"Kak, kalau saja waktu itu kalian tidak datang ke sekolahku, mungkin anak kalian tidak akan terlihat menyedihkan begini," isaknya di dalam kamar.
"Aku sungguh tidak ingin hal itu terjadi. Aku cuma mau kita memiliki kenangan indah, itu saja. Rupanya kalian memang benar memberikanku sebuah kenangan hingga aku tidak akan pernah bisa untuk melupakannya."
*******
Suara kokok ayam di rumah sebelah membangun Ayora dari mimpi indahnya. Gadis itu segera duduk, mengucek mata, dan menarik napas perlahan. Tak lupa juga ia memberikan afirmasi positif untuk pagi harinya. Sebab ia percaya bahwa kata-kata yang diucapkan itu adalah doa serta sebagai penyemangat diri di saat merasa putus asa.
Setelahnya ia membersihkan kamar tidur dan menuju kamar mandi. Beres mandi, ia pun berdandan tipis dan memakai baju yang rapi. Di depan kaca ia menatap wajahnya cukup lama sambil sesekali menyipitkan mata lalu bibirnya juga monyongke depan.
"Aku enggak jelek-jelek amat kok. Wajahku normal, tidak ada yang salah. Lantas kenapa tidak ada yang memuji aku cantik ya?" ucapnya sambil menepuk-nepukan spons bedak ke wajahnya.
"Ya sebenarnya ada sih, itu Bibi. Cuma kan aku juga mau diakui cantik sama orang lain," kesalnya. Tangannya meraih maskara di depan kaca dan kemudian mulai mengenakan ke bulu matanya yang panjang, lentik.
Dari luar suara Fatya terdengar menyuruhnya untuk menuju ruang makan. "Iya, Bi. Aku pakai parfum bentar ya," jeritnya dari dalam kamar sambil menyemprotkan parfum wangi vanila ke bajunya. Tak lupa juga merapikan rambut serta poninya.
Kini kedua wanita itu sudah duduk di meja makan. Di depan mereka ada piring, lauk, gelas dan juga kotak bekal. Setelah makan, mereka pun menuju halte.
Ayora melirik arloji di pergelangannya yang menunjukkan pukul 06. 19 WIB. Dia mendengus kesal menunggu angkutan umum yang belum lewat juga. Fatya yang mendegar dengusan itu pun tersenyum kecil. Lantas tangannya menyentuh pucuk kepala Ayora.
"Ay, kenapa? Kok dari tadi narik napas terus sih," tanyanya.
"Kenapa kita enggak pindah shift malam saja, Bi?" ucap Ayora yang bertanya balik pada Fatya.
"Karena enggak bagus kalau kita perempuan ambil shift malam, Ay. Kamu ingatkan apa yang dibilang sama Pak Tarno kalau kita kerja shift malam."
Mulut Ayora maju beberapa senti ke depan, matanya menatap ke arah jalanan yang masih tertutupi oleh kabut tipis-tipis. Sementara itu kakinya digesek-gesekkan ke lantai. "Iya, Bi. Tapi kan aku mau nya ambil shift malam."
"Jangan, Ay. Bibi enggak mau ambil resiko apalagi itu bisa membahayakan kamu. Bibi sudah janji akan jagain kamu sama Mama dan Papa kamu," jelas Fatya dengan lembut.
Jika sudah begitu, Ayora tak mampu lagi untuk berkata-kata. Kelemahannya adalah orangtuanya. Jangankan untuk membantah, bahkan untuk bernapas saja ia akan mengaturnya, perlu waktu sera tempo yang pas. Persis ucapan mantan yang kadang tidak punya tempo.
Selang dua menit kemudian angkot berwarna biru itu berhenti di depan mereka. "Mang kenapa lama banget sih datangnya," omel Ayora.
"Maaf, Neng, tadi Mamang antri di SPBU dulu."
"Ck! Oke deh."
Di sepanjang perjalanan mereka menatap keluar jendela. Menikmati udara pagi Jakarta yang belum banyak terkontaminasi oleh asap kendaraan. Sesekali ia akan melirik arloji di tangannya. Entah kenapa waktu terasa begitu lambat dari biasanya. Tak terasa hotel Singgasana sudah berada di depan mata.
"Ini ongkosnya, Mang. Terima kasih ya," ujar Fatya. Setelahnya ia pun menyusul Ayora yang sudah berjalan lebih dulu darinya.
"Ay, kalau kamu mau pulang cepat bilang ya. Biar nanti Bibi yang gantiin kerjaan kamu."
"Enggak, Bi. Aku tuh tadi cuma bercandaa aja kok. Soalnya aku ngerasa capek saja pagi-pagi harus berangkat kerja," kata Ayora yang membuka pintu staff.
"Ya sudah, lain kali jangan bercanda. Lebih baik jujur daripada harus dipendam sendirian."
"Oke, Bi."
"Ay, nanti malam Bibi ada kerjaan tambahan. Jadi nanti jangan tungguin Bibi pulang ya. Langsung tidur saja kalau sudah ngantuk, oke?" seru Fatya yang berjalan mendekati pintu.
