Vino datang ke pelabuhan dengan wajah panik. Dia menyalahkan dirinya karena Hendra ikut terseret setelah membantu membuka catatan pembayaran Daniel.
"Saya akan menemui Armand," katanya.
"Dia meminta Nesia," jawab Remy. "Kedatanganmu hanya akan membahayakan Hendra."
Nesia membaca pesan pertukaran. Armand tidak meminta liontin atau dokumen, hanya percakapan selama sepuluh menit. Permintaan sederhana itu justru terasa lebih mencurigakan.
"Saya akan datang dengan alat komunikasi," putus Nesia.
"Tidak," kata Remy.
"Kita sudah melakukan ini sebelumnya."
"Dan kita hampir terbunuh di jembatan."
Dona menduga ayahnya ingin membujuk Nesia menarik tuntutan atau menggunakan dirinya sebagai jalan keluar. Dia menawarkan menggantikan, tetapi Armand pasti mengenali perbedaan mereka.
Polisi menyiapkan gudang dengan kamera jarak jauh. Nesia mengenakan rompi pelindung di balik mantel tebal. Remy berjanji tidak masuk kecuali ada tanda bahaya.
"Jangan menjadi pahlawan," pesan Nesia.
"Aku hanya akan menepati janji menjagamu."
Gudang pendingin berisi lorong-lorong peti ikan dan ruangan bersuhu rendah. Nesia berjalan mengikuti petunjuk dalam pesan sampai menemukan Hendra terikat di kursi. Armand berdiri beberapa meter di belakangnya dengan pistol.
"Akhirnya kita bisa bicara sebagai ayah dan anak," katanya.
"Seorang ayah tidak menodongkan senjata kepada putrinya."
"Kamu belum memahami apa yang sudah kulakukan untuk membuatmu tetap hidup."
Armand mengaku menyuruh William membawa Nesia ke panti karena keluarga istrinya akan membunuh bayi hasil perselingkuhan. Dia mengatakan kebakaran diperintahkan Adrian yang ingin menikahi Sandra, bukan dirinya.
"Mengapa saya harus percaya setelah semua kebohongan Anda?" tanya Nesia.
Armand mengeluarkan foto lama dari saku jas. Dalam foto itu, dia menggendong bayi Nesia di sebuah klinik. Di belakangnya tertulis tanggal tes DNA pertama.
"Aku datang setiap malam selama seminggu setelah kamu lahir," katanya. "Aku ingin membawa kamu dan Sandra pergi, tetapi keluarga Liana mengancam mengambil Dona jika aku meninggalkan pernikahan."
"Jadi Anda memilih satu anak dan menyembunyikan yang lain."
"Aku mencoba menjaga kalian berdua."
"Dengan membiarkan saya tumbuh tanpa nama? Dengan membuat Kak Dona hidup dalam kebohongan?"
Armand tidak mampu menjawab. Nesia melihat penyesalan di wajahnya, tetapi penyesalan itu selalu diikuti alasan untuk membenarkan kendali.
"Anda bisa mengakui saya setelah keluarga tidak lagi berkuasa," lanjut Nesia. "Anda punya puluhan tahun untuk mengatakan kebenaran."
"Setelah William meninggal, aku tidak tahu di mana kamu. Adrian dan Bram menyembunyikan laporan."
"Tetapi Anda membayar mereka."
"Agar mereka tidak membunuhmu."
Nesia menatap Hendra yang menggigil di kursi. "Dan sekarang Anda menculik orang lain dengan alasan yang sama. Tidak ada perlindungan dalam ruangan ini, hanya ketakutan."
Melalui alat komunikasi, Remy mendengar seluruh percakapan. Dia ingin masuk ketika suara Armand meninggi, tetapi menahan diri karena Nesia belum memberi tanda.
Armand menawarkan satu kesempatan terakhir. Dia telah menyiapkan paspor baru dan rumah di negara tanpa perjanjian ekstradisi. Jika Nesia ikut, seluruh saham akan dialihkan kepadanya setelah perkara selesai.
"Anda bahkan masih mencoba membeli pilihan saya," ujar Nesia.
"Aku menawarkan hidup tanpa utang dan ancaman."
"Hidup bersama orang yang menyakiti semua keluarga saya bukan kebebasan."
Armand terlihat terluka ketika Nesia menyebut keluarga lain. "Wilson baru mengenalmu beberapa minggu."
"Tetapi mereka belajar mengakui kesalahan. Anda terus meminta semua orang menganggap kesalahan sebagai pengorbanan."
Hendra diam-diam menggesek tali pengikat pada sisi kursi logam. Vino yang mengawasi dari kamera melihat gerakan itu dan memberi tahu polisi agar bersiap.
