Remy dan Nesia kembali lebih awal untuk memeriksa dokumen yayasan. Nesia khawatir saham itu menjadi cara lain William mengendalikan hidup orang setelah kematiannya.
Miriam memastikan surat wasiat dibuat sebelum William mengenal identitas Nesia. Helena meminta sebagian keuntungan perusahaan diberikan kepada anak-anak pekerja yang kehilangan orang tua. Panti Kasih Bunda dipilih karena Martha mengenal pengelolanya.
"Jadi bukan karena saya tinggal di sana," kata Nesia.
"Bukan," jawab Miriam. "Tetapi William menahan pelaksanaannya setelah Helena meninggal. Dia takut Armand melacak yayasan."
Penundaan itu berlangsung terlalu lama. Nilai dividen yang tidak dibayarkan telah menjadi jumlah besar. Remy ingin menyerahkannya sekaligus, tetapi Bu Sari menolak sebelum ada pengelola independen.
"Panti tidak siap memegang uang sebanyak ini," katanya. "Dan anak-anak bukan alat untuk membersihkan nama keluarga Wilson."
Nesia bangga mendengarnya. Mereka mengundang perwakilan alumni, pekerja, akuntan publik, serta keluarga korban pabrik untuk membentuk dewan yayasan baru. Tidak ada kursi tetap bagi keluarga Wilson atau Maheswari.
Dewan perusahaan menentang karena saham tersebut memberi hak suara cukup besar. Beberapa direktur menawarkan uang tunai sebagai pengganti. Remy menolak.
"Helena memberikan kepemilikan, bukan sedekah," katanya dalam rapat. "Mereka berhak ikut menentukan perusahaan yang dibangun dari tenaga keluarga mereka."
Lukas mendukung. Untuk pertama kalinya, dua bersaudara itu menghadapi dewan bukan untuk mempertahankan kekuasaan keluarga, melainkan membaginya.
Pemungutan suara berlangsung ketat. Ancaman pengunduran diri pekerja setelah hasil audit bocor membuat para direktur akhirnya menyetujui pengalihan saham. Tim independen juga diberi kewenangan mengawasi standar keselamatan.
Di luar gedung, Remy menemui keluarga Santoso. Ratih dan Rico tidak dapat hadir karena ditahan, tetapi ibu mereka datang dengan tongkat. Dia tidak memaafkan William atau menarik tuntutan.
"Saya hanya ingin nama suami saya dibersihkan," katanya.
Remy menyerahkan salinan keputusan perusahaan yang mengakui laporan kecelakaan dipalsukan. Santoso dan dua pekerja lain dinyatakan korban kelalaian perusahaan. Seluruh tunggakan hak keluarga akan dibayar tanpa syarat perdamaian.
Perempuan itu membaca perlahan, lalu menangis. Dia tidak berterima kasih kepada Remy. Nesia memahami bahwa korban tidak berutang rasa syukur ketika menerima sesuatu yang sejak awal merupakan hak mereka.
Ratih mengirim pesan melalui pengacaranya. Dia tetap akan memberi kesaksian tentang Surya dan Bram. Rico mengaku bersalah atas penculikan Tita serta percobaan serangan. Kerja sama mereka mungkin mengurangi hukuman, tetapi tidak menghapusnya.
Tita datang ke pertemuan mediasi dan mengatakan belum siap memaafkan Rico. Dia hanya ingin lelaki itu mengetahui bahwa dirinya tidak berhasil membuat Tita kembali hidup dalam rasa takut.
"Saya masih takut," katanya. "Tetapi sekarang saya meminta bantuan dan tetap berjalan."
Setelah urusan perusahaan selesai, Nesia kembali bekerja di Martha Hall. Dia tidak menerima jabatan pemilik. Bu Nita tetap memimpin, sementara Nesia menangani program pelatihan pekerja dan hubungan dengan panti.
"Kamu bisa memilih kantor terbesar," ujar Bu Nita.
"Saya ingin meja lama saya. Letaknya dekat dapur."
Para pekerja tertawa, tetapi meja itu sudah dihias foto pernikahan. Di laci terdapat kartu ucapan dari Mila: untuk Kak Nesia yang akhirnya menikah karena mau.