"Loh Bibi kerja apaan malam-malam?"
"Ada tamu spesial yang minta Bibi layani."
"Hah, layani?" Ekspresi wajah Ayora yang terkejut membuat kedua alis matanya menyatu seperti ekor cicak. Gelak tawa Fatya pecah melihat wajah lucunya.
"Haha, jangan berpikir aneh-aneh deh. Kamu tahu kan tamu di kamar 207 yang perfecsionis itu.
Ayora mengangguk, langkah kakinya dipercepat untuk menyeimbangi langkah Fatya. Mereka berbincang sambil menaiki anak tangga satu per satu.
"Tapi... Bi?" ucapannya terhenti ketika pria yang ada di kamar 207 itu keluar menggunakan topi dan kacamata.
"Tapi.. kenapa?"
Ayora menggeleng, "Ah enggak jadi. Pokoknya kalau Bibi kerja malam, aku juga harus ikut," kekehnya yang berjalan masuk ke lorong di sebelah kanan mereka berdiri.
Saat sedang membersihkan tempat tidur, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang cair dan juga lengket, dengan cepat ia menarik tangannya dan melemparkan selimut itu ke lantai. "Iuw! Ini apaan sih, kok lengket?" ujarnya dengan wajah yang mengernyit.
Ayora berlari menuju kamar mandi, menyalakann kran. Sejenak ia melihat tangannya, cairan itu tampak berwarna merah gelap, agak kental. Jantungnya detak tak karuan dan matanya melotot. Di dalam hati ia bertanya darah apa ini?
Dengan jantung yang masih dag dig dug ia memberanikan diri untuk melihat ke bawah kolong tempat tidur. Pelan-pelan ia menundukkan kepala untuk mencaritahu apa yang tersembunyi di situ. Matanya sedikit dipicingkan berusaha untuk melihat dengan jelas. Namun tidak ada apa-apa di sana.
Ia bernapas lega dan ternyata semua yang dipikirkannya tadi hanya imajinasi bekala. Ia kembali membersihka seisi ruangan dnegan cekatan tanpa kecuali. Ketika ia akan keluar kamar, tiba-tiba dia mendegar suara lirih dan pelan berkata "Tolong... tolong..."
Langkah kakinya terhenti. Ayora berdiri mematung, mundur sebanyak dua langkah dan setengah tangannya menutupi telinga. "T-tolong."
Lagi, ia mendengar suara orang meminta tolong dari dalam lemari, tapi dia tidak melihat siapapun di sana. Ayora menggelengkan kepala cepat. Dipikirannya itu hanyalah imajinasi atau mungkin pengaruh dari film yang ditontonnya tiga hari lalu.
"Ah palingan juga itu imajinasi lagi," ujarnya untuk berpikir positif. "Tapi enggak mungkin imajinasi dua kali kan?"
Dengan rasa penasaran bercampur takut, ia mendekati sebuah lemari kecil yang ada di sudut ruangan dekat dapur. Sedikit gelap dari tempat lainnya.
"Halo, apa ada orang di sini?" seru Ayora memastikan dengan suara yang bergetar.
Tak lama kemudian terdengar suara seorang gadis yang menjawab "A-ada," sambil merintih kesakitan. Ayora kaget bukan main. Tanpa berpikir panjang, ia segera membuka pintu lemari itu dengan cepat.
Saat lemari itu terbuka, alangkah kagetnya ia melihat seorang wanita bersimbah darah duduk di dalam lemari. Tangannya menekan perut yang masih mengeluarkan darah. Kakinya diikat dengan plastik snack serta rambut yang acak-acakkan.
Wajahnya terlihat pucat, bibirnya bergetar hebat dan matanya sedikit terpejam. Ayo meraih ponsel dari kantung bajunya dan menghubungi pihak hotel. Tak lama kemudian keamaan dan juga pihak hotel datang. Mereka segera membawa gadis itu menuju rumah sakit hotel.
Dengan badan yang bergemetar hebat, ia terduduk lemas di lantai. Saat Fatya datang ia menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
"Fatya, sepertinya Ayora sangat terkejut dengan peristiwa ini. Lebih baik bawa dia ke ruangan staff dan tenangkan dia di sana," ujar stafff lainnya.
Fatya mengangguk. Ia membopong tubuh Ayora dengan hati-hati dan dibantu oleh rekan kerja yang lain. "Fat, kamu temanin Ayora di sini saja. Biar nanti kami bilangin sama Bos kalau Ayora belum siap untuk ditanya-tanyain."
"Terima kasih ya, Mbak," ujar Fatya.
"Iya, sama-sama. Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja kok," ucapnya lagi berusaha menenangkan Fatya yang terlihat seperti cemas.
"Iya, Mbak," jawabnya, mengangguk.
Ayora sangat terguncang dengan kejadian ini. Dia masih terus menangis tanpa henti. Bahunya bergetar hebat. "Bi, bagaimana kondisi wanita itu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Ayora diikuti oleh tangisan.
"Tentu sayang. Dia akan baik-baik saja setelah ditangani oleh dokter," jawab Fatya.