Nesia menelepon ibu Tita, tetapi perempuan itu mengira putrinya sedang berada di rumah Nesia untuk membantu persiapan bunga. Tita berangkat pagi-pagi setelah menerima pesan yang tampak dikirim oleh Nesia.
"Saya tidak pernah mengirim pesan itu," kata Nesia.
Raka meminta salinan pesan. Isinya meminta Tita mengambil contoh bunga di gudang pinggir kota. Pengirim menggunakan foto profil Nesia dan gaya bahasa yang hampir sama, tetapi menyebut Remy dengan kata kamu.
"Tita seharusnya tahu saya tidak menulis seperti ini," ujar Nesia.
"Dia mungkin terlalu ingin memperbaiki kesalahannya," kata Dona. "Rasa bersalah membuat orang mudah dimanfaatkan."
Lokasi telepon Tita terakhir terdeteksi dekat gudang tekstil. Polisi kembali memeriksa bangunan itu. Di belakang tumpukan kursi ditemukan anting Tita dan bercak darah kecil, tetapi tidak ada tubuh.
Remy melarang Nesia datang ke lokasi. Kali ini Nesia menerima karena kehadirannya dapat mengganggu pencarian. Dia tinggal bersama ibu Tita sambil menunggu kabar dan berusaha meyakinkan perempuan itu bahwa putrinya akan ditemukan.
"Tita melakukan banyak kesalahan kepada kamu," kata ibunya sambil menangis. "Mengapa kamu masih mau menolong?"
"Karena kesalahannya tidak berarti dia pantas disakiti."
Lukas menemukan bahwa radio di rumah singgah disetel pada frekuensi pengemudi truk. Salah satu percakapan menyebut pengiriman bunga menuju Martha Hall melalui kebun tua di luar kota. Polisi memeriksa rute dan menemukan mobil Tita ditinggalkan di dekat kebun.
Di kursi pengemudi terdapat telepon dengan rekaman suara. Rico memerintahkan Nesia datang sendiri sebelum matahari terbenam jika ingin Tita hidup.
"Dia sedang memancingmu keluar," ujar Remy.
"Saya tahu."
"Dan kamu tidak akan pergi."
Nesia menatapnya tajam. "Jangan mulai memberi perintah. Kita dengarkan rencana polisi."
Raka menyusun operasi dengan pemancar tersembunyi dan tim penembak yang mengawasi kebun. Nesia bersedia menjadi umpan, tetapi Remy menolak keras. Perdebatan mereka berhenti ketika ibu Tita berlutut memohon agar putrinya diselamatkan.
Nesia segera membantunya berdiri. "Saya akan melakukan yang aman dan masuk akal. Saya tidak akan menyerahkan nyawa dengan sia-sia."
Polisi akhirnya menggunakan Dona sebagai pengganti. Dari kejauhan, postur kedua saudara itu cukup serupa. Dona memakai mantel dan kerudung Nesia, sedangkan Nesia tetap berada di mobil komando.
"Rico juga memburumu," kata Nesia. "Ini tetap berbahaya."
"Karena itu dia tidak akan menduga saya datang menyerupaimu. Saya memilih melakukan ini."
Remy mengingatkan bahwa operasi dibatalkan jika Rico terlihat membawa senjata berat. Dona menerima rompi antipeluru dan alat komunikasi, lalu berjalan menuju rumah kaca di tengah kebun.
Pintu rumah kaca terbuka. Tita duduk terikat pada kursi dengan luka di pelipis. Dona memanggil namanya, tetapi Rico tidak terlihat.
"Jangan mendekat!" teriak Tita. "Ada kabel di bawah lantai."
Dona berhenti tepat sebelum menginjak benang tipis yang terhubung dengan tabung bahan bakar. Rico ternyata mengawasi melalui kamera. Suaranya terdengar dari pengeras suara.
"Vanesia harus masuk sendiri."
Nesia mengambil mikrofon di mobil. "Lepaskan Tita. Masalahmu dengan keluarga Maheswari, bukan dengannya."
"Semua orang yang membantu kalian adalah musuh."
Raka melacak sinyal suara ke menara air di belakang kebun. Tim kedua bergerak diam-diam. Sementara itu, Dona berusaha menjaga perhatian Rico dengan membuka kerudung.
