Pagi itu kantor terasa lebih bising dari biasanya. Bisik-bisik, tatapan aneh, dan langkah kaki yang terdengar terburu-buru. Alya belum tahu apa yang terjadi sampai ia meletakkan tas dan membuka komputer.
Notifikasi masuk bertubi-tubi.
From: Finance Dept
Subject: URGENT – Data Salah?
Alya mengernyit. Ia membuka email itu dan langsung mematung.
> “Data laporan pengeluaran bulan lalu tidak sesuai.
Terjadi selisih besar, dan setelah dicek… data dari bagian kamu yang tidak sinkron.
Mohon penjelasan SEGERA.”
Tangan Alya bergetar.
Selisih besar?
Data tidak sinkron?
Tidak mungkin. Ia sangat teliti saat menginput angka itu.
Ia buru-buru membuka file laporan yang ia kerjakan. Saat melihat kolom pengeluaran, matanya membesar.
Angkanya berubah.
Jumlah pengeluaran yang seharusnya 39.870.000 berubah menjadi 89.870.000.
LIMA PULUH JUTA selisihnya.
Alya menahan napas.
Siapa yang mengubah ini?
Komputernya tidak pernah ia tinggal dalam keadaan terbuka.
Saat ia masih berusaha mencerna kejadian itu—
“ALYA!”
Suara keras itu membuat seluruh staf menoleh.
Siska berdiri sambil memegang print-out laporan. Wajahnya seolah menikmati momen itu.
“Kamu bikin kacau satu divisi!” serunya lantang.
Semua mata tertuju pada Alya.
Della menyusul, wajahnya pura-pura prihatin. “Ini fatal sekali, Alya. Kita bisa ditegur direktur gara-gara ini.”
Alya mencoba bersuara. “Tapi… datanya tidak seperti itu kemarin. Aku tidak mengubahnya—”
Siska menyela cepat, “Oh, jadi kamu mau bilang komputermu dihantui hantu? Ayo, Alya. Kamu staf baru. Wajar kalau kamu belum terbiasa.”
Alya mengepalkan tangannya. “Aku tidak melakukan ini.”
“Lucu sekali,” Della tertawa kecil. “Kebetulan datanya salah, kebetulan kamu yang input, kebetulan kamu yang sering dipanggil Pak Arvin… terus kebetulan sekarang begini?”
Terdengar bisikan dari staf lain.
“Pantas dia sering dipanggil…”
“Mau cari perhatian bos kali…”
“Sekarang ketahuan hasilnya…”
Alya merasakan matanya panas, tapi ia menahan diri.
Sebelum ia sempat menjawab—
PINTU RUANG CEO TERBUKA.
Arvin keluar.
Ruangan langsung sunyi.
“Saya dengar ada kekacauan data,” katanya. Suaranya rendah, dingin, dan berbahaya.
Siska dan Della langsung berdiri tegak.
“Pa—Pak Arvin, kami cuma melaporkan—”
“Diam,” potong Arvin.
Siska langsung menutup mulutnya.
Arvin menatap Alya. “Ikut saya.”
Alya mengikuti dengan langkah lemah. Saat pintu ruangannya tertutup, barulah ia berani menarik napas.
Arvin menatapnya lama. “Jelaskan.”
Alya menggeleng kecil, suaranya bergetar. “Pak… saya tidak mengubah data itu. Saya yakin ketika saya kirim ke Finance, angkanya benar.”
Arvin membuka laptopnya, memeriksa log file. Beberapa menit hening.
Alya menunduk, menunggu putusan, jantungnya seperti mau meledak.
Lalu Arvin bersuara.
“File ini diubah pukul 18.47.”
Alya menatapnya dengan bingung. “Tapi Pak… saya pulang jam lima sore. Laptop sudah saya logout, dan—”
Arvin mengangguk pelan. “Saya tahu.”
Alya mengerjap. “Hah?”
Arvin memutar laptop dan menampilkan CCTV internal dari area meja staf. Alya terbelalak.
“Pukul 18.47 kemarin…”
Arvin mengetuk layar.
Terlihat seorang perempuan mendekati meja Alya, menyalakan komputernya, dan mengetik cepat sebelum mematikan lagi.
Alya menutup mulutnya.
Perempuan itu—
Della.
Arvin menatap Alya, suaranya rendah. “Kamu masih mau bilang kalau kamu sendirian menghadapi ini?”
Alya menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Untuk pertama kalinya, Arvin bangkit dari kursinya dan berdiri dekat Alya.
“Alya,” katanya pelan, “ini bukan salahmu.”
Alya menunduk, menangis tertahan. “Kenapa mereka melakukan ini pada saya?”
Arvin mengepalkan rahangnya. “Karena kamu membuat mereka merasa terancam.”
Ia mendekat sedikit. Suaranya turun menjadi lebih lembut dan berbahaya sekaligus.
“Tapi mulai sekarang…”
Ia menatap mata Alya.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi.”
Alya terpaku—tidak tahu apakah jantungnya berdetak karena takut, lega, atau… sesuatu yang lain.
Di luar, kantor terlihat tenang.
Tapi di dalam sini—
badai yang sebenarnya baru saja dimulai.
---