"Jika saya menyerah, apakah Anda benar-benar akan membebaskan semua pekerja dari utang?" tanya Nesia untuk mengulur waktu.
"Aku akan menandatangani pembatalannya."
"Kalau begitu lepaskan Pak Hendra sebagai bukti."
Armand mendekat hendak membuka ikatan. Pada saat itulah Hendra menjatuhkan kursi dan memberi kesempatan Nesia mundur.
"Lalu mengapa Anda membayar Adrian selama bertahun-tahun?"
"Untuk memastikan dia tidak menyakitimu."
"Anda juga mengancam panti dan menghalangi saya diadopsi."
"Karena jika kamu pergi, aku tidak bisa mengawasimu."
Nesia menggeleng. "Itu bukan perlindungan. Anda ingin mengendalikan semua orang agar rahasia tetap aman."
Armand menawarkan menghentikan seluruh utang Maheswari jika Nesia menandatangani pelepasan hak dan pergi ke luar negeri bersamanya.
"Bagaimana dengan Hendra?"
"Dia akan dilepaskan setelah kita pergi."
"Dan Remy?"
"Pernikahan itu tidak pernah seharusnya terjadi."
Nesia menatap ayah kandungnya tanpa kehangatan. "Pernikahan saya memang dimulai dari rencana Anda, tetapi yang terjadi setelahnya adalah pilihan kami. Saya tidak akan meninggalkan suami saya."
Armand marah dan mengarahkan pistol lebih dekat. Pada saat itu, Hendra menjatuhkan kursinya untuk mengalihkan perhatian. Nesia menekan tombol darurat.
Polisi masuk dari dua sisi. Remy berlari menuju Nesia meskipun sudah diperintahkan menunggu. Armand menembak lampu dan gudang menjadi gelap.
Suara perkelahian serta peti jatuh memenuhi ruangan. Remy menemukan Nesia melalui sinyal ponsel dan menariknya ke balik dinding. Vino bersama petugas membebaskan Hendra.
Armand melarikan diri melalui lorong pembuangan. Polisi mengejar hingga tepi dermaga, tetapi dia naik ke sebuah perahu cepat.
Dona sudah menunggu di jalur keluar menggunakan kapal patroli. "Berhenti, Ayah!" serunya.
Armand ragu menabrak kapal putrinya. Keraguan itu memberi polisi kesempatan mengepung. Perahunya berhenti setelah mesin terkena tembakan peringatan.
Armand akhirnya ditangkap tanpa luka berat. Saat diborgol, dia masih menatap Nesia.
"Kamu akan menyesal memilih Wilson," katanya.
Remy berdiri di samping Nesia. "Dia tidak memilih nama keluarga. Dia memilih orang yang tidak menjadikannya alat."
Armand dibawa ke kendaraan polisi. Hendra selamat meskipun mengalami hipotermia ringan.
Petugas medis membungkus tubuh Hendra dengan selimut hangat. Vino duduk di samping pamannya dan berulang kali meminta maaf karena hubungan mereka dengan Daniel membuka jalan bagi penculikan.
"Kamu tidak menculik saya," ujar Hendra. "Setelah ini kita hanya perlu lebih berhati-hati menerima orang."
Hendra menyerahkan kunci kecil yang sempat dimasukkan Armand ke sakunya. Pada kepala kunci terdapat nomor peti kapal.
Polisi membuka peti tersebut dan menemukan kontrak utang asli Maheswari serta rekaman pembayaran kepada Bram. Dona mengenali tulisan tangan ayahnya pada sampul: berikan seluruh arsip kepada kedua putriku jika aku gagal pergi.
"Ayah mungkin sengaja memberikan kunci ini," kata Dona.
"Atau menyembunyikannya agar tidak ditemukan ketika ditangkap," jawab Remy.
Nesia tidak tahu apakah tindakan itu bentuk penyesalan atau strategi lain. Namun, bukti tersebut bisa membantu menyelamatkan perusahaan dan membuka peran Bram.
Di dalam ambulans, Vino meminta maaf kepada Nesia karena pernah mempercayai Dona dan menyerang pernikahannya.
"Abang hanya ingin kamu bahagia," ujarnya.
"Saya tahu. Tetapi kebahagiaan saya sekarang ada di tempat yang berbeda."
Vino mengangguk dan akhirnya menerima. Dia mengulurkan tangan kepada Remy. Setelah ragu, Remy menyambutnya.
Penangkapan Armand bukan akhir dari semua masalah, tetapi malam itu satu ancaman terbesar akhirnya berhenti mengejar mereka.
***