Pagi setelah penangkapan Armand, Nesia tetap datang ke kantor Maheswari Group. Dia hanya tidur beberapa jam, tetapi tidak ingin hari pertamanya sebagai pelaksana perusahaan dimulai dengan ketidakhadiran.
Dona sudah menunggu membawa dua cangkir kopi. "Kamu terlihat seperti belum tidur."
"Saya memang belum tidur cukup."
"Pemimpin yang mengantuk membuat keputusan buruk. Minum."
Nesia menerima kopi dan tersenyum. "Terima kasih, Kak."
Dona tidak lagi memprotes panggilan tersebut. Dia hanya meminta Nesia tidak mengatakannya di depan terlalu banyak orang.
Agenda pertama adalah bertemu kepala pabrik. Produksi terancam berhenti karena pemasok bahan baku meminta pembayaran tunai setelah berita utang tersebar.
Nesia mengusulkan menggunakan dana dari penjualan aset mewah direksi sebagai jaminan sementara. Tim keuangan mengatakan proses penjualan memakan waktu.
"Kalau begitu, lelang terbuka dan umumkan semua hasilnya," putus Nesia. "Tidak ada penjualan kepada keluarga sendiri."
Direktur lama kembali keberatan. "Harga bisa jatuh jika dilakukan terburu-buru."
"Produksi berhenti akan membuat kerugian lebih besar. Pilih aset yang tidak penting dan tetapkan harga minimum melalui penilai independen."
Remy hadir sebagai penasihat, tetapi tidak berbicara sampai Nesia meminta pendapat. Sikap itu membuat para direksi memahami keputusan berada di tangan Nesia.
Pertemuan berikutnya dengan serikat pekerja berlangsung lebih sulit. Mereka meminta jaminan tidak ada pemberhentian selama enam bulan.
Seorang pekerja muda menunjukkan foto rekannya yang terluka akibat mesin lama. Anggaran perbaikan sudah diajukan berkali-kali, tetapi selalu dipindahkan untuk kebutuhan kantor pusat.
"Mesin itu masih digunakan?" tanya Nesia.
Kepala pabrik mengangguk. "Kalau dihentikan, produksi turun dua puluh persen."
"Kalau diteruskan dan ada korban lagi, kerugiannya tidak bisa dihitung hanya dengan persen. Hentikan sampai diperbaiki."
Direktur operasional memprotes biaya penggantian. Nesia meminta daftar mobil dinas yang akan dilelang dan mengalihkan uang muka untuk membeli komponen mesin.
"Nyonya tidak bisa terus menjual aset kantor," ujarnya.
"Dan kita tidak bisa membayar keuntungan dengan tubuh pekerja."
Keputusan itu dicatat dan diumumkan kepada pabrik. Para pekerja menerima penurunan produksi sementara selama jadwal kerja tidak dipotong sepihak.
Agenda berikutnya adalah memilih auditor. Tiga kandidat memiliki hubungan lama dengan Armand. Nesia menolak semuanya dan meminta tim mencari lembaga tanpa proyek sebelumnya bersama Maheswari atau Wilson.
"Mengapa Wilson juga dikecualikan?" tanya Remy.
"Agar tidak ada yang mengatakan kamu mengendalikan hasilnya."
Remy mengangguk bangga. Nesia mulai memahami bahwa kepercayaan bukan hanya soal niat baik, tetapi juga proses yang bisa diperiksa.
Seorang sekretaris muda bernama Maya ditugaskan membantu Nesia. Dia menjelaskan jadwal rapat yang padat dan membawa setumpuk dokumen untuk ditandatangani.
Nesia membaca halaman pertama satu per satu. Ketika menemukan biaya konsultasi tanpa keterangan, dia menolak menandatangani.
"Pak Armand biasanya langsung menyetujui paket dokumen," kata Maya.
"Itulah sebabnya kita sekarang memiliki terlalu banyak masalah. Mulai hari ini, tidak ada tanda tangan tanpa penjelasan."
Maya tersenyum lega. Banyak staf dahulu dipaksa menutup mata pada pengeluaran yang tidak jelas.
Menjelang sore, Nesia mengunjungi lantai kerja tanpa pemberitahuan. Dia duduk bersama pegawai administrasi dan meminta mereka menjelaskan hambatan sehari-hari. Beberapa terkejut karena pemimpin perusahaan sebelumnya jarang keluar dari ruang direksi.
"Saya belum bisa menjanjikan semua permintaan dipenuhi," kata Nesia. "Tetapi saya ingin tahu keadaan sebenarnya sebelum membuat keputusan."
