Keterangan Bram tidak langsung dipercaya. Penyidik menilai dia berusaha memecah keluarga agar mendapatkan keringanan. Namun, Remy tetap meminta semua transaksi William diperiksa terbuka.
"Jika Papa melakukan kesalahan lain, saya ingin mengetahuinya," katanya.
Audit menemukan William pernah mengirim uang kepada Bram setelah kematian Helena. Bram mengklaim itu pembayaran agar dirinya diam, tetapi catatan William menyebut dana operasi rahasia.
Miriam menjelaskan William membayar Bram untuk mengetahui lokasi Jaka dan bukti kecelakaan. Ketika menyadari Bram sendiri dalangnya, William menghentikan pembayaran.
"Papa mencoba menyelidiki tanpa polisi karena takut keluarga kita diancam," ujar Lukas.
"Kesalahannya tetap sama," jawab Remy. "Dia terus memilih bekerja sendiri dan menyimpan rahasia."
Nesia setuju bahwa niat baik tidak menghapus akibat. Mereka menyerahkan seluruh catatan tanpa menutupi nama William. Transparansi itu membuat polisi lebih percaya pada kesaksian keluarga.
Selama tiga hari, ruang kerja William berubah menjadi tempat pemeriksaan. Dua penyidik, seorang auditor, dan pengacara keluarga membuka lemari arsip satu demi satu. Remy tidak meninggalkan ruangan kecuali untuk tidur. Setiap kali menemukan transaksi yang meragukan, dia sendiri yang menandainya.
Salah satu berkas menunjukkan William pernah membayar biaya sekolah anak seorang penjaga gudang yang tewas akibat perintah Armand. Tidak ada nama keluarga Wilson pada kuitansi itu. Di berkas lain, William membeli tanah yang pernah dirampas perusahaan Maheswari, lalu berencana mengembalikannya kepada pemilik lama.
"Papa rupanya mencoba memperbaiki beberapa kesalahan," kata Lukas.
"Diam-diam lagi," sahut Remy. "Kebaikan yang disembunyikan tidak memberi kesempatan kepada korban untuk memilih apakah mereka mau menerimanya."
Miriam menyarankan agar dana yang belum tersalurkan dipindahkan ke lembaga independen. Remy setuju, tetapi meminta para korban dilibatkan dalam pengelolaannya. Nesia melihat perubahan paling besar bukan pada keputusan itu, melainkan pada kesediaan Remy mendengar sebelum memutuskan.
Armand juga mulai memberikan keterangan dari rumah sakit tahanan. Dia mengakui membantu menutup kebakaran dan kematian Helena, meskipun membantah memberi perintah pembunuhan.
"Pengadilan akan menentukan hukumannya," ujar Dona setelah pemeriksaan. "Saya tidak tahu apakah saya ingin Ayah bebas atau dipenjara."
"Kamu boleh tetap mencintainya dan menginginkan dia bertanggung jawab," kata Nesia.
Dona menatap adiknya. "Kamu selalu punya jawaban yang membuat semuanya terdengar mudah."
"Tidak mudah. Saya juga masih marah kepada Ibu karena terlalu lama diam, tetapi saya ingin mengenalnya."
Sandra sudah diperbolehkan pulang dan sementara tinggal di rumah Remy karena rumahnya masih menjadi lokasi penyelidikan. Liana juga sering datang menemani Dona.
Rumah yang dulu sunyi kini dipenuhi dua ibu, dua saudara perempuan, Lukas, Edo, serta para pekerja. Remy beberapa kali mengeluh tidak memiliki tempat tenang.
Untuk sementara, penjagaan rumah diperketat. Kaca yang pecah diganti, kode pintu diubah, dan setiap pekerja mendapat tombol darurat. Remy ingin memindahkan semua orang ke hotel, tetapi Bu Maryam menolak.
"Kalau setiap penjahat datang lalu kita pergi, kapan rumah ini menjadi milik kita lagi?" tanyanya.
Kalimat itu membuat Remy membatalkan rencana kepindahan. Sebagai gantinya, dia meminta Lukas mengadakan latihan keselamatan. Ani belajar mematikan aliran gas, Sandra menghafal jalur keluar, sementara Edo terlalu bersemangat memainkan peran penyerang sampai Dona melempar bantal kepadanya.
Kecemasan yang semula memenuhi lorong perlahan berubah menjadi kerja sama. Nesia menyadari rasa aman tidak selalu berarti tidak ada bahaya. Kadang-kadang, rasa aman lahir karena seseorang tahu dia tidak akan ditinggalkan ketika bahaya datang.
