika saya belum tahu."
Kejujuran tersebut mendapat tepuk tangan. Nesia tidak menjanjikan semua masalah selesai dengan cepat, tetapi berjanji gaji serta keselamatan pekerja menjadi prioritas.
Dona bergabung di atas panggung dan mengumumkan dirinya akan mendampingi tanpa mengambil keputusan tunggal. Kemunculan dua putri Armand berdampingan mengubah suasana. Para pegawai mulai melihat kemungkinan perusahaan tetap bertahan tanpa cara lama.
Setelah acara, Nesia menandatangani aturan transparansi pertama. Semua kontrak dengan perusahaan keluarga direksi harus diumumkan kepada auditor independen. Remy mengingatkan aturan itu akan menciptakan banyak musuh.
"Kalau mereka marah karena tidak bisa lagi mengambil uang diam-diam, berarti aturan itu diperlukan," jawab Nesia.
"Kamu mulai terdengar seperti pemimpin sungguhan," ujar Edo.
"Jangan membuat saya semakin takut."
Remy menyaksikan dari samping panggung. Setelah acara, dia membawa Nesia ke atap gedung untuk beristirahat.
"Kamu menyelesaikan masalah tanpa menyerah pada ancaman," katanya.
"Saya hanya mencoba memahami mengapa Rania begitu marah."
"Kebaikanmu tetap membuatku khawatir."
"Dan kecurigaanmu tetap membuat saya lelah. Jadi kita seimbang."
Remy tertawa dan memeluknya dari belakang. Kota terlihat terang di bawah mereka.
"Ketika semua ini selesai, aku ingin kita menikah lagi," ujarnya.
Nesia berbalik. "Kita sudah menikah."
"Aku ingin pernikahan yang kamu pilih sejak awal. Tanpa pengantin yang kabur, pengawal bersenjata, atau perjanjian."
"Apakah ini lamaran?"
"Anggap saja janji. Aku akan melamar dengan benar ketika Armand ditemukan."
Nesia tersenyum. "Saya akan mempertimbangkannya."
"Kamu sudah mengatakan cinta."
"Mencintai tidak berarti saya harus menerima lamaran yang belum disiapkan dengan baik."
Remy mencium keningnya. "Aku akan membuatmu tidak bisa menolak."
Saat mereka kembali ke ruang rapat, Lukas membawa kabar bahwa polisi menemukan jejak Armand di pelabuhan. Sebuah kapal pribadi bersiap meninggalkan negara malam itu.
Namun, daftar penumpangnya tidak hanya memuat nama Armand.
Nama dokter Ilham juga tercantum di sana.
***