Alya menatap layar komputer dengan tangan gemetar. Foto dirinya yang diambil diam-diam itu masih terpampang jelas. Parkiran kantor. Waktu pagi. Sudut yang sangat dekat.
Siapa yang melakukan ini?
Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. Nafasnya terasa berat. Ruangan terasa seperti menutup dirinya rapat.
“Alya.”
Suara itu membuatnya tersentak. Arvin berdiri di samping mejanya, entah sejak kapan. Tatapannya fokus pada wajah Alya—dan sesuatu berubah di matanya saat melihat ekspresi ketakutan gadis itu.
“Kamu kenapa?” suaranya rendah, tapi tegas.
Alya buru-buru menghapus air matanya. “T-tidak apa-apa, Pak. Saya hanya—”
“Alya.”
Nada itu membuatnya berhenti bicara.
Ada perintah halus, tapi juga kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.
“Lihat saya.”
Alya ragu, tapi perlahan menatapnya. Arvin memperhatikan mata Alya yang memerah, bibir yang bergetar, dan tangan yang tidak bisa diam.
Arvin menghela napas panjang. “Masuk ke ruangan saya.”
“Tapi—”
“Sekarang.”
Alya berdiri dengan lemah. Suara langkahnya terdengar pelan, hampir goyah. Begitu pintu ruang direktur tertutup, Arvin menekan tombol kecil di meja kerjanya — mengunci pintu otomatis.
Alya terkejut. Arvin jarang melakukan itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Arvin lagi, pendek, langsung ke inti.
Alya menggigit bibir. Ia ingin kuat. Ia sudah berusaha bertahan selama ini. Tapi kali ini… ia benar-benar takut.
Tanpa mengatakan apa pun, Alya membuka email tadi dan menyodorkan laptopnya ke Arvin.
Arvin mengambilnya.
Tatapannya langsung berubah dingin. Sangat dingin.
Hawa ruangan ikut menurun.
Ia menatap foto itu lama — terlalu lama. Rahangnya mengeras.
“Sejak kapan ini terjadi?” suaranya rendah dan bahaya.
Alya menunduk. “Sejak kemarin saya menerima pesan pertama. Tapi saya tidak ingin membuat masalah. Saya pikir itu hanya orang iseng.”
Arvin menutup laptop dengan cepat. “Ini bukan iseng.”
Nada suaranya membuat Alya merinding.
Lalu ia menatap Alya—kali ini lebih lembut, namun penuh tekanan.
“Kau harus bilang dari awal.”
Alya mengepalkan tangan. “Saya takut, Pak. Takut dianggap lebay. Dan… saya tidak ingin merepotkan Anda.”
Arvin tidak menjawab selama beberapa detik. Ia hanya menatap Alya dalam, seolah berusaha memahami kenapa gadis itu selalu memendam semuanya sendirian.
Kemudian ia berdiri, berjalan mendekati Alya, dan berdiri tepat di depannya.
“Kau tidak merepotkan saya.”
Kata-kata itu pelan—tapi jujur.
Alya terkejut.
Arvin melanjutkan, “Mulai hari ini, kamu pulang dan berangkat kerja tidak sendirian.”
Alya mengerjap. “Maksudnya?”
“Aku yang mengantar.”
Alya hampir tidak bisa bernapas.
“Ta—Tidak perlu sampai begitu, Pak.”
Arvin mengabaikan penolakannya. “Dan aku akan minta security mengecek CCTV. Pelakunya pasti terekam.”
Ia melangkah ke meja, meraih ponsel, dan langsung menghubungi bagian keamanan.
Nada suaranya berubah sangat dingin—dingin yang hanya muncul ketika ia serius.
“Cek semua rekaman CCTV di parkiran jam enam sampai delapan pagi. Sekarang juga.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan sambungan.
Alya menunduk gelisah. “Pak, saya benar-benar tidak ingin membuat Anda ikut campur.”
Arvin kembali menatapnya.
Kali ini suaranya lebih lembut.
“Alya, dengar.”
Ia mendekat sedikit.
“Kalau sesuatu terjadi padamu… aku tidak akan diam saja.”
Alya terpaku.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan sang Direktur dingin, bukan atasan yang galak, bukan pria perfeksionis yang membuatnya takut.
Yang ia lihat adalah… seseorang yang benar-benar peduli.
Seseorang yang khawatir.
Seseorang yang ingin melindunginya.
Arvin menambahkan, “Dan mulai sekarang, apa pun yang terjadi padamu, kau harus bilang ke aku.”
Alya menunduk, wajahnya memanas. “Baik, Pak…”
Tepat saat itu—pintu ruang direktur diketuk keras.
“M—maaf, Pak Arvin!”
Suara itu terdengar panik.
Arvin mengerutkan dahi dan membuka kunci pintu.
Seorang petugas keamanan masuk dengan wajah pucat. “Pak… kami sudah cek CCTV.”
Arvin menegang. Alya membeku.
Petugas itu menelan ludah.
“Hasilnya… Anda harus lihat sendiri, Pak.”
Alya menatap Arvin dengan cemas.
Arvin mengangguk. “Tunjukkan.”
Petugas itu langsung memutarkan rekaman di tablet.
Dan di layar—
Tampak seseorang berdiri di balik sebuah pilar parkiran.
Memotret Alya diam-diam.
Bayangan tubuhnya samar.
Wajah tidak terlihat.
Tapi satu hal sangat jelas:
Orang itu memakai ID card karyawan AVION Group.
Alya menutup mulutnya menahan napas.
Arvin mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih.
“…Jadi pelakunya,” gumam Arvin pelan, “adalah orang dalam.”
---