Pagi pertama setelah pernikahan tidak dimulai di resor atau pantai. Nesia terbangun karena Edo mengetuk pintu dan mengabarkan semua orang harus berangkat ke pengadilan.
"Saya menyesal memberinya kamar di rumah ini," gumam Remy.
"Anda yang memintanya memastikan kita tidak terlambat."
Mereka hanya sempat sarapan roti sebelum berganti pakaian. Cincin di jari Nesia masih terasa asing, tetapi tidak berat seperti dahulu. Tidak ada batas waktu atau kewajiban pembayaran di baliknya.
Di gedung pengadilan, wartawan memenuhi tangga. Remy ingin menutupi Nesia dengan tubuhnya, lalu berhenti dan bertanya apakah dia ingin masuk melalui pintu samping.
"Kita masuk dari depan," jawab Nesia. "Tetapi jangan lepaskan tangan saya."
Dona serta Sandra sudah menunggu. Tita datang sebagai saksi penculikan, ditemani ibunya dan konselor. Ratih dan Rico dibawa dalam kendaraan terpisah, sementara Bram menolak menatap keluarga.
Jaksa membacakan dakwaan panjang: pembunuhan Helena, penculikan, pembakaran, pemerasan, percobaan pembunuhan, suap, dan penghilangan bukti. Adrian serta Surya saling menyalahkan. Rico mengakui perannya, sedangkan Ratih bersedia bekerja sama jika kecelakaan pabrik ikut diselidiki secara terbuka.
Ketika rekaman suara Helena diputar, Remy menggenggam kursi. Nesia tidak mengatakan dia harus kuat. Dia hanya meletakkan tangannya di atas tangan Remy.
Bram akhirnya menoleh. "Semua ini tidak mengembalikan ibumu."
"Benar," jawab Remy. "Tetapi kebenaran menghentikanmu mengambil keluarga orang lain."
Hakim memerintahkan para terdakwa tetap ditahan sampai persidangan utama. Di luar ruang, Raka mengatakan proses dapat berlangsung berbulan-bulan. Tidak ada akhir cepat seperti dalam cerita, tetapi bukti yang terkumpul cukup kuat.
Sidang Armand dimulai siang hari. Sandra memilih memberi kesaksian dari ruangan terpisah. Dia menceritakan pemaksaan, kebakaran, pemisahan dari Nesia, dan ancaman selama bertahun-tahun tanpa sekali pun menyebut Armand sebagai suaminya.
Dona menangis saat mendengar ibunya. Dia tetap duduk sampai selesai. Ketika gilirannya tiba, dia mengakui pernah membantu Armand mengawasi Sandra dan menjebak Nesia.
"Saya bertanggung jawab atas perbuatan saya," katanya. "Saya meminta pengadilan tidak menganggap saya korban untuk menghapus semua kesalahan."
Armand mendengarkan dengan kepala tertunduk. Pengacaranya sempat menyatakan kondisi jantung sebagai alasan penahanan rumah. Armand memotong dan mengatakan akan menerima keputusan pengadilan.
Saat jeda, dia meminta berbicara singkat kepada Sandra. Sandra menolak bertemu sendiri, tetapi bersedia mendengar dengan Nesia dan Dona di sisinya.
"Saya menerima suratmu," kata Sandra. "Saya belum membacanya."
"Kamu tidak wajib membacanya."
Armand tidak meminta pengampunan. Dia menyerahkan daftar aset yang diperoleh dari suap dan meminta semuanya dipakai membayar korban. Dona bertanya mengapa dia baru melakukannya setelah tertangkap.
"Karena sebelumnya saya masih percaya bisa menang," jawabnya jujur. "Penyesalan yang terlambat tidak lebih mulia. Itu hanya satu-satunya yang masih bisa saya lakukan."
Sandra mengatakan tindakan itu tidak akan mengembalikan masa mudanya atau tahun-tahun Nesia di panti. Armand menerima tanpa membela diri.
Setelah sidang, keluarga makan di warung kecil dekat gedung. Mereka masih memakai pakaian resmi dan menarik perhatian pengunjung, tetapi Nesia memilih tempat itu karena dahulu sering makan di sana bersama Tita.
