Bu Tuti menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Ketika Nesia datang, perempuan itu berdiri dan mengulurkan tangan. Pemandangan itu mengingatkan Nesia pada malam ketika tangannya dibiarkan menggantung.
Nesia menyambut uluran tersebut dengan sopan.
"Terima kasih sudah menerima saya," ujar Bu Tuti.
"Silakan duduk, Bu."
Remy berada di ruang kerja tetapi sengaja membiarkan Nesia menghadapi percakapan sendiri. Lukas menunggu tidak jauh jika dibutuhkan.
Bu Tuti meletakkan kotak di atas meja. Isinya gelang sederhana yang dahulu dibeli Vino untuk Nesia, tetapi tidak pernah sempat diberikan.
"Vino menyimpannya sejak kalian berpisah," katanya. "Dia meminta saya mengembalikan karena tidak ingin membawa kenangan yang bukan lagi miliknya."
Nesia menyentuh gelang itu tanpa mengambil. "Ibu bisa mengembalikannya kepada Bang Vino. Saya rasa benda ini tetap miliknya."
"Dia ingin kamu memilikinya sebagai permintaan maaf."
"Saya tidak membutuhkan barang untuk memaafkan."
Bu Tuti menunduk. "Saya datang bukan hanya karena Vino. Saya ingin meminta maaf atas perkataan saya malam itu."
Nesia diam. Sebagian dirinya ingin mengatakan penghinaan tersebut tidak penting lagi. Namun, menghapus luka dengan jawaban mudah berarti tidak jujur.
"Perkataan Ibu membuat saya merasa tidak layak dicintai hanya karena tidak punya orang tua," ujarnya. "Saya membawa perasaan itu bahkan ketika masuk ke rumah Remy."
"Saya salah. Saya menilai manusia dari keluarga dan pekerjaan. Ketika melihat berita kamu membela para pekerja, saya sadar perempuan yang saya rendahkan justru memiliki hati lebih besar daripada saya."
Nesia menahan air mata. "Saya menerima permintaan maaf Ibu. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura malam itu tidak pernah terjadi."
"Saya mengerti. Saya tidak meminta kamu melupakannya."
Bu Tuti menceritakan bahwa setelah malam tersebut, Vino berhenti makan bersama keluarga selama berminggu-minggu. Dia tetap bekerja, tetapi tidak pernah lagi membicarakan rencana pernikahan. Bu Tuti sempat menyalahkan Nesia sebelum menyadari anaknya terluka karena tidak mampu mempertahankan keputusan sendiri.
"Saya membesarkan Vino untuk patuh, lalu marah ketika dia tidak cukup berani," katanya. "Kesalahan itu milik saya juga."
Nesia mendengarkan tanpa merasa harus menghibur. Pengakuan tersebut bukan hukuman dan bukan pula pembebasan. Itu hanya kebenaran yang terlambat disampaikan, tetapi tetap layak didengar.
"Saya berharap Ibu tidak lagi memilihkan kebahagiaan Bang Vino berdasarkan keuntungan keluarga," ujar Nesia.
"Saya berjanji akan belajar."
"Jangan berjanji kepada saya. Buktikan kepada anak Ibu."
Bu Tuti mengangguk, menerima ketegasan itu tanpa tersinggung.
Bu Tuti mengaku penolakannya juga dipengaruhi ketakutan kehilangan Vino. Dia ingin anaknya menikah dengan keluarga yang bisa membantu usaha mereka. Pada akhirnya, sikap itu justru membuat Vino menjauh.
"Apakah hubungan Ibu dan Bang Vino sudah membaik?"
"Kami sedang mencoba. Dia mulai berani mengatakan keputusan sendiri."
Nesia tersenyum. "Itu hal yang baik."
Vino ternyata menunggu di mobil. Setelah mendapat izin, dia masuk dan duduk bersama mereka. Tidak ada lagi permintaan agar Nesia kembali.
"Abang akan datang ke pernikahanmu," katanya. "Bukan untuk mengubah keputusan, tetapi mengucapkan selamat."
"Terima kasih, Bang."
"Remy memperlakukanmu dengan baik?"
"Kami masih sering bertengkar, tetapi sekarang kami belajar mendengar."
Vino mengaku sudah menerima pekerjaan di kota lain. Dia ingin memulai hidup tanpa terus membandingkan setiap keputusan dengan masa ketika dirinya gagal membela Nesia. Hendra akan membantu menjaga usaha keluarga, sementara Bu Tuti mulai menyerahkan tanggung jawab kepadanya secara perlahan.
"Dulu Abang berpikir kehilanganmu adalah hukuman terbesar," kata Vino. "Sekarang Abang tahu hukuman sebenarnya adalah menjadi orang yang sama dan mengulangi ketakutan itu."
