Pasang siang datang sesuai jadwal, dan untuk sesaat semuanya seperti hari-hari yang sudah lewat. Air laut menyelinap masuk lewat mulut kali, lewat celah tanggul, lewat tanah yang sudah terlalu keropos untuk menahannya, lalu mengisi parit dan halaman dan jalan rendah seperti tangan yang merayap pelan di bawah selimut. Mae mengamatinya dari atas tanggul, dengan buku catatan di tangan dan matahari membakar tengkuknya. Air naik, mencapai puncaknya tengah hari, lalu, seperti yang seharusnya, mulai turun.
Tapi tidak turun seperti dulu.
Mae menunggu di Kampung Bidara sampai sore, sampai jadwal surut seharusnya sudah mengeringkan jalan. Bidara adalah kampung paling rendah di Muara Sigar, kampung nelayan tua yang tanahnya paling banyak ambles karena paling lama dipijaki dan paling banyak disedot sumurnya. Dulu, waktu Mae kecil, Bidara hanya basah waktu pasang besar. Sekarang, surut sore meninggalkan air selutut di sepanjang gang, dan air itu tidak pergi. Ia hanya diam di sana, keruh dan tenang, memantulkan langit, sabar.
"Tamunya betah, Mbak Mae," kata Bu Romlah, perempuan setengah baya yang rumahnya menghadap gang utama. Ia berdiri di ambang pintu yang sekarang harus dinaiki dua undakan dari jalan, undakan dari tumpukan batako yang ditata seadanya. Di tangannya ember, dan dengan ember itu ia menciduk air dari dalam rumah dan membuangnya ke luar, ke air yang sama tingginya, pekerjaan yang sia-sia tapi tetap dilakukannya karena tidak melakukan apa-apa lebih menakutkan. "Sudah tiga hari nggak pulang ke laut. Sudah tak tahu malu."
Mae turun dari tanggul dan mengarungi air itu, dingin dan lengket di kakinya, menuju rumah Bu Romlah. Di dalam, suami Bu Romlah, Pak Toyib, sedang mengganjal kaki lemari dengan bata, mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi untuk kesekian kali. Kasur sudah ditumpuk di atas dua dipan. Televisi diletakkan di atas lemari. Foto-foto keluarga dalam bingkai sudah dipindah ke paku yang lebih atas, meninggalkan bekas paku lama seperti deretan luka di dinding, mencatat setiap kali air datang dan mereka mundur.
"Sudah berapa kali Bapak nguruk lantai?" tanya Mae.
Pak Toyib tertawa, tawa yang tidak ada senangnya. "Lupa, Nduk. Pertama dulu setinggi mata kaki. Lalu setinggi betis. Sekarang, lihat saja, langit-langitnya sudah bisa kucium kalau aku berdiri." Ia benar. Lantai rumah itu sudah ditinggikan begitu rupa sampai kepala Pak Toyib hampir menyentuh kayu atap. Mereka tidak menaikkan atap. Mereka menaikkan lantai, mengubur rumah mereka sendiri dari dalam, mengubah rumah jadi liang yang makin pendek tiap musim. "Sebentar lagi aku harus merangkak di rumah sendiri," kata Pak Toyib, dan kali ini ia benar-benar terkekeh, dan Mae ikut tersenyum karena tidak ikut tersenyum akan terasa seperti menghina.
Mae berjongkok, mencelupkan tangannya ke air genangan, lalu mengangkatnya dan mengamati. Keruh, berlumpur, tapi yang ia perhatikan bukan itu. Ia menjilat ujung jarinya. Asin. Asin betul. Ini bukan air hujan yang tertahan, bukan air kali yang meluap. Ini air laut yang masuk dan memutuskan untuk tinggal.
Ia berdiri, dan untuk sesaat membaca gang itu seperti orang membaca tulisan. Genangan permanen ini berarti tanah Bidara sudah lebih rendah daripada permukaan laut saat surut. Bukan saat pasang. Saat surut. Itu garis yang berbeda sama sekali. Selama ini Bidara basah waktu air menang sementara. Sekarang Bidara basah bahkan waktu air sedang istirahat, karena dasarnya sudah turun melewati titik di mana laut bisa pergi meninggalkannya. Pompa bisa menyedot genangan ini keluar, tapi begitu pompa berhenti, laut akan mengirimnya kembali, karena laut sekarang lebih tinggi dari lantai Bidara, dan air selalu mencari yang lebih rendah.
Mae merasakan sesuatu yang dingin di perutnya, dingin yang bukan dari air.
"Mbak Mae kenapa? Pucat," kata Bu Romlah.
"Nggak apa-apa, Bu. Kepanasan." Mae menutup buku catatannya. Di dalamnya, di samping angka subuh tadi, ia akan menulis sesuatu yang baru: Bidara tergenang permanen saat surut. Tapi tidak di sini, tidak di depan mereka. "Saya laporkan ke kelurahan ya, Bu. Soal genangan ini."
Bu Romlah mengibaskan tangan. "Sudah, Mbak. Sudah berapa kali kami lapor. Katanya anggaran tanggul mau turun. Anggaran, anggaran. Yang turun cuma air."
Sore itu Mae berjalan ke kantor desa yang berdiri di tanah agak tinggi, satu-satunya bangunan di Muara Sigar yang lantainya masih kering. Pak Carik, sekretaris desa, sedang menghitung sesuatu di kalkulator dengan dahi berkerut. Ketika Mae masuk dan meletakkan buku catatannya di meja, menunjuk angka subuh dan menceritakan genangan Bidara, Pak Carik mendengarkan dengan ekspresi orang yang sudah lelah mendengar.
"Aku tahu, Mae," katanya akhirnya. "Aku tahu semua. Kamu pikir aku nggak lihat? Tiap pagi aku ke kantor ini lewat Bidara. Tapi aku ini cuma carik. Aku nggak punya tanggul, nggak punya pompa, nggak punya uang. Yang aku punya cuma surat. Aku sudah kirim surat ke kabupaten tiga bulan lalu. Mereka bilang anggaran peninggian tanggul sudah dialokasikan tahun ini. Proyeknya sudah jalan, kamu lihat sendiri tumpukan batu di sebelah barat itu."
"Proyek itu berhenti, Pak. Sudah dua bulan tidak ada orang kerja di sana."
Pak Carik membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menatap kalkulatornya, lalu menatap Mae, dan dalam pandangan itu Mae melihat sesuatu yang lebih jujur daripada kata-kata: Pak Carik juga tidak tahu ke mana proyek itu pergi. "Akan kucek," katanya pelan. "Besok kuajak kamu ke tanggul barat. Kita lihat sendiri."
Mae mengangguk. Ia mengambil bukunya, dan di ambang pintu ia berhenti. "Pak," katanya. "Pompa cuma satu yang hidup. Solar tinggal seperempat tong. Kalau Bidara harus disedot terus-terusan, tidak akan sampai akhir bulan."
Pak Carik tidak menjawab. Ia hanya menatap angka di kalkulatornya, angka yang juga selalu kalah, dan Mae keluar ke senja yang baunya asin, melewati gang-gang yang airnya tidak lagi pulang, pulang ke rumah neneknya yang tanahnya, untuk sekarang, masih sedikit lebih tinggi daripada laut.