"Lihat baik-baik. Saya anak Armand yang kamu bela. Ayah saya tidak pernah meminta kamu melakukan ini."
Rico terdiam, lalu tertawa. "Dia tidak perlu meminta. Saya tahu siapa yang menghancurkannya."
"Ayah menghancurkan dirinya sendiri. Kamu hanya sedang membantu Bram menambah korban."
Tembakan memecahkan kaca. Peluru mengenai tiang di dekat Dona. Polisi membalas dari arah pepohonan. Dona merangkak mendekati Tita tanpa menyentuh kabel, tetapi pintu rumah kaca terkunci otomatis.
Nesia melihat asap mulai keluar dari tabung. Dia melepas alat komunikasi dan hendak turun. Remy menahan bahunya.
"Percayalah pada mereka," katanya, meskipun tangannya sendiri gemetar.
Liana, yang mengenal rancangan pengairan kebun, menunjukkan katup darurat pada denah. Polisi memutus aliran bahan bakar dan memecahkan sisi rumah kaca. Dona serta Tita berhasil ditarik keluar beberapa detik sebelum api menyambar tirai kering.
Di menara air, Rico tidak ditemukan. Hanya senapan yang dipasang dengan pemicu jarak jauh.
Dia telah mengawasi seluruh operasi dari tempat lain.
Petugas medis memeriksa Dona karena serpihan kaca melukai lengannya. Tita terus meminta maaf meskipun nyaris tidak mampu membuka mata. Dia mengaku mengikuti pesan palsu karena ingin membuktikan dirinya masih berguna bagi Nesia.
"Kamu tidak perlu terluka agar saya percaya kamu sedang berubah," kata Nesia. "Kepercayaan dibangun dengan waktu, bukan pengorbanan nekat."
Tita menangis. Dona duduk di sisi lain tandu dan ikut meminta maaf karena pernah membeli kesetiaannya. Dahulu Dona menganggap uang dapat membuat siapa pun melakukan apa saja. Penculikan itu memperlihatkan betapa mudah rasa bersalah yang dia tanam berubah menjadi tali bagi orang lain.
"Saya tidak meminta kamu memaafkan saya sekarang," ujar Dona. "Tetapi semua cicilan yang kamu bayar berasal dari uang saya. Mulai besok, utang itu saya hapus."
Tita menggeleng. "Saya tetap mengambilnya. Saya harus mengembalikan bagian yang saya gunakan."
Mereka akhirnya sepakat uang cicilan berikutnya disalurkan ke panti atas nama para pekerja yang menjadi korban keluarga Maheswari. Nesia tidak ikut menentukan keputusan, tetapi menghargai keduanya karena memilih bentuk tanggung jawab yang tidak membeli pengampunan.
Di lokasi, penyidik menemukan jejak ban sepeda motor menuju saluran irigasi. Rico telah menempatkan senapan beberapa jam sebelumnya, lalu mengawasi melalui jaringan kamera kebun. Dia mengenal prosedur polisi dan sengaja meninggalkan cukup banyak petunjuk untuk membuat mereka merasa hampir menangkapnya.
Raka memperingatkan bahwa Rico mungkin tidak bekerja sendirian. Seseorang menyediakan kartu akses, rekening, dan informasi pengamanan. Bram tidak mungkin mengurus semuanya dari tahanan tanpa perantara.
Remy memandang pesan yang baru diterimanya. Kalimat tentang seluruh sasaran bukan sekadar ancaman. Pengirim tahu Dona, Nesia, Liana, serta Remy berada di kebun pada waktu bersamaan.
"Ada kebocoran di antara orang-orang yang menerima rencana operasi," katanya.
Raka tidak membantah. Mulai saat itu, informasi dibatasi hanya kepada empat penyidik. Mereka bahkan memindahkan Tita dengan ambulans tanpa tanda ke rumah sakit lain. Musuh mereka tidak lagi hanya berada di luar pagar.
Ketika Nesia memeluk Tita di ambulans, sebuah pesan masuk ke telepon Remy.
Terima kasih sudah mengumpulkan semua sasaran dalam satu tempat.
***