"Dulu kamu menganggap rumah terlalu sepi," ujar Nesia.
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Wajahmu mengatakannya."
Bu Maryam dan Ani kembali bekerja setelah mengambil waktu istirahat. Remy menawarkan biaya perawatan serta cuti, tetapi keduanya memilih kembali karena tidak ingin Bram membuat mereka takut pada rumah sendiri.
Nesia mengadakan makan malam untuk menyambut mereka. Semua orang duduk di meja yang sama, termasuk pekerja keamanan yang terluka.
"Rumah ini tidak lagi memiliki aturan bahwa pekerja harus makan terpisah," kata Nesia.
Remy mengangkat alis. "Kapan kamu mengubah aturan rumahku?"
"Ketika Anda mengatakan keputusan kita harus dibuat bersama."
"Kamu tidak membicarakan ini denganku."
"Sekarang saya sedang membicarakannya."
Semua orang tertawa melihat Remy kehilangan argumen. Akhirnya dia menyetujui makan bersama dilakukan setidaknya sekali seminggu.
Setelah makan, Sandra memberikan album masa kecil yang sempat diselamatkan. Ada ruang kosong untuk foto Nesia selama tahun-tahun mereka terpisah.
"Kita tidak bisa mengisi masa lalu," kata Sandra. "Tetapi Ibu ingin membuat banyak foto baru."
Nesia memeluknya. Dona ikut berdiri di sisi mereka meskipun masih canggung. Liana meminta Edo mengambil foto keluarga pertama mereka.
Remy dan Lukas juga masuk dalam gambar. Miriam berdiri dekat Sandra dan Helena diwakili foto kecil yang diletakkan di meja.
Ketika kamera berbunyi, semua orang tersenyum tanpa perlu berpura-pura.
Hasil fotonya tidak sempurna. Mata Edo setengah terpejam, Lukas masih memegang gelas, dan Dona menoleh karena Liana mengatakan sesuatu tepat sebelum tombol ditekan. Sandra tetap meminta foto itu dicetak besar.
"Keluarga kita memang tidak pernah rapi," katanya. "Jadi, foto ini paling jujur."
Bu Nita meminta satu salinan untuk diletakkan di ruangannya. Dia sempat ragu berdiri di sisi Sandra, tetapi kedua perempuan itu akhirnya saling merangkul. Mereka belum menyelesaikan semua kesalahpahaman tentang Helena dan William. Meski demikian, mereka sepakat tidak lagi mewariskan permusuhan kepada anak-anak.
Pada hari yang sama, Nesia kembali ke kantor. Para pegawai menyambutnya dengan bunga dan tulisan tangan. Dia tidak mengadakan pidato panjang. Nesia hanya memastikan gaji mereka selama gedung ditutup tetap dibayar, kemudian meminta laporan pekerjaan yang tertunda.
"Saya kira Ibu akan mengambil cuti," ujar seorang staf.
"Saya akan mengambilnya setelah menikah," jawab Nesia. "Sebelum itu, jangan jadikan drama keluarga saya alasan target kalian tidak selesai."
Tawa memenuhi ruangan. Kehidupan biasa, dengan rapat dan tenggat waktu, terasa seperti hadiah yang selama ini tidak mereka hargai.
Malam itu, Nesia dan Remy duduk di taman membahas tanggal pernikahan. Mereka sepakat menunggu proses awal persidangan selesai agar keluarga bisa hadir tanpa ancaman.
"Saya tidak membutuhkan pesta besar," ujar Nesia.
"Aku hanya ingin kali ini kamu memakai gaun yang kamu pilih sendiri."
"Dan tidak ada pistol."
"Itu syarat yang sangat masuk akal."
Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya, masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa direncanakan tanpa ketakutan.
Remy membuka kalender di telepon, tetapi Nesia menutup layarnya dengan telapak tangan. Malam itu mereka tidak memilih tanggal. Mereka hanya menuliskan tiga hal yang diinginkan dalam pernikahan: keluarga yang jujur, tamu yang benar-benar mengenal mereka, dan janji yang tidak dibuat karena utang.
Kertas kecil itu ditempel Nesia di pintu lemari. Di bawahnya, Remy menambahkan satu kalimat dengan tulisan miring.
"Tidak boleh ada pengantin yang kabur."
Nesia menulis balasan tepat di bawahnya.
"Tidak boleh ada suami yang membuat kontrak."
***