"Kalau begitu, jangan ulangi," jawab Nesia. "Hidup yang baik tidak berhenti hanya karena kita tidak menjalaninya bersama."
Vino tersenyum. Tidak ada harapan tersembunyi dalam tatapannya kali ini. Yang tersisa hanyalah kasih kepada seseorang yang pernah menjadi rumah, lalu berubah menjadi bagian dari masa lalu.
Remy yang mendengar dari pintu akhirnya masuk. Dia menyambut Vino tanpa permusuhan, meskipun suasana tetap canggung.
"Saya menitipkan Nesia," ujar Vino.
"Dia bukan barang yang bisa dititipkan," jawab Remy.
Nesia memutar mata. "Kalian baru bicara satu kalimat dan sudah mulai."
Vino tertawa kecil. "Baik. Saya hanya berharap kalian bahagia."
Remy mengangguk. "Kami akan berusaha."
Ketegangan akhirnya pecah ketika Lukas masuk membawa minuman dan sengaja bertanya apakah kedua lelaki itu perlu sarung tinju. Bu Tuti menegurnya, sedangkan Nesia tertawa. Remy bahkan menawarkan Vino melihat rancangan perpustakaan panti karena mengetahui lelaki itu pernah membantu memperbaiki rak di sana.
Mereka berbicara tentang hal-hal biasa selama beberapa menit. Remy tidak mencoba menunjukkan bahwa dirinya lebih kaya atau lebih berkuasa. Vino juga tidak mengungkit pengorbanan masa lalu. Bagi Nesia, sikap tenang keduanya menjadi tanda bahwa bab lama benar-benar bisa ditutup tanpa harus membenci siapa pun.
Bu Tuti melihat cincin di jari Nesia dan mengucapkan selamat. Sebelum pulang, dia kembali mengulurkan tangan. Kali ini Nesia tidak hanya menjabat, tetapi memeluknya singkat.
Setelah tamu pergi, Remy bertanya apakah Nesia baik-baik saja.
"Saya merasa lebih ringan," jawabnya. "Memaafkan ternyata tidak membuat apa yang terjadi menjadi benar, tetapi membuat saya berhenti hidup di malam itu."
Remy memeluknya. "Aku juga masih belajar melakukan hal yang sama kepada Papa dan Armand."
"Kita tidak perlu terburu-buru."
Nesia kemudian membawa gelang itu ke panti. Dengan izin Vino, dia menyerahkannya untuk lelang amal yang akan membiayai buku-buku baru. Benda yang dahulu menjadi simbol rencana yang gagal akhirnya membantu membangun masa depan orang lain.
Bu Sari, pengasuh panti, bertanya apakah Nesia tidak ingin menyimpannya sebagai kenangan.
"Saya sudah menyimpan pelajarannya," jawab Nesia. "Saya tidak membutuhkan bendanya."
Sore harinya, Nesia dan Remy menandatangani undangan terakhir. Mereka memeriksa kembali daftar tamu, jalur keamanan, dan tempat duduk para ibu. Remy menempatkan Bu Nita, Sandra, serta Bu Maryam di meja depan yang sama.
"Bu Maryam akan mengatakan dia hanya pekerja," ujar Nesia.
"Kalau begitu, kamu yang menjelaskan bahwa dia keluarga," jawab Remy.
Jawaban itu membuat Nesia mengecup pipinya. Remy segera meminta hadiah serupa untuk setiap keputusan bagus yang dibuatnya, tetapi Nesia mengatakan sistem tersebut masih harus dibahas dalam rapat keluarga.
Malam itu, undangan pernikahan selesai dicetak. Nesia memandang namanya berdampingan dengan Remy tanpa kata kontrak atau batas waktu.
Namun, Lukas datang membawa kabar dari penyidik. Dalam flashdisk Bram ditemukan daftar sasaran terakhir jika dirinya tertangkap.
Wajah Lukas membuat candaan mereka berhenti. Dia mengunci pintu ruang kerja sebelum menunjukkan salinan pesan terenkripsi. Tidak ada nama penerima, hanya kode transaksi dan bukti pembayaran melalui tiga rekening penampung.
"Polisi baru memecahkan bagian ini satu jam lalu," katanya. "Mereka yakin penerimanya masih berada di kota."
Remy langsung menelepon kepala keamanan, tetapi Nesia memintanya tidak panik. Mereka sudah belajar bahwa ketakutan dapat mendorong seseorang mengambil keputusan sendiri dan menjauhkan orang yang hendak dilindungi.
"Tidak ada yang bergerak tanpa memberi tahu yang lain," kata Nesia. "Termasuk Anda."
Remy menatapnya, kemudian mengangguk. "Kali ini kita menghadapinya bersama."
Nama pertama adalah Nesia. Nama kedua adalah Dona.
Perintah tersebut sudah dikirim kepada seseorang yang belum teridentifikasi tiga hari lalu.
***