“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya,” ujar salah seorang rekan kerjanya. Sepertinya ia percaya jika Ayora adalah pelaku dari kejadian tadi.
Sontak kedua bola mata Fatya membelalak. Tatapannya tajam, menantang. Tangannya pun mulai mengepal.
Dia berdiri agar menyamai wanita dengan wajah bulat itu. “Maksud Mbak apa? Mbak menuduh Ayora pelakunya?!” bentak Fatya.
“Bukan menuduh, kan aku cuman bilang kalau kebenaran pasti akan menang,” jawabnya dengan suara bergetar.
“Enggak, tadi kamu tidak bilang begitu!” hardik Fatya. Percakapan mereka membuat Ayira terbangun dari tidurnya.
“Bi, aku enggak salah. Aku enggak mungkin berani melakukan hal sekeji itu,” tuturnya iba, suaranya bergetar hebat menahan ketakutan.
“Bibi percaya sama kamu, Ay. Sepenuhnya, tanpa ada keraguan sedikit pun,” tuturnya lantang.
Tiba-tiba suasana jadi hening, seperti ditelan oleh udara yang datang secepat kilat. Membelah langit-langit dan menghancurkan seluruh permukaan bumi.
Tak lama kemudian, rekan kerjanya yang lain datang bersama manajer hotel dan juga polisi. Dengan sikap yang tenang, Fatya merangkul keponakannya.
“Jangan takut, Bibi ada di sisimu,” ucapnya, menggenggam erat tangan Ayora.
“Saudari Ayora, silahkan ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan,” ucap seorang laki-laki yang memakai seragam coklat.
“Saya Bibinya. Saya akan ikut dengannya ke kantor untuk bersaksi. Jika kalian tidak mengizinkan saya, maka saya juga tidak akan mengizinkan kalian membawanya pergi.”
“Baik, Anda boleh ikut.” Kemudian mereka pergi keluar ruangan.
“Jangan takut, pihak hotel akan membantumu dalam masalah ini,” bisik seorang wanita kepada Fatya.
"Terima kasih dan aku percaya dengan kamu," jawab Fatya.
Selama di dalam mobil tidak ada suara yang terdengar selain suara dari kendaraan yang berlalu-lalang.
Fatya dengan kepercayaan penuh membelai rambut Ayora. Gadis itu masih tertekan dengan kejadian itu. Saat sampai di kantor polisi, mereka segera masuk.
Di sana, Ayora diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menekan.
"Ay, jangan ragu bilang tidak kalau kamu enggak melakukannya sama sekali," ujar Fatya.
"Saudari Ayora, apakah benar Anda yang menemukan korban di dalam lemari?"
Ayora menganggukkan kepalanya, "benar, Pak."
"Tolong ceritakan bagaimana kronologis kejadiannya," pinta polisi itu.
Ayora menarik napas perlahan, kakinya gemeteran begitu juga dengan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin.
Dia menatap Fatya seakan berkata 'Selamat kan aku'. "Saudari, tolong ceritakan!" ujarnya lagi.
Ayora menutup mata sejenak, mengatur pernapasannya dengan baik. Lalu mulai menceritakan semuanya dari awal dengan penuh percaya diri.
"Jadi Anda tidak melihat siapa pelakunya?"
Ayora menggeleng, "tidak, Pak. Saya ke kamar tersebut untuk menjalankan tugas saya sebagai tukang bersih-bersih. Tidak lebih dari itu," jawabnya yakin.
"Anda yakin dengan jawaban Anda?"
"Sangat yakin!"
"Baiklah, kami sudah mendapatkan informasinya. Apakah Anda bersedia untuk bersaksi kapanpun kami butuhkan?"
"Siap, Pak."
"Oke. Anda boleh pulang. Terima kasih atas kerjasamanya. Sehat selalu."
Ayora langsung menghambur ke dalam dekapan Fatya. Ia terisak.
"Kamu hebat Ay. Bibi yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa menegakkan hukum dengan adil dan juga jujur."
"Bi, sebenarnya aku takut. Tapi aku enggak mau mengakui hal yang tidak kulakukan," ungkapnya.
"Tentu saja kamu takut. Kalau Bibi ada di posisimu, belum tentu Bibi akan bisa berbicara lancar dan tegas seperti kamu," puji Fatya.
"Ah Bibi berlebihan," jawab Ayora yang sudah mulai merasa tenang.
*****
Ketika sampai di rumah mereka disambut hangat dan penuh kekhawatiran oleh tetangganya.
Mereka menghampirinya dengan cepat seperti seorang Ibu yang tengah merasa khawatir anaknya.
"Ayora sayang, kamu baik-baik saja kan?"
"Apa kamu merasa takut?"
"Fatya, bagaimana hasil interogasinya?"
"Alhamdulillah Ayora tidak terlibat dengan kasus itu. Dia akan menjadi saksi untuk kasus tersebut."
"Ah syukurlah," ucap mereka kompak sambil mengelus d**a.
"Bi, Ayora mau kamar dulu ya. Capek!" ujarnya yang masuk ke kamar.
Sedangkan Fatya duduk di depan, berbincang dengan tetangga.
Tak lama setelah itu, Fatya mendapatkan pesan dari seseorang. "Besok di tempat biasa!"
