Persiapan pernikahan dimulai dengan perdebatan mengenai jumlah tamu. Remy ingin mengundang seluruh relasi bisnis agar tidak ada lagi keraguan mengenai status Nesia. Nesia hanya ingin keluarga, teman panti, dan pekerja terdekat.
"Lima ratus tamu bukan jumlah besar," ujar Remy.
"Bagi saya, lima ratus orang adalah satu kecamatan."
"Pernikahan keluarga Wilson biasanya dihadiri lebih banyak."
"Ini juga pernikahan Vanesia."
Remy langsung berhenti membantah. Dia menyetujui seratus tamu dengan tambahan siaran daring untuk relasi yang tidak hadir.
Daftar itu kemudian menyusut menjadi delapan puluh tujuh orang setelah Nesia mencoret nama-nama yang bahkan tidak pernah berbicara dengan mereka. Sebagai gantinya, dia menambahkan pengasuh panti, guru sekolahnya, dan para pekerja Martha Hall.
Bu Nita menawarkan perusahaan penyelenggara acara langganan keluarga Wilson. Nesia menolak paket termewah dan meminta sebagian anggaran digunakan untuk memperbaiki perpustakaan panti.
"Pernikahan seharusnya merayakan hidup baru," katanya. "Saya ingin anak-anak di sana juga mendapat sesuatu yang bertahan lebih lama daripada bunga."
Remy meminta proposal perbaikan pada hari itu juga. Dia tidak mencantumkan nama mereka di gedung perpustakaan karena Nesia tidak ingin bantuan berubah menjadi iklan keluarga.
Anak-anak panti tetap mendapat peran dalam acara. Mereka membuat kartu nama tamu dari kertas daur ulang dan melukis gambar kecil di setiap kartu. Tidak ada dua kartu yang sama. Remy menyimpan kartu bergambar pengantin dengan tangan terlalu panjang di dalam dompetnya.
Rosa membantu memilih gaun. Kali ini Nesia menolak gaun terlalu mewah dan memilih model sederhana dengan lengan panjang.
"Kamu sekarang pewaris Maheswari," ujar Rosa. "Tidak perlu takut terlihat menonjol."
"Saya ingin orang melihat saya, bukan harga gaunnya."
Dona datang membawa kotak perhiasan keluarga. Di dalamnya terdapat kalung milik Sandra saat menikah.
"Ibu ingin kamu memakainya," katanya.
Nesia menerima dengan mata berkaca-kaca. "Kak Dona tidak keberatan?"
"Itu milik keluarga Maheswari, bukan milikku sendiri."
Dona juga bersedia berdiri sebagai pendamping pengantin setelah Nesia memintanya. Sebagai balasan, dia meminta hak memilih sepatu agar Nesia tidak memakai alas kaki yang dianggap terlalu sederhana.
"Saya akan kesulitan berjalan jika terlalu tinggi."
"Kita latihan. Bukankah kamu sudah belajar kepribadian?"
Rosa tersenyum melihat kedua saudara itu berdebat seperti sudah tumbuh bersama.
Latihan sepatu dilakukan di lorong rumah. Nesia berhasil berjalan lurus selama lima menit sebelum hak sepatunya tersangkut karpet. Dona menangkap lengannya, lalu keduanya jatuh terduduk dan tertawa sampai Sandra keluar dari kamar.
"Ibu punya dua anak perempuan dan tidak satu pun bisa berjalan anggun," keluh Sandra, meskipun dia ikut tertawa.
Momen itu sederhana, tetapi Nesia menyimpannya dalam ingatan. Dulu dia membayangkan persiapan pernikahan akan dijalani bersama ibu yang tidak pernah dikenalnya. Kini Sandra ada di sana, membetulkan ujung gaun, sementara Dona sibuk memilih anting. Tahun-tahun yang hilang tidak kembali, tetapi ruang kosong di antara mereka mulai terisi oleh kejadian-kejadian kecil.
Remy memilih Lukas sebagai pendampingnya. Keputusan itu membuat Lukas terdiam haru.
"Edo akan marah," katanya.
"Dia mendapat tugas memastikan tidak ada makanan yang habis sebelum acara. Itu pekerjaan yang sesuai dengannya."
Edo benar-benar protes, tetapi akhirnya menerima setelah dijanjikan posisi pemberi sambutan.
