Pagi berikutnya Mae dan Pak Carik berjalan kaki ke ujung barat, ke tempat tanggul laut bertemu muara kali. Mereka berangkat saat air sedang surut, karena hanya saat surut tanggul itu bisa dilihat seluruhnya, dari kaki sampai punggungnya. Pak Carik memakai sepatu bot karet yang sudah retak di lipatannya. Mae bertelanjang kaki, seperti biasa, karena ia lebih percaya pada telapaknya untuk membaca dasar yang tak terlihat di bawah air.
Tanggul Muara Sigar bukan benda gagah. Ia hanya tanggul tanah yang diperkuat batu dan beton di beberapa bagian, dibangun bertahap selama puluhan tahun, ditambal dan ditinggikan tiap kali laut menuntut lebih. Dari jauh ia tampak seperti punggung naga tua yang tidur memanjang menghadap laut. Tapi dari dekat, punggung itu penuh penyakit. Mae menyusurinya dengan tangan, meraba beton yang dingin dan basah, dan di bagian tengah, di mana proyek peninggian seharusnya menyambung beton lama dengan yang baru, ia menemukannya.
Retakan. Tipis, selebar rambut, tapi panjang. Memanjang sejajar dengan arah tanggul, di sepanjang sambungan antara beton lama dan timbunan baru yang setengah jadi. Mae menelusurinya dengan ujung kuku.
"Lihat ini, Pak," katanya. "Retak rambut. Sepanjang sambungan."
Pak Carik berjongkok, menyipitkan mata. "Retak begini bahaya?"
"Sendirian, tidak. Tapi lihat di sana." Mae menunjuk beberapa langkah ke timur, ke tempat punggung tanggul tidak lagi rata, melainkan melengkung turun, seperti tulang yang patah dan menyatu dengan posisi salah. "Tanahnya ambles di bawah. Timbunan baru ini ditaruh di atas tanah yang belum padat, belum dipadatkan benar, lalu ditinggal. Jadi dia turun sendiri, menarik beton di sebelahnya, makanya retak. Air pasang besar nanti akan menekan di titik lemah ini. Tekanan air itu sabar, Pak. Dia akan masuk lewat retak rambut, melebarkannya sedikit demi sedikit tiap pasang, sampai suatu saat dia tidak retak lagi, tapi jebol."
Pak Carik berdiri, dan keduanya berjalan ke lokasi proyek yang ditinggalkan. Pemandangannya menjelaskan segalanya tanpa perlu kata. Tumpukan batu pecah teronggok, separuhnya sudah tenggelam separuh ke dalam lumpur. Beberapa karung semen yang dibiarkan di tempat terbuka sudah membatu, keras tak terpakai, dimakan lembap. Ada bekas tiang-tiang pancang yang baru terpasang sebagian, berdiri sendirian seperti gigi yang tinggal beberapa. Dan yang paling banyak, yang paling mencolok, adalah ketiadaan. Tidak ada material yang cukup untuk menyelesaikan apa pun. Batu yang ada hanya cukup untuk beberapa meter. Padahal yang harus ditinggikan ratusan meter.
"Materialnya ke mana?" tanya Pak Carik, lebih kepada dirinya sendiri.
"Bapak yang harusnya tahu," kata Mae, tanpa maksud menyindir, tapi kalimatnya jatuh seperti sindiran.
Pak Carik tidak tersinggung. Ia menatap onggokan batu itu lama. "Kontraktornya namanya CV apa, aku lupa. Dari kota. Datang dengan surat lengkap, stempel kabupaten lengkap. Kerja dua minggu, ramai, ada truk, ada pekerja. Lalu pelan-pelan truknya jarang datang. Pekerjanya berkurang. Mandornya bilang nunggu termin cair. Lalu mereka tidak datang lagi. Aku telepon nomor yang ada, tidak diangkat. Aku tanya ke kabupaten, mereka bilang sudah dibayar terminnya. Aku tanya kenapa berhenti, mereka bilang itu urusan kontraktor." Ia menghela napas. "Aku ini orang desa, Mae. Aku tidak tahu uang itu pindah ke mana, di antara stempel-stempel itu. Aku cuma tahu tanggulku retak dan batunya kurang."
