Hujan turun sejak pagi, membuat suasana kantor terasa muram dan berat. Alya masuk sambil mengusap mantel yang masih basah. Ia berharap hari ini berjalan lebih tenang… meski hatinya tahu itu hampir mustahil.
Saat ia duduk, terlihat sebuah amplop tipis di atas mejanya.
Tidak ada nama.
Tidak ada stempel kantor.
Tidak ada tanda tangan.
Alya mengerutkan dahi. “Surat apa ini…?”
Ia membuka perlahan.
Satu kertas putih terlipat rapi.
Hanya ada tulisan pendek, tercetak dengan huruf komputer.
> “BERHENTI.
ATAU KAU AKAN MENYESAL.”
Alya langsung merasakan darahnya berhenti mengalir.
Tangannya bergetar hebat.
Ia menatap sekeliling. Tidak ada yang memperhatikan—atau pura-pura tidak memperhatikan. Tapi Alya bisa merasakan tatapan diam-diam dari beberapa orang.
Siska.
Della.
Dua staf lain yang sering berbisik tentangnya.
Tapi… siapa yang menaruh ini?
Dan kapan?
Alya menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Ia meremas kertas itu dan menyimpannya dalam laci, takut ada yang melihat ekspresi paniknya.
Namun semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin besar rasa takut yang menghimpit dadanya.
Kenapa ini terjadi padaku…
Kenapa semua ini tidak selesai-selesai…
---
Menjelang siang, Arvin mengirim pesan singkat.
Ke ruangan saya. Bawa laporan revisi.
Alya menggenggam map laporan, mencoba menahan diri agar tidak terlihat gemetar.
Arvin sedang menatap layar ketika Alya masuk, tapi begitu melihat wajah Alya, ekspresinya berubah seketika.
“Alya,” katanya, nada suaranya menurun drastis. “Kamu kenapa?”
Alya cepat-cepat menggeleng. “Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya… kurang tidur.”
Arvin bangkit dari kursinya, mendekat beberapa langkah. “Alya. Aku sudah bilang jangan bohong.”
Alya menggigit bibir. Ia ingin kuat. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Arvin. Tapi matanya berkaca-kaca tanpa bisa dicegah.
Arvin menautkan alis. “Ada yang terjadi di luar?”
Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya sedikit bergetar.
Arvin terdiam sesaat, lalu dengan suara pelan ia berkata:
“Alya… lihat aku.”
Alya mendongak perlahan.
Tatapannya bertemu dengan mata Arvin—tajam, khawatir, namun hangat di balik semua dinginnya.
“Apa yang mereka lakukan kali ini?” tanyanya.
Alya menarik napas gemetar. “S-saya… mendapat surat.”
Arvin menegang. “Surat?”
Alya membuka laci dan menyerahkan kertas itu.
Arvin mengambilnya, membaca sekilas. Rahangnya mengeras. Matanya berubah gelap—bukan marah biasa, tapi amarah yang berbahaya.
Siapa pun yang mengancam Alya…
Arvin tampak siap menghancurkannya.
“Sejak kapan kamu terima ini?”
“Tadi pagi. Amplopnya ada di meja saya.”
“Siapa yang menaruh?” suara Arvin tegang.
“Saya tidak tahu, Pak.”
Arvin berjalan ke arah pintu, mengunci ruangan dari dalam. Lalu ia kembali, berdiri di depan Alya, lebih dekat daripada sebelumnya.
Dengan suara rendah namun penuh tekanan, ia berkata:
“Alya… ini bukan ancaman kecil. Ini serius.”
Alya menunduk, suaranya lirih. “Saya tidak ingin membuat masalah lebih besar.”
Arvin menahan napas panjang, menatapnya dalam-dalam. “Kamu bukan sumber masalah. Orang-orang yang membencimu itu yang bermasalah.”
Alya diam. Ia ingin percaya, tapi rasa takutnya menutup suara logika.
Arvin mengambil langkah mendekat lagi. Kini jarak mereka hanya setengah meter.
“Alya.”
“Ya, Pak?”
“Mulai hari ini, kamu tidak pulang sendirian.”
Alya tersentak. “Tapi Pak—”
“Kalau bukan saya yang mengantar, saya minta driver kantor menjemput.”
“T-tidak perlu, Pak… saya tidak ingin menyusahkan—”
“Alya.”
Kali ini suaranya lebih keras.
“Keselamatanmu bukan sesuatu yang bisa dinegosiasi.”
Alya membeku.
Arvin tidak berhenti di sana.
Ia merogoh saku, mengeluarkan sesuatu—kartu akses baru.
“Aku sudah minta sistem membuatkannya. Hanya kamu yang bisa buka komputer dan meja kamu dengan ini. Tidak ada staf lain yang bisa menyentuhnya lagi.”
Alya terbelalak. “Pak… ini terlalu—”
“Aku tidak peduli itu terlihat berlebihan atau tidak,” potong Arvin cepat.
“Yang penting kamu aman.”
Semua kata itu membuat d**a Alya terasa hangat, aneh, campur aduk.
Perlindungan Arvin terasa…
lebih dari sekedar bos pada staf.
Dan saat Alya menatapnya, Arvin menahan tatapannya sejenak.
Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi terhalang oleh sekat tipis bernama profesi.
Namun satu kalimat akhirnya lolos.
“Alya…”
suara Arvin melembut tajam,
“…aku tidak akan biarkan siapapun menyakitimu.”
Alya menunduk, merasakan getaran halus di dadanya.
Ia tahu ini salah.
Ia tahu hubungan mereka tidak boleh melebihi batas profesional.
Tapi setiap kali Arvin bicara seperti itu…
Alya sulit mengendalikan perasaannya sendiri.
Dan ia tidak tahu—
bahwa ancaman itu…
baru langkah pertama dari seseorang yang mengincar posisinya.
Seseorang yang jauh lebih berbahaya dari Siska dan Della.
Bayangan masalah itu…
baru mulai muncul.
---