Pukul empat lewat sepuluh, Maesaroh sudah berdiri di depan papan ukur yang dipaku bapaknya di dinding rumah pompa, tiga belas tahun lalu. Senter di mulutnya menyorot deretan angka yang dicat putih, sebagian sudah mengelupas dimakan air payau. Ia tidak butuh senter sebenarnya. Tangannya hafal letak setiap garis seperti hafal letak tahi lalat di punggung tangannya sendiri. Tapi mencatat itu pekerjaan, dan pekerjaan menuntut mata, bukan ingatan.
Di luar, laut masih hitam. Subuh belum benar-benar datang, hanya menyisakan semburat kelabu di tepi langit timur, di atas garis tambak yang batasnya sudah lama hilang. Mae mencelupkan tongkat ukur kayunya ke dalam kolam penampungan di sisi pintu air, menariknya, lalu mengamati di mana basahnya berhenti. Ia mengernyit. Mengukur lagi. Angka yang sama keras kepalanya seperti pertama tadi.
Seratus delapan belas. Air pasang subuh ini berhenti di seratus delapan belas sentimeter dari dasar acuan.
Garis merah bapaknya ada di seratus lima belas.
Untuk sesaat ia hanya berdiri di sana, membiarkan air menetes dari tongkat ke betisnya. Garis merah itu bukan garis sembarangan. Bapaknya, mendiang Sukirman, mantan mandor tanggul yang tubuhnya selalu bau lumpur dan tembakau, membuatnya pada musim pasang terburuk yang pernah ia hadapi, dan berkata, "Selama air belum nyentuh merah, kita masih menang, Nduk. Kalau sudah lewat merah, pompa harus jalan terus, dan kamu jangan tidur." Selama bertahun-tahun, garis merah itu seperti pagar yang belum pernah sungguh-sungguh dilompati. Air mendekat tiap purnama, menjilat dekat sekali, lalu mundur lagi, seolah masih punya sopan santun.
Pagi ini ia melompatinya tiga sentimeter, di hari biasa, bukan purnama.
Mae mengambil buku catatan dari rak, buku bersampul plastik yang sudah berkali-kali diganti karena lembap. Ia menulis tanggal, jam, dan angka itu dengan pensil, karena tinta selalu luntur di sini. Lalu, di kolom keterangan yang biasanya ia biarkan kosong, ia menulis satu kata, lalu menghapusnya, lalu menulisnya lagi: lewat.
Dari balik dinding, mesin pompa lama berdengung dalam tidurnya yang setengah. Mae menghampirinya, menyentuh badan besinya yang dingin dan berkarat di sambungan-sambungannya, merasakan getaran halus seperti orang meraba dada untuk mendengar napas. Pompa ini sudah tua. Lebih tua dari Mae. Bapaknya pernah bilang mesin ini didatangkan dari pelelangan proyek pelabuhan, sudah bekas waktu datang, dan tiap musim mereka menyembuhkannya dengan suku cadang yang dipinjam dari mesin lain yang sudah mati. Tiga unit harusnya. Yang dua mati sejak Mae masih remaja, dijadikan kanibalan untuk yang satu ini. Maka tinggal satu jantung untuk satu kota.
Ia menyalakannya. Dengung berubah jadi raungan tertahan, lalu air mulai disedot dari sisi dalam tanggul dan dimuntahkan kembali ke laut lewat saluran buang. Mae berdiri di mulut saluran, melihat air keruh tumpah ke air keruh yang lain. Tugasnya, kalau dipikir-pikir, adalah memindahkan air dari satu sisi ke sisi lain, dan tiap hari sisi yang ia lawan mengirim lebih banyak daripada yang bisa ia kembalikan. Selisihnya selalu kalah. Sedikit. Tapi kalah.
