Pagi itu, ruang administrasi terasa lebih sunyi dari biasanya. Alya datang lebih awal, berniat memperbaiki data yang kemarin salah sebelum Arvin sempat mengeceknya lagi.
Ia duduk dengan tenang—atau setidaknya berusaha terlihat tenang.
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit.
Seorang karyawan perempuan, bernama Rani, datang dengan suara langkah yang tajam. Rani adalah salah satu staf senior: galak, cerewet, dan dikenal ambisius. Sikapnya berubah ketika ada pegawai baru yang terlihat menonjol.
Dan sekarang, Alya tanpa sengaja menonjol.
Meskipun bukan karena prestasi, tetapi karena…
semua orang mendengar bahwa Alya dipanggil Arvin sendirian ke ruang direktur di hari pertama kerja.
Desas-desus mulai muncul.
Alya yang tidak tahu apa-apa, hanya fokus mengetik, terkejut ketika Rani menjatuhkan tumpukan berkas keras-keras di meja sebelahnya.
“Kerjaan kamu kemarin,” katanya ketus. “Banyak yang harus direvisi.”
Alya mengangguk sopan. “Terima kasih, Kak. Saya akan perbaiki.”
Rani menatapnya dari ujung mata. “Kamu ini baru hari pertama sudah dipanggil direktur. Hebat sekali ya.”
Nada suaranya terdengar manis… tapi tajam.
Alya tersentak. Ia langsung menggeleng cepat.
“Bukan begitu. Saya dipanggil karena saya salah—”
“Alasan klasik,” potong Rani sambil menyilangkan tangan.
“Muka polos, suara lembut… pasti cepat dapat perhatian bos.”
Siska yang duduk di meja seberang langsung menoleh tajam.
“Rani, jangan ngomong sembarangan.”
Rani mendengus. “Ya sudah, saya cuma bilang apa yang saya lihat.”
Alya hanya menunduk, mencoba menahan perasaan tidak enaknya. Ia tidak ingin ribut. Belum lagi.
---
Satu jam kemudian, saat Alya keluar dari ruang arsip, ia mendengar bisikan-bisikan pelan.
“Katanya Pak Arvin bantu dia revisi laporan…”
“Serius? Dia baru masuk loh.”
“Yaaa namanya juga gadis desa. Pura-pura nggak ngerti, biar dibantu.”
Alya berhenti di balik pintu. Dadanya terasa sesak.
Ia tidak melakukan apa-apa.
Ia tidak minta perhatian siapa pun.
Ia hanya ingin bekerja demi ibunya.
Tapi orang-orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.
Alya kembali ke mejanya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba tetap tersenyum. Menunduk. Sibuk.
Namun Rani kembali mendekat.
“Kamu salah input lagi,” katanya sambil menyodorkan kertas yang bahkan belum Alya sentuh.
“Belum saya kerjakan, Kak…” Alya berkata pelan.
Rani mendekatkan wajahnya.
“Kamu dengar, ya. Di sini kita kerja keras pakai kemampuan. Bukan pakai wajah manis buat ngambil simpati atasan.”
Kali ini, Siska berdiri dari kursinya.
“Rani, cukup! Kamu nggak boleh asal tuduh begitu!”
Rani melipat tangan. “Aku cuma jujur.”
Alya meremas ujung bajunya, berusaha tetap tenang meskipun hatinya mulai bergetar.
---
Siang itu, saat semua orang pergi makan, Alya memilih tinggal di meja untuk merapikan data. Siska pergi membeli makan untuk mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.
Pelan.
Tegas.
Alya menoleh dan langsung menegakkan badan.
Arvin berdiri di samping mejanya dengan ekspresi datar seperti biasa.
“Kenapa kamu tidak makan?” tanyanya.
Alya buru-buru berdiri. “Saya tadi belum selesai kerja, Pak. Saya akan—”
Arvin mengangkat tangan sedikit, menghentikan perkataannya.
“Turuti aturannya,” ucapnya. “Karyawan wajib makan di jam istirahat.”
Alya menunduk. “Iya, Pak. Maaf.”
Arvin menatap meja Alya, lalu memperhatikan ekspresi Alya yang tampak lebih pucat dari pagi.
“Kamu menangis?” tanyanya tiba-tiba.
Alya langsung gelagapan. “T-tidak, Pak. Saya cuma—”
Rani muncul dari arah pantry, melihat pemandangan itu, lalu menatap Alya dengan senyum sinis.
Arvin melirik Rani sekilas. “Kamu Rani, bukan?”
Rani hampir tersedak ludahnya sendiri. “Iya, Pak…”
“Saya dengar kamu salah satu staf yang paling senior di divisi ini.”
Rani tersenyum manis—kejauhan. “Tentu, Pak.”
Arvin menatapnya datar.
Tatapan yang membuat suasana menjadi hening.
“Kalau begitu,” katanya pelan tapi sangat jelas,
“seharusnya kamu memberi contoh yang baik. Bukan menambah beban untuk karyawan baru.”
Rani membeku di tempat.
Alya terkejut.
Siska yang baru datang membawa makanan hampir menjatuhkan plastiknya.
Arvin menatap Alya sekali lagi, tatapannya lebih lembut, meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Jangan mudah goyah,” ucapnya singkat. “Fokus pada pekerjaanmu.”
Lalu ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Namun langkahnya sedikit melambat seolah… menahan diri untuk kembali.
Alya berdiri diam, jantungnya berdetak keras.
Bukan karena marah.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia baru saja melihat sisi lain dari Arvin—
Sisi yang tidak pernah diperlihatkan pada siapa pun.
Dan itu akan menjadi masalah baru… untuk mereka berdua.
---