Kang Darmin pergi pada hari Selasa, naik truk pikap sewaan yang bak terbukanya penuh barang. Mae kebetulan lewat ketika keluarga itu sedang memuat lemari terakhir, dan ia berhenti, karena tidak berhenti akan terasa seperti mengabaikan kematian seseorang.
Darmin masih muda, sebaya Mae, punya istri dan dua anak kecil. Rumahnya di Bidara, rumah yang lantainya sudah diuruk tiga kali, rumah yang sekarang sudah jadi milik Koh Bandi. Istrinya menggendong yang bungsu, menatap rumah itu dengan mata yang sudah kering, mata orang yang sudah selesai menangis dan tidak punya air mata tersisa. Yang sulung, anak lelaki tujuh tahun, duduk di atas tumpukan barang di bak truk, memegangi sangkar burung kosong, burungnya entah ke mana.
"Mae," sapa Darmin, mengelap tangannya ke celana. Ia tersenyum, malu, seperti orang yang tertangkap melakukan sesuatu yang memalukan. "Mau pamit sebenarnya, nanti, sebelum berangkat. Tapi kamu keburu lewat."
"Mau ke mana, Kang?"
"Brebes, ke arah selatan. Ada saudara istri di sana, di tanah tinggi, jauh dari laut. Dapat kerja di pabrik tahu, katanya. Bukan apa-apa. Tapi kering. Anak-anak tidak akan tidur di air lagi." Ia menatap rumahnya. "Kamu tahu berapa Koh Bandi beli rumah ini?"
Mae menggeleng.
Darmin menyebut angka. Angka itu begitu kecil sampai Mae butuh sesaat untuk yakin ia mendengar benar. Itu bukan harga rumah. Itu harga gerobak, harga motor bekas yang sudah tua. Rumah yang dibangun bertahun-tahun, diuruk berkali-kali dengan keringat, dijual seharga ongkos pindah dan beberapa bulan makan.
"Tahu itu murah, Mae," kata Darmin, membaca wajah Mae. "Tahu itu murah sekali. Tapi coba kamu pikir. Siapa lagi yang mau beli rumah di tanah yang tiap hari kerendam? Bank tidak mau. Orang waras tidak mau. Cuma Koh Bandi yang mau. Dia bilang dia beli buat tambak, buat investasi jangka panjang, katanya tanah pesisir suatu saat ada harganya lagi. Aku tidak tahu dia bohong atau tidak. Tapi yang aku tahu, kalau bukan dia, rumah ini cuma akan jadi air, dan aku tidak dapat apa-apa. Setidaknya sekarang aku punya ongkos berangkat. Punya modal sedikit." Ia tertawa pahit. "Aku menjual rumahku ke laut, Mae. Koh Bandi cuma perantaranya."
Mae tidak tahu harus berkata apa. Sebagian dirinya ingin marah, ingin menyebut Koh Bandi rentenir, lintah, pemakan bangkai. Tapi bagian dirinya yang menghitung selisih tiap hari tahu Darmin benar. Marah itu mewah. Marah itu untuk orang yang punya pilihan lain. Darmin tidak punya. Yang ia punya hanya dua anak yang tidak boleh tidur di air, dan seseorang yang bersedia menukar rumah tenggelamnya dengan ongkos untuk pergi.
"Hati-hati di jalan, Kang," akhirnya Mae berkata, karena hanya itu yang pantas. "Kabari kalau sudah sampai."
Darmin mengangguk. Ia naik ke kabin, mesin truk dinyalakan, dan pikap itu merayap pelan menjauhi Bidara, rodanya membelah genangan, meninggalkan gelombang kecil yang menampar pintu-pintu rumah yang ditinggalkan. Anak sulungnya menatap Mae dari atas tumpukan barang sampai truk membelok dan hilang, sangkar burung kosong masih di pangkuannya.
Malamnya, di rumah, Mae menceritakannya pada Mbah Inah, bukan karena ingin, tapi karena diam terasa lebih berat. Ia berharap neneknya akan berkata sesuatu yang melunakkan, sesuatu seperti kasihan, atau ya sudah, mau bagaimana lagi. Tapi Mbah Inah, yang sedang menjahit sobekan di kain sarung dengan jari yang gemetar tertahan, malah meletakkan jahitannya dan menatap Mae dengan mata yang menyala.
"Jadi sekarang anak-anak muda mulai menjual tanah leluhurnya ke cina perahu itu," kata Mbah Inah, suaranya rendah dan keras.
"Mbah, jangan begitu. Darmin tidak punya pilihan."
"Tidak punya pilihan." Mbah Inah mengulanginya seperti kata itu busuk di mulutnya. "Kakekmu juga tidak punya pilihan, Mae. Waktu Belanda menggusur kampung lama, dia tidak punya pilihan selain mulai dari nol di Bidara ini, menebang bakau, menguruk rawa, dengan tangannya sendiri. Tanah ini bukan jatuh dari langit. Ini ditebus dengan punggung yang bungkuk dan tahun-tahun yang habis. Dan sekarang cucu-cucunya menjualnya seharga motor bekas karena takut basah."
"Bukan takut basah, Mbah. Takut anaknya sakit. Takut tenggelam."
"Semua orang akhirnya tenggelam, Mae," kata Mbah Inah, dan kalimat itu menggantung di udara dapur yang lembap. Lalu, lebih pelan, ia menambahkan, "Kakekmu ada di sana. Di pekuburan Bidara. Kamu tahu itu. Dan tiap pasang sekarang, air naik sampai ke nisannya, lalu turun, lalu naik lagi. Kalau aku pergi, siapa yang menjenguknya? Cina perahu itu? Tambak-tambaknya?" Suaranya goyah, hanya sedikit, lalu kembali keras. "Aku lahir mendengar laut. Aku mau mati mendengar laut. Bukan di kotak beton di pedalaman, jauh dari tanah suamiku. Kamu boleh menjaga pompamu, Mae. Aku menjaga makamku."
Mae menatap neneknya, perempuan kecil bungkuk yang punggungnya menanggung tanah yang sedang ditelan laut, dan ia mengerti, untuk pertama kalinya dengan utuh, bahwa pertempuran yang akan datang bukan hanya melawan air. Air hanya alasannya. Yang sesungguhnya retak adalah sesuatu di dalam tiap rumah, garis yang membelah antara mereka yang muda dan harus pergi demi hidup, dan mereka yang tua dan memilih tinggal demi tanah dan tulang yang sudah lebih dulu dikubur di sana. Dan garis itu, tidak seperti garis air, melewati tepat di tengah meja makannya sendiri.
Ia tidak membantah lagi. Ia menyentuh tangan neneknya yang gemetar dan dingin, dan mereka duduk dalam diam, sementara di luar, pasang malam mulai naik lagi, sabar dan tak terburu-buru, menjilat tanah yang masih mereka sebut rumah.