Rumah Remy kembali berubah menjadi tempat perlindungan. Semua pintu dijaga, kendaraan diperiksa, dan polisi menempatkan dua petugas di halaman. Dona diminta meninggalkan apartemennya malam itu juga.
"Saya tidak mau dikurung lagi," protes Dona setelah tiba bersama Liana.
"Ini bukan hukuman," jawab Remy. "Ada orang yang dibayar untuk menyerangmu."
"Justru karena itu saya tidak mau duduk menunggu."
Nesia memahami kemarahan kakaknya. Setelah bertahun-tahun dikendalikan Armand, perlindungan mudah terasa seperti penjara. Dia mengusulkan agar Dona ikut mendengar laporan penyidik dan menentukan pengamanan untuk dirinya sendiri.
Remy sempat menolak, tetapi teringat janjinya. "Baik. Tidak ada keputusan tanpa kalian."
Penyidik Raka datang membawa salinan transaksi. Uang Bram berpindah melalui tiga rekening sebelum ditarik tunai oleh seseorang berinisial R.S. Kamera bank hanya menangkap seorang lelaki bertopi yang berjalan pincang.
"Rico Santoso," kata Dona tiba-tiba.
Semua orang menoleh. Dona menjelaskan Rico pernah menjadi sopir Armand. Kakinya terluka saat kebakaran rumah Sandra, lalu dia menghilang setelah kasus itu dibuka kembali.
"Mengapa namanya tidak pernah muncul?" tanya Nesia.
"Ayah menyebutnya pekerja sementara. Saya pernah melihat Rico membawa amplop untuk Bram."
Polisi mencari data Rico dan menemukan alamat lama di dekat terminal. Namun, rumah kontrak itu sudah kosong. Tetangganya mengatakan Rico datang dua hari sebelumnya untuk mengambil sebuah tas.
Di dalam rumah hanya tersisa koran yang memuat pengumuman pernikahan Remy dan Nesia. Wajah Nesia dilingkari tinta merah. Di samping nama Dona tertulis satu kalimat: anak pengkhianat.
Remy ingin menunda pernikahan. Nesia tidak langsung menjawab. Dia tahu keselamatan para tamu lebih penting daripada keberanian palsu, tetapi membatalkan semua rencana juga berarti membiarkan Bram tetap mengatur hidup mereka dari sel tahanan.
"Kita tunggu penilaian polisi," katanya. "Kalau harus ditunda, kita tunda. Bukan karena Bram menang, tetapi karena kita bertanggung jawab."
Dona meminta ikut memeriksa daftar tempat yang mungkin didatangi Rico. Dia mengingat lelaki itu sering mengantar Armand ke arena biliar tua dan gudang tekstil milik perusahaan.
Raka membagi tim. Arena biliar sudah tutup, sedangkan gudang tekstil masih dipakai menyimpan dekorasi lama Martha Hall. Polisi berangkat tanpa membawa keluarga.
Menjelang tengah malam, mereka menemukan tas Rico di gudang. Isinya pelat nomor palsu, foto rumah Remy, dan denah Martha Hall. Ada pula dua kartu akses gedung atas nama pekerja dekorasi.
"Dia merencanakan serangan pada hari pernikahan," ujar Lukas.
Nesia memperhatikan foto-foto itu. Salah satunya memperlihatkan Dona keluar dari rumah sakit bersama Liana. Foto lain menunjukkan dirinya mengunjungi panti. Rico sudah mengikuti mereka sebelum menerima pembayaran terakhir.
Sandra pucat saat melihatnya. "Kalian harus pergi ke luar negeri sampai dia tertangkap."
"Melarikan diri tidak menjamin dia berhenti," jawab Dona. "Saya ingin membantu polisi mengenal caranya berpikir."
Dona menceritakan bahwa Rico sangat setia kepada Armand karena biaya operasi kakinya pernah dibayar. Dia menganggap keluarga Maheswari telah menyelamatkan hidupnya. Ketika Armand ditahan, kesetiaan itu berubah menjadi dendam kepada Sandra dan kedua putrinya.
