Sejak insiden data kemarin, suasana kantor berubah drastis.
Bukan menjadi lebih baik…
justru lebih sunyi.
Lebih menusuk.
Lebih menyakitkan.
Saat Alya melangkah menuju mejanya, beberapa staf yang biasanya menyapa kini hanya menunduk atau pura-pura sibuk. Yang lain berpaling seolah keberadaannya mengganggu.
Ketika ia duduk, dua staf yang sempat mengobrol langsung berdiri dan berpindah meja—tanpa menatapnya sekalipun.
Alya menarik napas panjang.
Ia tahu alasan mereka.
Ia tahu apa yang sedang beredar di kantor.
“Alya anak emas CEO.”
“Kalau bikin salah pasti dibela.”
“Jangan dekat-dekat, nanti kita yang disalahkan.”
“Dia pasti ada hubungan khusus dengan bos.”
Semua itu tidak pernah ia minta.
Tidak pernah ia rencanakan.
Tidak pernah ia bayangkan.
Ia hanya ingin bekerja.
Hanya itu.
Namun dunia kantor memang kejam pada yang dianggap berbeda.
---
Saat jam istirahat, Alya membawa bekalnya ke pantry. Biasanya ia makan bersama dua staf perempuan yang cukup ramah. Tapi hari ini meja itu sudah terisi, dan ketika Alya mendekat, mereka segera menggeser kursi dan berkata pelan:
“Maaf, Alya… tempatnya sudah penuh.”
Padahal masih ada dua kursi kosong.
Alya tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Saya makan di meja saja.”
Ia berbalik, tapi langkahnya berat.
Ia kembali ke mejanya, membuka bekal sambil menahan rasa pahit yang menumpuk di tenggorokannya.
Kenapa rasanya seperti ini?
Kenapa seolah semuanya menyalahkan aku?
Padahal aku yang disakiti… aku yang difitnah…
Namun sebelum ia sempat makan, seseorang mendekat.
Siska.
Alya menegang.
Siska menaruh map di mejanya dengan suara yang lebih keras dari yang diperlukan. “Ini, revisi laporan. Kamu kan pasti mau langsung kasih ke Pak Arvin, kan?”
Alya menutup bekal. “Saya hanya melakukan tugas.”
“Ya, ya,” Siska tersenyum sinis. “Tugas, atau kesempatan?”
Alya bangkit. “Siska, tolong hentikan.”
“Tapi semua orang sudah tahu, Alya,” bisik Siska sambil mendekat. “Kamu ‘dijaga’ sama Pak Arvin. Jadi jangan heran kalau semua orang menjauh.”
Alya menelan ludah. “Aku tidak pernah minta seperti itu.”
“Tidak perlu minta,” jawab Siska tajam. “Cukup bertingkah manis saja.”
Alya terdiam.
Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam dibandingkan fitnah data kemarin.
Siska pergi, meninggalkan Alya yang menunduk menahan perih.
Mengapa semua ini terjadi padanya?
Apa salahnya?
---
Menjelang sore, Arvin memanggilnya melalui pesan singkat.
Ke ruangan saya. Sekarang.
Alya terkejut. Setelah aturan “jaga jarak”, Arvin jarang memanggil kecuali ada hal penting. Ia mendekat ke ruangan itu dengan hati berat.
Sesampainya di sana, Arvin sedang berdiri dekat rak buku. Wajahnya terlihat lelah, tapi tatapannya tajam seperti biasa.
“Kamu kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi.
Alya menatap lantai. “Tidak apa-apa, Pak.”
Arvin mengerutkan dahi. “Alya.”
Suara itu—
dalam, tegas, menuntut kejujuran.
Alya menggigit bibir. “Semua orang menjauhi saya, Pak… Saya tidak mengerti kenapa keadaan malah memburuk.”
Arvin menatapnya lama. “Ini karena aku membelamu, bukan?”
Alya mendesah pelan. “Mungkin mereka merasa saya dapat perlakuan khusus.”
Arvin mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Perlakuan khusus? Yang kuberikan hanya keadilan.”
Alya masih menunduk. “Tapi… semua itu membuat mereka marah, Pak. Mereka pikir saya—”
“Saya tidak peduli apa yang mereka pikirkan.”
Nada Arvin naik sedikit.
“Mereka tidak berhak menghukummu.”
Alya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca.
“Pak… bagaimana kalau saya pindah divisi? Atau… resign saja?”
Arvin seperti tersengat listrik.
“Apa?” suaranya rendah, hampir bergetar. “Jangan pernah bilang itu lagi.”
Alya terpaku.
Arvin menutup mata sebentar, mengatur napas.
“Alya… kamu tidak sendirian.”
Alya menggeleng pelan. “Tapi rasanya seperti itu.”
Arvin membuka mata, menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Alya berlari.
“Aku ada di sini.”
Alya membeku.
Kalimat itu sederhana, tapi nadanya…
seolah mengandung sesuatu yang tidak boleh ia rasakan.
“Mulai sekarang,” lanjut Arvin, lebih lembut, “kalau ada yang memperlakukan kamu tidak adil, kamu bilang ke aku. Semua. Tanpa kecuali.”
Alya menelan napas. “Tapi Pak… nanti orang-orang semakin salah paham.”
Arvin mendekat satu langkah.
“Biar mereka salah paham,” katanya pelan.
“Aku tidak akan mundur hanya karena gosip.”
Alya menatapnya, bingung antara takut… dan tersentuh.
Arvin melanjutkan, suaranya sedikit bergetar:
“Aku tidak akan biarkan kamu terluka lagi.”
Alya merasa seluruh dunianya berhenti sesaat.
Dan saat itu, ia sadar—
Jarak yang Arvin buat… tidak pernah benar-benar ada.
Ia hanya menahan dirinya.
Tapi hatinya…
tidak pernah sedikit pun menjauh.
---