Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda. Bukan karena ada meeting besar, bukan juga karena deadline yang menumpuk. Tetapi karena Alya datang dengan langkah sedikit ragu, matanya tampak kurang tidur — namun ia berusaha menyembunyikannya.
Di pantry, beberapa rekan kerja bisik-bisik, melirik ke arah Alya. Bukan lagi gosip ringan. Ada sesuatu yang lebih gelap di udara.
Alya meletakkan gelas kopinya, mencoba tetap fokus. Namun ketika ia duduk di meja kerjanya, jantungnya berdegup keras. Di atas keyboard, ada selembar kertas kecil.
Satu kalimat.
Ditulis dengan huruf kapital yang kasar.
“JANGAN SAMPAI KAU MENYESAL. BERHENTI SEBELUM TERLAMBAT.”
Tangan Alya bergetar. Ini ancaman kedua setelah pesan anonim semalam. Tapi yang ini… jauh lebih dekat. Seseorang menaruhnya langsung di mejanya.
“Pagi, Alya.”
Alya tersentak sedikit. Itu suara Arvin. Nada datarnya tetap sama, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda — waspada.
Ia menatap sekeliling, lalu menurunkan suaranya.
“Kau baik-baik saja?”
Alya menelan ludah, mencoba tersenyum. “I-Iya, Pak.”
Arvin menatapnya lama. Sangat lama. Seolah membaca semua kebohongan yang ingin ia sembunyikan.
“Kalau ada yang terjadi, kau harus memberitahu saya.”
Tegas. Serius. Tidak seperti atasan biasa.
Alya menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Saya hanya kurang tidur.”
Arvin tidak percaya. Bahkan dari napas Alya yang sedikit pendek, ia tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara tawa nyaring terdengar dari belakang.
Siska.
“Wah, wah… Pak Arvin perhatian banget ya. Ada yang spesial?” ucapnya dengan nada menusuk.
Beberapa karyawan ikut menoleh.
Alya menunduk, wajahnya memanas.
Arvin menatap Siska datar. “Urus pekerjaanmu.”
Siska tersenyum miring, lalu pergi — tapi tatapannya ke arah Alya penuh kebencian.
Beberapa menit kemudian, Arvin kembali ke ruangannya. Tapi ia tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan jendela, memikirkan sesuatu.
Ada yang salah. Sangat salah.
Dan ia yakin itu ada hubungannya dengan Alya.
---
Di meja Alya…
Alya meremas catatan ancaman itu dan menyimpannya dalam laci. Ia menghela napas panjang.
Namun ketika laptopnya menyala, ada satu email masuk — tanpa nama pengirim.
Subjeknya hanya satu:
“AKU SUDAH MEMPERINGATKAN.”
Alya membukanya… dan wajahnya langsung pucat.
Di dalam email itu, ada foto dirinya di parkiran kantor tadi pagi.
Diambil diam-diam.
Dari jarak dekat.
Seolah seseorang mengikuti setiap langkahnya.
Alya mendadak merasa ruangan itu terlalu dingin. Terlalu sunyi. Terlalu… dekat dengan bahaya.
Tanpa sadar, air matanya menggenang. Ia menutup mulut menahan isak kecil.
Saat itu, pintu ruang direktur terbuka sedikit. Arvin melihatnya — Alya yang menunduk, bahunya bergetar.
Arvin mengepalkan tangan.
Siapa pun yang mengganggu Alya… akan berurusan dengannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arvin merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan lagi sejak masa lalunya:
takut kehilangan seseorang yang ia pedulikan.
---