Sandra memutuskan tidak kembali ke rumah lamanya. Dia membeli rumah lebih kecil di dekat Dona dan mulai bekerja sebagai penasihat yayasan. Dona sendiri mengikuti proses hukum terkait tindakannya membantu Armand. Jaksa mempertimbangkan kerja samanya, tetapi dia menolak meminta Nesia memberi pernyataan yang meringankan.
"Hubungan kita tidak boleh menjadi alat hukum," kata Dona.
Nesia tetap datang ke setiap pemeriksaan sebagai adik, bukan saksi pembela. Mereka merencanakan ulang tahun bersama dengan dua kue seperti janji sebelumnya.
Bu Nita dan Sandra perlahan menjadi teman. Keduanya mengadakan makan siang bulanan untuk para ibu pekerja. Bu Maryam selalu hadir dan sering menjadi penengah ketika mereka berdebat tentang cara Helena menghadapi William.
Sebulan setelah pernikahan, rumah Remy kembali ramai. Perpustakaan panti diresmikan, dan anak-anak datang makan malam. Mila melihat gambar rumah tanpa pintu yang kini dibingkai di ruang keluarga.
"Om Remy suka rumahnya?" tanyanya.
"Suka. Tetapi Om tetap memasang pintu supaya nyamuk tidak masuk."
Mila menganggap jawaban itu tidak romantis. Nesia setuju dan membuat Remy berjanji memperbaikinya.
Malam hari, setelah semua tamu pulang, Nesia menemukan Remy duduk di taman. Audit sudah selesai dan dewan menawarkan dia kembali sebagai direktur dengan kewenangan lebih terbatas.
"Apakah Anda akan menerimanya?" tanya Nesia.
"Ya, kalau aturan pengawasan tetap berlaku. Aku ingin membangun sesuatu yang tidak bergantung pada satu nama."
Nesia mendukungnya. Dia juga menceritakan rencana membuka pusat bantuan hukum di Martha Hall bagi pekerja perempuan yang mengalami pemaksaan atau kekerasan.
"Kita akan sama-sama sibuk," kata Remy.
"Berarti kita harus menjadwalkan waktu bertengkar."
"Selasa malam?"
"Tidak bisa. Ada rapat yayasan."
Mereka tertawa dan bersandar satu sama lain. Dari dalam rumah terdengar Bu Maryam memarahi Edo yang kembali membuka lemari makanan. Keheningan yang dahulu dibanggakan Remy kini sudah benar-benar hilang.
Nesia memandang cincin di jarinya. Pernikahan mereka tidak menghapus luka, memperbaiki semua korban, atau membuat keluarga mendadak sempurna. Pernikahan itu hanya menjadi janji bahwa tidak ada luka yang kembali disembunyikan demi nama baik.
Remy menggenggam tangannya. "Apakah kamu bahagia?"
"Hari ini, iya. Besok kita memilih lagi."
Jawaban itu lebih jujur daripada janji bahagia selamanya. Mereka masuk ke rumah tanpa dikawal rasa takut, menuju keluarga yang berisik dan masa depan yang tidak lagi ditulis oleh kontrak.
Di atas meja ruang kerja, ada lima surat dari keluarga korban yang meminta bertemu. Remy tidak menyembunyikannya. Dia meletakkan surat-surat itu di samping agenda Nesia agar mereka dapat membacanya bersama pada pagi hari.
Untuk pertama kalinya, warisan keluarga bukan rahasia yang menunggu meledak, melainkan tanggung jawab yang dibuka di bawah cahaya.
Nesia mematikan lampu ruang kerja setelah memastikan surat-surat itu tidak terkunci dalam laci. Besok mungkin membawa gugatan, kesaksian baru, atau pertengkaran lain dengan dewan. Malam ini dia memilih duduk bersama Remy dan mendengarkan rumah mereka bernapas.
Tidak ada akhir yang benar-benar rapi bagi keluarga sebesar mereka. Namun, ada cara baru untuk memulai setiap persoalan: dengan pintu terbuka, keputusan bersama, dan keberanian mengakui kebenaran sebelum orang lain terluka.
***