Suara printer memenuhi ruangan pagi itu ketika Alya masuk sambil membawa tumpukan berkas yang harus ia serahkan kepada Arvin. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar, pura-pura tidak mendengar bisik-bisik yang sudah mulai terdengar sejak ia melewati pintu.
“Lihat tuh… si anak baru sok dekat sama Pak Arvin,” bisik seseorang.
“Pantesan dipertahankan. Padahal kemarin hampir bikin salah laporan,” sambung yang lain.
Alya menunduk, pura-pura sibuk dengan kertas di tangannya. Tapi telinganya panas. Nama dua orang itu bukan nama asing: Siska dan Della—dua staf lama yang memang terkenal sulit menerima pendatang baru.
Apalagi pendatang baru yang tiba-tiba sering dipanggil langsung oleh CEO.
Saat Alya lewat, Della menatapnya dari ujung mata. “Pagi, Alya,” katanya manis—terlalu manis. “Nanti kalau Pak Arvin kasih tugas, jangan lupa… kita punya banyak kerjaan lain juga. Jangan semua diambil sendiri ya.”
Alya mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
Siska ikut menyahut, sambil menyilangkan tangan. “Ya… kamu kan sering dipanggil ke ruangan Pak Arvin. Takutnya nanti kamu merasa spesial.”
Alya tersenyum hambar. “Saya cuma mengerjakan apa yang diminta.”
“Hmm… ya, siapa tahu,” balas Siska dengan senyum sinis.
Alya memilih tidak membalas. Ia melangkah pergi, tapi dadanya terasa sesak.
---
Ketika ia masuk ke ruang CEO, Arvin sedang berdiri di depan jendela, menelaah sesuatu di layar tablet. Tanpa menoleh, ia bertanya, “Kenapa wajah kamu seperti habis menangis?”
Alya terkejut. “Hah? Tidak, Pak.”
Arvin akhirnya berbalik. Tangan kirinya diselipkan dalam saku, tatapannya tajam seperti sedang membaca pikirannya.
“Kamu pikir aku tidak peka? Cerita.”
Alya menggigit bibir. “Tadi… ada rekan kerja yang kurang suka dengan saya. Sepertinya mereka salah paham.”
“Nama?” tanya Arvin, suaranya dingin.
Alya buru-buru menggeleng. “Tidak perlu, Pak. Saya tidak ingin dianggap mengadu.”
Arvin menatapnya lama. Lama sekali. Sampai Alya merasa seperti berdiri di bawah sinar X-Ray.
“Saya tidak suka karyawan saya dibully,” katanya akhirnya. “Kalau mereka mengganggu pekerjaanmu, saya harus tahu.”
Alya menghela napas. Ia tahu Arvin bermaksud baik, tapi jika ia menyebutkan nama, masalahnya justru bisa membesar. “Saya bisa mengatasinya sendiri, Pak.”
Arvin berdeham pelan, tanda ia tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu. “Baik. Kalau begitu, fokus ke laporan ini.”
Alya mengangguk dan mendekat ke meja. Tapi sebelum ia memulai, Arvin berkata pelan—lebih pelan dari biasanya.
“Alya.”
“Ya, Pak?”
“Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman… jangan pendam sendiri.”
Alya menatapnya. Ada sesuatu di mata Arvin, sesuatu yang lembut, namun ia cepat-cepat memalingkan wajah dan kembali bersikap dingin seperti biasa.
---
Menjelang siang, ketika Alya keluar dari pantry sambil membawa kopi, ia terhenti melihat Siska dan Della sedang berdiri dekat mejanya—membolak-balikkan sesuatu.
Hatinya langsung jatuh.
Itu agenda pribadinya.
“Hei! Kalian ngapain?” Alya berjalan cepat mendekat.
Della melemparkan agenda itu ke meja seolah tidak ada apa-apa. “Cuma lihat. Kamu kok defensif banget?”
“Ini barang pribadi saya!”
Siska tertawa kecil. “Ya ampun… sensitif sekali. Kita cuma penasaran. Soalnya kamu… ya, akhir-akhir ini sering masuk ruangan Pak Arvin.”
Alya merasa darahnya mendidih. Tapi sebelum ia sempat bicara—
“ADA MASALAH APA DI SINI?”
Suara itu membuat semua orang menoleh.
Arvin berdiri di depan pintu, tatapannya tajam dan penuh peringatan.
Seluruh ruangan langsung berubah sunyi.
Siska pucat. Della menelan ludah.
Arvin melangkah mendekat, wajahnya dingin seperti es. “Saya tadi lewat dan melihat kalian membuka barang pribadi staf saya. Butuh saya ulangi aturan perusahaan soal privasi?”
Alya membeku di tempat.
Ia tidak menyangka Arvin akan turun langsung seperti ini.
Siska dan Della serempak menunduk. “M-maaf, Pak. Kami cuma bercanda—”
“Bercanda?” Arvin mengangkat alis. “Bercanda itu tidak membuat orang lain merasa terintimidasi.”
Alya melihat rahang Arvin mengeras. Ia jarang melihat bosnya semarah ini.
“Ruangan saya. Sekarang,” perintah Arvin singkat.
Dua staf itu berjalan dengan kepala tertunduk, hampir gemetaran.
Arvin menatap Alya sejenak sebelum mengikuti mereka.
Tatapan itu… lembut, tapi juga penuh kekhawatiran.
Alya tidak tahu harus merasa apa.
Tapi satu hal pasti:
Sejak hari itu, kantor tidak akan sama lagi.
Dan konflik ini…
baru permulaan.