Matahari naik perlahan, dan dengan cahayanya Muara Sigar muncul dari gelap seperti sesuatu yang baru saja diangkat dari rendaman. Atap-atap seng berkarat. Tiang-tiang listrik miring. Jalan kampung yang dulu beraspal kini bersisik lumpur kering di tempat yang tinggi dan jadi got panjang di tempat yang rendah. Di kejauhan, menara masjid berdiri, kubahnya hijau pudar, dan kaki bangunannya lebih pendek daripada yang Mae ingat waktu kecil, bukan karena masjidnya menyusut, tapi karena tanah di sekelilingnya naik dari uruk berulang dan air yang menggenang. Pintu masjid yang dulu setinggi dada lelaki dewasa, sekarang sudah seperti jendela.
Mae mematikan pompa setelah genangan dalam surut secukupnya. Membiarkannya menyala terus berarti membakar solar yang tidak ada gantinya, dan ia tahu betul jatah solar bulan ini tinggal seperempat tong. Ia mengunci ruang mesin, menggantungkan kunci di lehernya seperti biasa, dan berjalan pulang menyusuri tanggul.
Rumahnya, rumah neneknya, berdiri di Kampung Karangsari, sedikit lebih tinggi daripada kampung-kampung di bawahnya. Mbah Inah sudah bangun, sudah menjerang air di tungku yang ditaruh di atas meja, karena lantai dapur terlalu sering basah untuk menyalakan api di bawah. Perempuan tua itu kecil dan bungkuk, kulitnya seperti kulit kayu yang lama dijemur, tapi matanya tajam dan suaranya tidak pernah lembut sejak Mae mengenalnya.
"Subuh-subuh sudah ngangsur muka," kata Mbah Inah tanpa menoleh. "Airnya nakal lagi?"
Mae duduk di dingklik, menyandarkan punggungnya ke dinding bilik. "Lewat merah, Mbah."
"Merah apa."
"Garisnya Bapak."
Mbah Inah berhenti mengaduk. Hanya sebentar. Lalu ia melanjutkan, dan menuang air panas ke gelas berisi gula dan kopi yang bubuknya sudah diukur dengan jari. "Bapakmu itu suka melebih-lebihkan," katanya. "Garis merah, garis hitam. Air ya air. Naik, turun. Sejak Mbah masih gadis juga begitu. Robnya datang waktu pasang gede, dua tiga hari, lalu pulang sendiri ke laut. Kamu ini, baru kerja sebentar, sudah pintar bikin susah hati."
Mae tidak menjawab. Ia mengambil gelas yang disodorkan, melingkarkan jari di sekeliling panasnya. Ia ingin percaya pada versi neneknya, versi tentang air yang punya sopan santun, yang datang bertamu dan pamit pulang. Itu versi yang ia tumbuh besar di dalamnya. Tapi tangannya, tangan yang tiap hari menghitung selisih, tidak bisa percaya. Tangannya tahu sesuatu yang tidak mau diakui kepala.
Di luar, ayam-ayam mematuk tanah di pekarangan yang lembap. Seorang tetangga lewat dengan ember, menyapa Mbah Inah, mengeluh sumurnya makin asin, airnya tak bisa lagi dipakai masak, hanya untuk cuci. Mbah Inah menanggapinya dengan keluhan balasan tentang harga beras. Percakapan biasa. Pagi biasa.
Mae menatap ke arah laut yang tak terlihat dari sini, hanya bisa ditebak dari arah datangnya bau, asin bercampur lumpur dan sesuatu yang membusuk pelan. Ia teringat garis merah. Tiga sentimeter. Angka sekecil itu, di hari yang tak istimewa.
Ia tidak tahu cara mengatakannya pada neneknya, dan mungkin belum ingin. Tapi di dalam dadanya, seperti tongkat ukur yang ditarik dari air, ada sesuatu yang berhenti di tempat yang lebih tinggi dari biasanya, dan tidak mau kembali turun. Firasat, kalau orang mau menamainya begitu. Mae lebih suka menyebutnya angka. Angka yang baru saja, untuk pertama kalinya, melewati garis yang dibuat orang yang sudah mati untuk menjaga anaknya tetap waspada.
Ia menghabiskan kopinya. Sebentar lagi pasang siang. Ia harus kembali.