Daftar masalah yang diterima semakin panjang, namun Nesia merasa lebih yakin karena tidak lagi hanya melihat angka.
"Saya tidak bisa menjanjikan sesuatu sebelum melihat seluruh kondisi," ujar Nesia jujur. "Tetapi tidak ada pemecatan hanya untuk mempertahankan bonus direksi."
Pak Rahmat menerima jawaban tersebut dan meminta laporan bulanan dibuka kepada perwakilan pekerja. Nesia menyetujui.
Saat makan siang, Nesia baru menyadari tidak membawa bekal. Remy datang membawa roti yang mereka buat bersama di kelas berikutnya. Bentuknya sudah lebih baik.
"Anda meninggalkan kantor hanya untuk membawa makan siang?" tanya Nesia.
"Aku ada pertemuan di dekat sini."
Dona yang duduk di seberang tertawa kecil. "Kantor Wilson ada di arah berlawanan."
Remy menatapnya. "Kalian benar-benar sudah menjadi saudara. Sama-sama terlalu banyak bicara."
Mereka makan bertiga di ruang kerja Nesia. Untuk pertama kalinya, Dona dan Remy berbicara tanpa mengungkit hubungan masa lalu. Nesia merasa lega melihat keduanya mulai menempatkan kenangan pada tempatnya.
Sore hari, hasil audit menemukan dana pensiun pegawai juga dipakai Armand sebagai jaminan. Jika perusahaan gagal, ribuan orang kehilangan tabungan hari tua.
Nesia marah dan meminta tim hukum memisahkan dana tersebut dari perkara utang. Dia juga memerintahkan audit semua yayasan milik perusahaan.
"Hari pertama dan kamu sudah memeriksa seluruh kerajaan Ayah," ujar Dona.
"Saya takut masih ada sesuatu yang lebih buruk."
"Pasti ada. Tetapi kita menemukannya satu per satu."
Menjelang malam, para pegawai sudah pulang. Nesia masih berada di meja ketika Remy kembali menjemput.
"Waktunya pulang," katanya.
"Saya belum selesai membaca laporan."
"Kamu berjanji tidak mengorbankan kesehatan."
Nesia akhirnya menurut. Di lift, dia menyandarkan kepala pada bahu Remy.
"Saya tidak yakin bisa melakukan ini selama tiga bulan."
"Hari pertama saja kamu sudah melindungi produksi, pekerja, dan dana pensiun."
"Dengan bantuan semua orang."
"Pemimpin yang baik memang tahu kapan membutuhkan bantuan."
Pintu lift terbuka dan seluruh petugas kebersihan malam berdiri memberi salam. Salah seorang menyerahkan kartu ucapan dari para pegawai: terima kasih karena tidak melupakan kami.
Nesia mengenali beberapa nama di kartu dari pekerja yang ditemuinya. Ada pesan petugas pabrik, sopir, staf administrasi, dan pekerja kebersihan.
"Mereka membuat ini hanya dalam satu hari?" tanyanya.
Maya mengangguk. "Mereka mendengar Nyonya menghentikan mesin rusak dan melelang mobil direksi. Mereka merasa akhirnya ada yang melihat keadaan di bawah."
Nesia meminta kartu dipajang di ruang kerjanya. Dia juga mengajak para petugas makan bersama menggunakan roti yang dibawa Remy.
Seorang pekerja ragu duduk karena belum pernah makan semeja dengan pemimpin perusahaan. Nesia menarik kursi dan mengatakan dahulu dia melakukan pekerjaan yang sama.
Remy ikut membagikan makanan. Dalam perjalanan pulang, Nesia mengaku baru memahami bahwa jabatan bukan sekadar ruang besar dan tanda tangan.
"Setiap pilihanmu menjangkau orang yang tidak kamu kenal," jawab Remy. "Itulah sebabnya kamu harus beristirahat sebelum membuat pilihan berikutnya."
Nesia memeluk kartu itu. Beban kepemimpinan masih berat, tetapi kini dia memahami alasan untuk bertahan.
Sebelum meninggalkan gedung, dia meminta Maya menjadwalkan pertemuan mingguan dengan wakil setiap bagian. Nesia ingin mendengar persoalan langsung, bukan hanya melalui laporan direksi.
"Jadwal Nyonya akan semakin padat," ujar Maya.
"Kalau saya tidak sempat mendengar orang yang dipimpin, berarti jadwalnya yang harus diperbaiki."
Maya mencatat permintaan itu dan berjanji menyiapkan forum pertama minggu berikutnya.
***