"Apakah Ayah mungkin memerintahkannya?" tanya Dona pelan.
Tidak ada yang bisa menjawab. Raka berjanji memeriksa rekaman kunjungan dan telepon Armand.
Pagi berikutnya, Armand meminta bertemu Dona. Dia mengaku mengenali kode R.S., tetapi bersikeras tidak pernah memerintahkan serangan.
"Rico tidak akan bergerak hanya karena uang," katanya dari balik kaca ruang pemeriksaan. "Dia membutuhkan alasan untuk merasa sedang membalas jasa. Bram pasti mengatakan Ibumu dan Nesia yang membuat saya dipenjara."
"Ayah dipenjara karena perbuatan Ayah sendiri."
Armand menunduk. Untuk pertama kalinya, Dona tidak melihat lelaki berkuasa, melainkan seseorang yang mulai memahami bahwa pengikut setianya pun menjadi korban kebohongannya.
"Ada tempat lain," ujar Armand. "Rumah singgah di Jalan Melati. Rico biasa bersembunyi di sana."
Polisi langsung bergerak. Rumah itu kosong, tetapi secangkir kopi masih hangat. Di meja terdapat radio, telepon sekali pakai, dan undangan pernikahan yang belum dikirim.
Undangan tersebut ditujukan kepada Tita.
Saat Nesia mencoba menelepon sahabatnya, nomor Tita sudah tidak aktif.
Kepala keamanan kemudian memperlihatkan rekaman dua hari terakhir. Seorang teknisi pendingin sempat masuk membawa kotak peralatan dengan kartu akses resmi. Wajahnya tertutup masker, tetapi cara berjalan pincang membuat Dona yakin itu Rico. Dia tidak memasang alat apa pun; dia hanya memotret jalur menuju kamar Nesia.
"Berarti dia sudah masuk sebelum kita tahu namanya," ujar Sandra.
Remy menahan keinginan memecat seluruh petugas. Pemeriksaan menunjukkan kartu itu diterbitkan menggunakan persetujuan digitalnya yang dipalsukan. Dia meminta sistem baru memakai dua pemberi izin, salah satunya dipilih para pekerja rumah.
Bu Maryam mengusulkan dirinya. "Saya mengenal orang yang biasa datang. Kalau wajah asing masuk, saya pasti bertanya."
"Tugas itu berbahaya," kata Remy.
"Justru karena kami tinggal di sini, kami harus ikut menjaga."
Nesia mendukungnya. Perlindungan bukan hanya pagar tinggi, melainkan kebiasaan semua penghuni saling memperhatikan. Mereka membentuk kelompok komunikasi darurat dan menyepakati satu kata sandi keluarga. Bahkan Sandra serta Bu Nita ikut latihan mengirim lokasi.
Dona lalu membuat daftar kebiasaan Rico dari ingatannya. Lelaki itu tidak suka tempat ramai, selalu memilih pintu yang menghadap jalan, dan sangat takut gagal di mata Armand. Raka mencatat semuanya tanpa meremehkan detail kecil.
Menjelang dini hari, Dona meminta maaf karena dahulu menganggap para sopir dan penjaga tidak penting untuk dikenali. Jika dia lebih peduli, mungkin Rico dapat ditemukan lebih cepat.
"Kita semua pernah tidak melihat orang di sekitar kita," kata Nesia. "Yang penting sekarang Kakak memilih melihat."
Ketika telepon Tita tetap tidak dapat dihubungi, penyesalan berubah menjadi ketakutan. Nesia teringat bagaimana Tita pernah dimanfaatkan Dona untuk menjebaknya. Kini seseorang memanfaatkan keinginan Tita menebus kesalahan. Pola yang sama terus berulang dengan wajah berbeda.
"Kita akan memutuskannya," ujar Dona. "Kali ini tidak ada seorang pun yang dibiarkan membayar kesalahan keluarga kita sendirian."
Nesia menggenggam tangan kakaknya. Mereka menunggu telepon polisi sambil menjaga harapan agar Tita masih memiliki waktu untuk diselamatkan.
***