Mae tidak menyalahkannya. Itu yang membuat semua ini terasa lebih berat. Tidak ada wajah untuk dimarahi. Tidak ada orang jahat berkumis yang bisa ia datangi dan ia pukul. Yang ada hanya rantai panjang surat, stempel, dan termin, di ujungnya seseorang yang tak pernah ia lihat memutuskan bahwa tanggul kampung kecil ini tidak cukup penting untuk diselesaikan, lalu uangnya menguap ke suatu tempat di antara kota dan kabupaten, dan yang tersisa di Muara Sigar hanya retak rambut yang sabar menunggu pasang.
Siang itu Mae mengumpulkan warga yang masih punya tenaga. Mereka tidak bisa membangun tanggul. Tapi mereka bisa menambalnya. Karung pasir, itu yang mereka punya. Mae memimpin mereka mengisi karung dengan pasir dan lumpur, menumpuknya di titik lemah, di sepanjang retakan, membangun garis pertahanan dari benda yang akan hanyut juga pada akhirnya. Karyo, lelaki bertubuh kekar bekas montir kapal, mengangkat karung dua sekaligus, satu di tiap bahu, tanpa bicara banyak. Anak-anak muda yang belum pergi ikut. Bahkan Bu Romlah datang, membawa air minum dan nasi bungkus.
Saat matahari mulai turun dan punggung mereka semua basah oleh keringat dan air payau, sebuah perahu kecil bermotor mendekat dari arah kanal, dikemudikan seorang lelaki berbaju rapi yang anehnya tetap kering. Ia mematikan motor dan membiarkan perahunya merapat ke tanggul, mengamati pekerjaan mereka dengan wajah ramah yang sulit dibaca.
"Kerja keras sekali," katanya, suaranya halus, dialek kota bercampur logat sini. "Salut saya. Salut."
"Siapa itu?" tanya Mae pelan pada Karyo.
"Koh Bandi," jawab Karyo, meludah ke air. "Dia yang beli rumahnya Kang Darmin minggu lalu. Murah. Murah sekali."
Koh Bandi tidak turun dari perahu. Ia hanya duduk di sana, tangannya menggantung santai, matanya menyapu deretan karung pasir, lalu menyapu kampung di belakangnya, atap-atap yang sebagian sudah ditinggalkan, gang-gang yang airnya tak pulang. Ada sesuatu dalam tatapannya, bukan kejahatan, bukan kelicikan, melainkan perhitungan, perhitungan yang sama jenisnya dengan yang Mae lakukan tiap subuh di papan ukur. Koh Bandi juga menghitung selisih. Hanya saja yang ia hitung bukan tinggi air. Ia menghitung berapa lama lagi orang-orang ini akan bertahan, dan berapa harga yang akan mereka terima ketika akhirnya menyerah.
"Bapak-Ibu butuh apa-apa, saya ada," kata Koh Bandi pada warga, ramah, sungguh-sungguh ramah, dan itulah yang membuatnya menakutkan. "Pasir, semen, atau kalau mau mikir jauh, mau pindah selagi masih ada yang mau beli, saya juga ada." Ia tersenyum, menyalakan motor perahunya. "Tidak ada paksaan. Saya cuma lewat."
Perahunya menjauh, meninggalkan riak yang menjilat karung-karung pasir yang baru mereka susun. Mae menatap kepergiannya, lalu menatap tangannya sendiri, lecet dan berlumpur, lalu menatap karung-karung yang ia tahu hanya menunda. Koh Bandi benar soal satu hal, dan itu yang paling pahit: menjual selagi masih ada yang mau membeli adalah pikiran yang masuk akal. Itu bukan tipu daya. Itu aritmetika. Aritmetika yang sama yang Mae lawan tiap hari, hanya dilihat dari sisi yang berseberangan dengannya.