"Ini bulan madu paling aneh," keluh Remy.
"Anda bisa pulang kalau tidak suka."
"Aku baru menikah sehari. Aku tidak akan mengambil risiko itu."
Tawa mereka terasa lelah tetapi tulus. Tita meminta maaf karena suasana pernikahan langsung berubah menjadi pengadilan. Nesia mengatakan hidup tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk memberi ruang pada kebahagiaan.
Sore hari, Remy mengajak Nesia pergi tanpa memberi tahu tujuan. Dia sudah menyiapkan rumah kecil di tepi danau untuk tiga hari, cukup dekat agar dapat kembali jika dibutuhkan dan cukup jauh dari wartawan.
"Tidak ada pengawal di dalam rumah?" tanya Nesia.
"Mereka tinggal dua rumah dari sini. Aku belajar kompromi."
Rumah itu tidak memiliki pelayan. Remy mencoba memasak makan malam dan membakar nasi. Nesia membuat telur, lalu mereka makan di teras sambil melihat air.
Tidak ada telepon ancaman. Tidak ada keluarga yang bertengkar. Untuk beberapa jam, mereka berbicara tentang hal sepele: warna kamar, perjalanan yang ingin dilakukan, dan apakah rumah mereka terlalu besar untuk dua orang.
"Rumah itu tidak akan pernah hanya berisi dua orang," kata Nesia. "Semua orang datang tanpa memberi kabar."
"Kita bisa membuat aturan kunjungan."
"Bu Maryam akan menjadi orang pertama yang melanggarnya."
Remy tersenyum. Menjelang tidur, Nesia melihat dia memeriksa berita perusahaan. Dia tidak merebut telepon, hanya bertanya apakah pekerjaannya lebih penting daripada tiga hari yang telah mereka pilih.
Remy mematikan layar dan meletakkannya jauh-jauh. "Tidak. Aku hanya masih belajar berhenti merasa semuanya akan runtuh tanpa aku."
"Kalau runtuh, Lukas akan menelepon."
Telepon justru berbunyi saat fajar. Lukas tidak membawa kabar kehancuran. Tim audit menemukan dokumen bahwa sebagian saham William diam-diam diwariskan kepada sebuah yayasan.
Nama penerima manfaat utamanya adalah Panti Kasih Bunda.
Berita itu membuat rencana istirahat mereka benar-benar berakhir. Nesia sempat kesal karena William kembali hadir melalui rahasia, tetapi Remy mengingatkan bahwa mereka tidak harus menyelesaikannya pagi itu.
Mereka tetap berjalan mengelilingi danau sebelum pulang. Di dermaga, Remy bertanya apakah Nesia kecewa tidak mendapat perjalanan bulan madu panjang.
"Saya pernah tinggal di panti dengan dua puluh anak dalam satu lorong," jawab Nesia. "Rumah yang tenang selama tiga hari sudah termasuk kemewahan."
Remy berjanji membawa Nesia melihat laut setelah seluruh sidang awal selesai. Kali ini dia tidak menentukan tanggal atau hotel sendiri. Mereka membuat daftar bersama, termasuk syarat bahwa tidak boleh ada rapat perusahaan selama perjalanan.
Sebelum meninggalkan rumah danau, Nesia menulis pesan di buku tamu. Dia tidak menuliskan nama keluarga besar mereka, hanya Remy dan Vanesia, dua orang yang sedang belajar hidup tanpa rahasia.
Dalam mobil, Remy menelepon Lukas dan memintanya tidak menyentuh dokumen yayasan sebelum mereka tiba. Lukas menjawab bahwa dewan sudah meminta rapat darurat. Nesia mendengar nada lama Remy hampir muncul, lalu melihat suaminya menarik napas.
"Katakan kita akan mendengarkan semua pihak terlebih dahulu," ujar Remy.
Itu bukan jawaban tercepat, tetapi menjadi bukti bahwa pagi pertama mereka telah membawa satu kebiasaan baru ke dalam keluarga.
***