Nama Martha membuat Nesia teringat Martha Hall. Selama ini dia mengira gedung tersebut memakai nama pemilik lama, tetapi Bu Nita tidak pernah bercerita mengenai asalnya.
"Apakah mungkin ada hubungan?" tanya Nesia.
Remy menghubungi Bu Nita dan meminta bertemu. Perempuan itu datang ke rumah sakit pagi hari dengan wajah tegang setelah mendengar nama Bram.
"Martha adalah ibu saya," katanya. "Beliau mendirikan gedung itu bersama Nyonya Helena."
Remy terkejut. Dia tidak pernah tahu ibunya ikut memiliki gedung pernikahan tempat dirinya menikahi Nesia.
Bu Nita menjelaskan Helena menggunakan sebagian uang pribadi untuk membangun tempat yang bisa mempekerjakan perempuan dari keluarga kurang mampu. Setelah Helena meninggal, seluruh kepemilikan diserahkan kepada Martha agar tidak diambil Armand.
"Nyonya Helena datang hampir setiap sore ketika pembangunan dimulai," kenang Bu Nita. "Beliau tidak hanya menandatangani cek. Beliau memilih ruang menyusui, dapur pekerja, dan pintu belakang agar karyawan perempuan bisa pulang dengan aman."
Nesia memandang lorong Martha Hall dengan perasaan berbeda. Tempat itu bukan sekadar gedung tempatnya bekerja, melainkan bagian dari cita-cita Helena yang tanpa sadar melindunginya.
"Mengapa setelah Ibu meninggal pekerja tidak pernah tahu namanya?" tanya Remy.
"Bram mengancam keluarga kami. Martha menghapus nama Helena dari dokumen umum, tetapi tetap mengirim laporan yayasan kepada William."
Bu Nita memperlihatkan buku gaji lama. Banyak pekerja perempuan yang pernah dibantu mengikuti kursus dan membuka usaha. Martha Hall selalu menyisihkan sebagian keuntungan untuk Panti Kasih Bunda.
"Jadi tempat ini juga membantu panti saya?" tanya Nesia.
"Ya. Mungkin itu alasan kamu diterima bekerja meskipun belum punya pengalaman. Ibu Maria mengirim surat rekomendasi menggunakan nama yayasan Helena."
Remy tersenyum tipis. Jalur hidup mereka ternyata bersinggungan jauh sebelum hari pernikahan.
"Ibu mempertemukan kita tanpa mengetahui caranya," katanya.
"Jangan membuat perintah pengawal terdengar romantis," balas Nesia.
"Aku tetap menyesali caranya. Tetapi aku tidak menyesali kamu berada dalam hidupku."
Bu Nita meninggalkan keduanya beberapa saat untuk mengambil kunci. Remy berjalan ke ruang utama dan membayangkan ibunya berdiri di sana merencanakan gedung.
"Saya berharap beliau bisa melihatmu sekarang," ujar Nesia.
"Dia mungkin akan memarahiku lebih dahulu karena cara kita menikah."
"Setelah itu beliau mungkin memelukmu."
Remy mengangguk sambil menahan emosi. Nesia merangkul pinggangnya dan membiarkan pria itu menyimpan kepala di bahunya.
Saat Bu Nita kembali, dia membawa sebuah syal milik Helena yang disimpan Martha. Remy menerima benda itu dengan tangan gemetar. Aroma lama sudah hilang, tetapi sulaman nama ibunya masih utuh.
"Martha ingin memberikannya ketika Tuan siap mengetahui kebenaran," kata Bu Nita.
Remy menyimpan syal tersebut bersama surat yang ditemukan di brankas.
"Mengapa Ibu tidak pernah memberi tahu?" tanya Remy.
"Nyonya Helena meminta hubungan mereka dirahasiakan. Beliau menyimpan bukti transaksi Armand di kantor lama gedung."
Martha meninggal beberapa tahun lalu dan meninggalkan kunci ruangan kepada Bu Nita. Namun, Bu Nita tidak pernah berhasil membukanya karena membutuhkan kata sandi.
Tanggal kematian Helena dan nama Martha membuka flashdisk Bram. Isinya berisi daftar pembayaran, video pengawasan, dan salinan pesan antara Bram, Adrian, serta Armand.
Ada pula rekaman suara Helena pada malam sebelum kecelakaan. Dia mengatakan akan menyimpan bukti asli di tempat banyak orang merayakan awal kehidupan baru.
"Martha Hall," ujar Nesia.
Mereka pergi ke gedung bersama polisi. Bu Nita membawa kunci ruang kantor lama di bawah panggung. Pintu besi tersembunyi di balik lemari dekorasi.