Pemilihan jas berlangsung tidak lebih tenang. Remy menginginkan warna hitam, Lukas menyarankan biru gelap, dan Edo datang membawa dasi bermotif ayam sebagai lelucon. Nesia diam-diam menyimpan dasi itu untuk dipakai Remy pada makan malam setelah acara.
Mereka juga berlatih dansa di ruang keluarga. Remy yang selalu tampak yakin ternyata dua kali menginjak kaki Nesia.
"Anda bilang bisa berdansa," protes Nesia.
"Aku bilang pernah belajar. Itu informasi yang berbeda."
Lukas merekam kesalahan mereka sampai Remy merebut teleponnya. Sandra kemudian mengajari mereka langkah paling sederhana. Setelah musik selesai, Nesia tetap menyandarkan kepala pada dada Remy. Untuk sesaat, tidak ada penyelidikan, nama keluarga, atau masa lalu. Hanya ada dua orang yang mencoba menemukan irama yang sama.
"Kalau nanti aku menginjak kakimu lagi, tetaplah menikah denganku," bisik Remy.
"Saya akan mempertimbangkannya setelah melihat kondisi kaki saya," balas Nesia.
Mereka berlatih sampai malam dan akhirnya berhasil menyelesaikan satu lagu tanpa kesalahan. Tepuk tangan dari balik pintu membuat keduanya sadar seluruh keluarga diam-diam menonton.
Nesia mengundang Tita. Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih, tetapi Tita sudah bekerja sama dengan polisi dan mengembalikan uang Dona melalui cicilan.
"Aku tidak yakin pantas datang," ujar Tita melalui telepon.
"Datanglah sebagai orang yang sedang memperbaiki kesalahan, bukan berpura-pura tidak pernah membuatnya."
Tita menangis dan berjanji hadir bersama ibunya.
Nesia meminta Tita datang sehari lebih awal untuk membantu menyusun bunga bersama pekerja lain. Dia tidak ingin menempatkan sahabat lamanya di meja khusus seolah kesalahan Tita sudah lenyap. Namun, dia juga tidak ingin satu pengkhianatan menjadi satu-satunya identitas Tita seumur hidup.
"Kepercayaan saya belum kembali sepenuhnya," kata Nesia jujur.
"Aku tahu. Aku akan membangunnya selama yang dibutuhkan," jawab Tita.
Percakapan itu tidak langsung mengembalikan kedekatan mereka. Setidaknya, keduanya tidak lagi menyembunyikan rasa bersalah di balik basa-basi.
Undangan untuk Vino menjadi hal paling sulit. Nesia merasa perlu mengundangnya sebagai bagian penutupan masa lalu, tetapi takut melukai perasaannya.
Remy tidak menyukai gagasan tersebut, namun tidak melarang.
"Kamu ingin dia datang?" tanyanya.
"Saya ingin dia tahu saya tidak membencinya. Hubungan kami berakhir karena kami tidak berani melawan keadaan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya memilih seseorang yang bersedia belajar melawan ketakutannya bersama saya."
Remy akhirnya menyetujui. Vino menerima undangan dan mengatakan akan datang bersama Hendra.
Bu Tuti, ibu Vino, mendengar kabar pernikahan dari anaknya. Dia meminta alamat rumah Remy karena ingin menemui Nesia sebelum acara.
"Apakah kamu mau menerimanya?" tanya Remy.
Nesia mengingat penghinaan malam hujan yang mengubah hidupnya. Luka itu sudah tidak setajam dulu, tetapi belum benar-benar hilang.
Dia bertanya kepada Sandra apa yang sebaiknya dilakukan. Ibunya tidak memberi perintah.
"Memaafkan dan menerima kembali adalah dua hal berbeda," ujar Sandra. "Kamu boleh mendengar permintaan maaf tanpa memberikan tempat yang sama dalam hidupmu."
Nasihat itu membuat Nesia tenang. Selama ini dia mengira orang baik harus segera melupakan kesalahan orang lain. Kini dia memahami batas juga dapat menjadi bentuk penghormatan kepada diri sendiri.
"Saya akan menemuinya," jawab Nesia. "Bukan karena ingin membalas, tetapi karena saya tidak mau membawa luka lama ke pernikahan baru."
Keesokan harinya, mobil sederhana berhenti di depan rumah. Bu Tuti turun tanpa perhiasan mencolok dan membawa sebuah kotak kecil.
Perempuan yang dulu menolak menjabat tangan Nesia kini berdiri dengan kepala tertunduk.
***