Fatya membalikkan ponselnya dan lanjut bercengkrama. Pesan tersebut tidak menggangu obrolanya sama sekali.
Sementara di kamar, Ayora sedang menatap langit malam dipenuhi bintang-bintang.
"Ma, Pa, kalian tahu tidak kalau tadi mengalami hal yang mengejutkan. Itu adalah pertama kali dalam hidupku mengalaminya dan untuk pertama kali juga aku pergi ke kantor polisi. Aku diinterogasi seperti di film-film," ujarnya.
"Tapi aku terlalu takut dan gugup saat melihat sel tahanan. Udara di sana terasa dingin dan mencekam. Mungkin itulah yang dirasakan oleh tahanan setiap harinya tanpa jeda kecuali mereka keluar dari sana."
"Ma, Pa, datang ya ke mimpiku malam ini saja. Aku ingin bercerita banyak hal pada kalian. Aku tidak ingin merepotkan Bibi terus-terusan. Gara-gara aku, Bibi belum menikah sampai hari ini."
Entah apa yang sedang diucapkan oleh Ayora hingga ucapannya tidak ada yang sesuai dengan situasinya. Akibat terlalu lelah, ketakutan dan juga gugup, ia pun tertidur.
*******
Keesokkan harinya Ayora menjalani rutinitasnya dengan penuh semangat. Kejadian tak terduga kemaren tidak menjadi hambatan untuk bekerja dengan semangat.
"Bibi punya pacar enggak?"
"Enggak, Ay. Mana ada sih orang yang mau pacaran sama tukang bersih-bersih."
"Ah Bibi jangan merendah begitu. Bibi cantik, putih, dan baik hati, pasti banyak yang mau sama Bibi," ujar Ayora, tersenyum manis.
"Nanti kita bahas deh kalau soal itu. Sekarang ayo bereskan dulu pekerjaan kita. Oh iya, mau pergi ke museum nanti malam?"
"Mau, mau banget," balasnya cepat.
"Sudah kuduga, Ayora pasti langsung mau dan mau banget kan!!" goda Fatya, memcoel hidungnya.
Tiba-tiba waktu berlalu begitu cepat. Ayora duduk di taman. Di tangannya ada cake rasa vanila dan juga sebotol minuman dingin.
"Hmmph, yummy!!" ujarnya yang masih mengunyah.
"Kamu tuh enak banget, lembut, creamy dan manisnya pas. Tapi sayang kamu mahal sekali," ucap Ayora pada cake yang ada di tangannya.
"Kalau kamu mau, aku bisa membelikan yang banyak," ujar seorang pria tiba-tiba.
Sontak Ayora menoleh ke samping. Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi, memakai masker, dan topi. Tidak ada yang bisa dilihat selain matanya.
"Terima kasih atas niat baiknya, tetapi aku masih bisa membelinya."
"Kenapa kamu menolaknya?" tanya pria itu sambil duduk di sampingnya.
Aroma jeruk lime yang segar langsung menusuk hidung Ayora. Gadis itu menghela napas.
"Karena aku punya pekerjaan," balas Ayora.
Pria itu terkekeh kecil. "Menarik," ujarnya.
"Apanya yang menarik?" tanya Ayora waspada.
"Kamu!" ujarnya pelan.
"Oh begitu. Saya tidak tertarik dengan kamu. Cari saja wanita lain yang bisa kamu goda!"
Ayora mengemas sampahnya, lalu berdiri dan meninggalkan pria aneh itu di sana.
"Dasar cowok aneh," ketusnya. "Kita bahkan enggak saling kenal, tapi merasa sok akrab. Dasar buaya!" makinya dalam hati.
"Ayora, kamu masih sama seperti beberapa tahun lalu. Mandiri, cuek, dan punya harga diri yang tinggi," ujarnya.
Bayangan Ayora hilang ditelan oleh bangunan putih di depan pintu. Namun Ayora merasa tak asing dengan aroma tubuh pria itu.
"Enggak... enggak mungkin, Ayora! Bukan cuman dia yang punya parfum itu. Masih banyak orang di luar sana. Stay positif Ayora." ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundaknya.
"Ayora?" suara lembut itu membuatnya terlonjak kaget. Fatya yang melihat ekspresinya tegang merasa khawatir.
"Apa ada yang menggangu kamu? Atau kamu merasa tidak nyaman? Mau pulang sekarang juga?" ujarnya panik.
Ayora menggeleng, "Enggk, Bi. Aku baik-baik saja. Hanya saja tadi aku ketemu sama cowok aneh," tuturnya.
"Cowok aneh??"
"Iya! Pas aku duduk di taman sambil makan cake, dia datang tiba-tiba, terus dia nawarin aku sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Dia mau beliin cake vanila yang banyak kalau aku mau."
"Terus kamu bilang apa?"
"Aku bilang enggak mau. Terus dia malah bilang kalau aku menarik. Aneh kan, Bi." tuturnya menggebu.
"Mungkin saja dia orang yang suka sama kamu, Ay," goda Fatya.
"Ih mana ada. Aku yakin kalau dia itu buaya. Pasti banyak cewek-cewek di luar sana yang jadi korbannya."