Di dalamnya terdapat brankas kecil, foto Helena dan Martha, serta buku catatan yayasan. Brankas memakai kombinasi tanggal pembukaan gedung.
Setelah dibuka, mereka menemukan laporan asli mengenai sabotase mobil Helena dan rekaman Bram memberi perintah kepada Jaka. Bukti tersebut jauh lebih jelas daripada salinan William.
Penyidik memutar sebagian rekaman di tempat. Suara Bram terdengar menyuruh Jaka mengganti selang rem, lalu menjanjikan jalan keluar negeri. Jaka sempat menolak karena Helena sering membantu keluarganya, tetapi ancaman terhadap anaknya membuat dia menyerah.
Remy mengepalkan tangan. Nesia berdiri di depannya agar tatapan mereka bertemu.
"Kita sudah menemukan kebenaran," katanya. "Jangan biarkan kemarahan membuat Anda melakukan kesalahan baru."
Remy menarik napas panjang dan menyerahkan rekaman itu kepada polisi. Dia meminta salinannya disimpan secara resmi, bukan dibawa ke rumah. Keputusan kecil tersebut membuktikan dia tidak lagi ingin menguasai penyelidikan sendiri.
Bu Nita kemudian menempelkan kembali foto Helena dan Martha ke dinding ruangan. Tempat persembunyian itu kelak akan diubah menjadi ruang arsip yayasan, agar sejarah kedua perempuan tersebut tidak lagi dikubur oleh ketakutan.
"Ibu menyimpan semuanya di tempat yang akhirnya mempertemukan kita," kata Remy kepada Nesia.
Nesia memegang foto Helena. "Mungkin beliau tidak pernah membayangkan caranya akan seperti itu."
Bu Nita juga menemukan surat untuk Remy. Helena meminta putranya melanjutkan kegiatan yayasan dan tidak menilai seseorang berdasarkan pekerjaan atau keluarga.
"Saya memperlakukan Nesia dengan cara yang bertentangan dengan semua pesan Ibu," ujar Remy.
"Tetapi kamu belajar memperbaikinya," jawab Nesia.
Bukti diserahkan kepada penyidik. Bram tidak lagi bisa menyangkal keterlibatan dalam kematian Helena dan kebakaran rumah Sandra.
Saat hendak meninggalkan gedung, Nesia melihat dekorasi lamaran masih terpasang. Bunga lili mulai layu, tetapi kartu dari anak-anak panti tetap berada di panggung.
"Saya merusak malam itu," ujar Bu Nita.
"Tidak ada yang rusak," jawab Nesia. "Kami hanya menundanya."
Remy berdiri di tempat dia sempat berlutut. "Aku masih memiliki cincin dan pertanyaan yang sama."
"Saya sudah menjawab di rumah sakit."
"Aku ingin mendengarnya di sini."
Nesia tersenyum dan berdiri di hadapannya. "Ya, Remy. Saya memilih menikah denganmu lagi."
Para pekerja Martha Hall yang mendengar bertepuk tangan. Remy memasangkan cincin, lalu mencium tangan Nesia.
Bu Nita menawarkan gedung secara gratis untuk pernikahan mereka. Nesia menerima dengan syarat semua pekerja dibayar dan acara tidak dibuat berlebihan.
Ketika mereka keluar, polisi membawa Bram untuk rekonstruksi. Lelaki itu melihat cincin Nesia dan tertawa sinis.
"Kalian merayakan terlalu cepat," katanya. "Armand belum mengatakan seluruh kebenaran tentang William."
Penyidik menghentikan Bram dan menanyakan maksudnya. Dia mengklaim William pernah menawarkan perlindungan jika Bram menyerahkan bukti, lalu mencoba mengambil alih jaringan pemerasan.
"Buktikan di pengadilan," jawab Remy. "Kami akan menyerahkan semua catatan Papa tanpa menyembunyikan apa pun."
Ketegasan itu membuat senyum Bram hilang. Dia berharap nama William menjadi kelemahan yang membuat Remy takut membuka dokumen. Sebaliknya, Remy memilih kebenaran meskipun mungkin merusak nama keluarganya sendiri.
Nesia menggenggam tangan Remy. Apa pun yang tersimpan di antara berkas William, mereka akan menghadapinya sebagai keluarga, bukan lagi sebagai orang-orang yang saling melindungi dengan kebohongan.
Bram dibawa pergi. Nesia melihat Remy dan menyadari lelaki itu sudah tidak lagi hidup hanya untuk reputasi.
***