Alya melangkah masuk ke kantor dengan d**a sesak. Semalam ia hampir tidak tidur—kepalanya penuh dengan kejadian beberapa hari terakhir. Tatapan iri rekan kerja, perlakuan kasar yang makin menjadi, dan… Arvin.
Laki-laki itu.
Sikapnya yang melindungi Alya membuat segalanya berubah. Bukannya keadaan membaik, justru semakin buruk.
Begitu Alya duduk, notifikasi masuk.
From: Arvin
Subject: Meeting 09.00
Location: Ruang Saya
Jantung Alya langsung berdegup cepat.
Kenapa harus dipanggil pagi-pagi begini?
Ada masalah lagi?
Terkait laporan?
Atau… terkait kejadian kemarin?
Ia berusaha menenangkan diri dan berdiri sambil membawa berkas laporan yang sudah diperbaiki.
---
Saat Alya mengetuk pintu, suara Arvin terdengar tegas dari dalam. “Masuk.”
Alya membuka pintu perlahan. Arvin sedang duduk di meja kerjanya, mengenakan kemeja hitam yang membuat sorot matanya tampak semakin tajam dan tak terbaca.
“Duduk,” katanya tanpa senyum.
Alya duduk. Tangannya menggenggam ujung rok, mencoba menahan gugup.
Beberapa detik hening sebelum Arvin akhirnya bersuara.
“Alya,” katanya pelan, “apa kamu sadar kalau situasi di kantor mulai tidak sehat?”
Alya terkejut. Ia pikir Arvin akan membahas laporan, bukan ini.
“Saya… saya minta maaf kalau masalah kemarin membuat kantor jadi tidak nyaman,” jawab Alya hati-hati.
Arvin mengangkat wajah, tatapannya menusuk. “Kamu pikir aku peduli dengan kenyamanan mereka? Yang kupedulikan adalah kamu yang dibully.”
Alya mengerjap. Wajahnya memanas.
“Pak… kalau saya terlihat terlalu sering masuk ruangan Bapak, itu karena pekerjaan. Saya tidak ada maksud apa-apa.”
Arvin terdiam.
Wajahnya berubah sedikit—bukan marah, bukan dingin, tapi seperti seseorang yang menahan banyak hal sekaligus.
“Aku tahu itu,” katanya. Suaranya lebih lembut. “Tapi bukan itu masalahnya.”
Alya bingung. “Lalu apa?”
Arvin menghela napas, menyandarkan tubuh ke kursi. “Sejak kejadian kemarin, dewan direksi mendesak untuk menjaga citra perusahaan. Mereka ingin hubungan antar staf lebih profesional… tanpa ‘ketergantungan khusus’ antara CEO dan karyawan baru.”
Alya langsung menegang. “Ketergantungan khusus? Maksudnya apa?”
“Gosip,” jawab Arvin singkat. “Gosip yang bodoh. Tapi cukup untuk membuat mereka mempertanyakan kedekatan kita.”
Alya merasa tubuhnya panas dingin.
“Pak… kita tidak dekat.”
Kata-kata itu keluar begitu saja.
Arvin menatapnya. Ada sedikit perubahan di mata laki-laki itu.
Semacam luka kecil.
Sangat singkat, tapi Alya melihatnya.
“Tidak dekat, ya?” ulang Arvin, pelan.
Alya menggigit bibir. “Maksud saya… saya karyawan baru, Pak. Saya—saya hanya melakukan tugas.”
Arvin menunduk sebentar, tatapannya kosong seolah sedang menahan sesuatu.
“Kalau begitu…”
Ia bangkit dari kursi.
“Mulai hari ini, kita jaga jarak.”
Alya tersentak. “Apa?”
“Kamu hanya masuk ke ruangan saya jika urusan sangat penting. Tidak ada diskusi tambahan. Tidak ada panggilan mendadak. Tidak ada interaksi yang bisa terlihat ‘istimewa’.”
Alya tidak bisa berkata apa-apa.
“Ini untuk kebaikanmu,” lanjut Arvin. “Aku tidak ingin kamu terus jadi sasaran.”
Alya menggenggam jarinya erat-erat. “Baik, Pak… saya mengerti.”
Arvin menatapnya lama.
Begitu lama, hingga Alya merasa dadanya sesak oleh tatapan itu—seolah ada hal yang ingin ia katakan tapi tidak diizinkan oleh logika dan jabatan.
“Kalau begitu, kamu boleh kembali ke meja,” katanya akhirnya.
Alya berdiri. Saat ia hendak keluar—
“Alya,” panggil Arvin pelan.
Ia menoleh.
“Jarak ini… bukan karena aku ingin menjauh.”
Jantung Alya seketika bergetar.
“Itu justru karena…”
Arvin berhenti, seolah menahan kata-kata yang hampir lolos.
Ia menutup mata sebentar, mengatur napas.
“Kembalilah bekerja,” katanya dengan nada lebih dingin dari sebelumnya.
Alya keluar, tapi langkahnya goyah.
Di luar, dunia terus berjalan seperti biasa.
Tapi hatinya…
Hatinya seperti baru saja kehilangan sesuatu yang ia bahkan belum sempat miliki.
Dan ia tidak tahu…
bahwa Arvin di dalam ruangan sedang menatap pintu yang baru saja tertutup sambil menggenggam meja begitu keras, berusaha menenangkan diri.
Karena jarak itu—
bukan sesuatu yang ia inginkan.
Hanya sesuatu yang ia terpaksa lakukan.
---