Purnama datang, dan dengan purnama datang pasang besar. Mae sudah menandai harinya di buku catatan dua minggu sebelumnya, sudah memperingatkan Pak Carik, sudah menyuruh warga Bidara mengangkat barang dan bersiap. Tapi tidak ada yang benar-benar bisa bersiap untuk malam itu.
Pasang mulai naik sejak sore, lebih cepat dan lebih tinggi dari yang pernah Mae catat. Ia berjaga di rumah pompa, menjalankan mesin tua itu sampai raungannya serak, menyedot air dari sisi dalam dan memuntahkannya ke laut. Tapi laut malam itu sudah terlalu tinggi. Air yang ia muntahkan kembali masuk lewat celah yang lain, lewat tanah yang keropos, lewat tanggul yang retak. Untuk tiap ember yang ia keluarkan, laut mengirim dua. Selisihnya, untuk pertama kalinya, kalah telak, bukan sedikit.
Pukul delapan malam, listrik kampung padam. Mae melihat dari pintu rumah pompa, satu per satu lampu rumah di Bidara menghilang, ditelan gelap, lalu ditelan air. Ia menyalakan radio kecil di sabuknya, frekuensi yang ia bagi dengan Pak Carik dan beberapa pemuda. "Bidara harus dikosongkan," katanya, suaranya ditelan dengung mesin. "Sekarang. Jangan tunggu pagi."
Ia meninggalkan pompa menyala dan mengambil perahu yang ditambatkan di teras pos. Karyo sudah menunggu dengan perahunya sendiri, senter besar di tangan. Beberapa pemuda menyusul dengan sampan. Mereka mendayung masuk ke Bidara yang sudah berubah jadi danau hitam, di mana atap-atap rumah masih timbul tapi pintu sudah tenggelam, di mana azan tidak terdengar karena pengeras suara masjid sudah mati bersama listrik, di mana yang terdengar hanya teriakan orang memanggil nama dan derak kayu yang menyerah pada air.
Mereka menjemput satu per satu. Keluarga yang terjebak di loteng. Orang tua yang tidak bisa berenang, diangkat dari jendela ke perahu dengan tangan-tangan yang gemetar. Kucing yang mencakar siapa saja yang mencoba menyelamatkannya. Mae mendayung sampai lengannya mati rasa, menghitung kepala tiap kali perahunya penuh, mengantar ke tanggul tinggi, kembali lagi, menghitung lagi. Dalam gelap ia menghafal kampung itu bukan dengan mata melainkan dengan ingatan, gang mana belok ke mana, rumah siapa di mana, karena Bidara sudah tidak punya bentuk lagi, hanya air dan atap.
Lalu terdengar teriakan dari arah selokan besar di tepi kampung, selokan yang menghubungkan ke kali, yang malam itu berubah jadi arus deras menyedot air ke laut. Seorang lelaki tua, Pak Sakdun, tujuh puluhan, terpeleset saat mencoba menyeberang dan terseret arus. Mae mendengarnya sebelum melihatnya, suara megap-megap dan tangan yang menampar air. Ia membelokkan perahu, mendayung sekuat tenaga melawan arus yang menariknya juga, dan Karyo dari sisi lain menyorot senter, menemukan kepala tua itu timbul tenggelam, terbawa menjauh.
"Pegangan, Pak!" teriak Mae, tapi orang tua itu sudah terlalu lelah untuk berpikir. Karyo, tanpa berpikir dua kali, melompat dari perahunya ke air, berenang melawan arus dengan tubuh kekarnya, meraih kerah baju Pak Sakdun di detik terakhir sebelum arus membawanya ke gorong-gorong yang akan menariknya ke bawah tanah. Karyo menahannya, menendang air, sementara Mae mendekatkan perahu, dan bersama-sama, dengan tenaga yang entah dari mana, mereka mengangkat tubuh tua yang lemas itu ke atas perahu. Pak Sakdun memuntahkan air, batuk, hidup. Hanya itu yang penting. Hidup.
Menjelang dini hari, ketika pasang akhirnya berhenti naik, Bidara sudah kosong dari yang hidup. Mae mendayung satu putaran terakhir untuk memastikan, melewati masjid yang air di dalamnya sudah mencapai mimbar, sajadah-sajadah mengambang, mushaf di rak atas masih kering tapi tidak akan lama. Ia menatap mimbar yang separuh tenggelam itu lama, mimbar tempat ia dulu mendengarkan khotbah Jumat sebagai anak kecil di pangkuan bapaknya. Lalu ia memalingkan wajah dan mendayung pergi.
Di balai desa, di tanah yang sedikit lebih tinggi, warga Bidara berkumpul, basah, menggigil, terbungkus selimut dan terpal seadanya. Anak-anak tidur di pangkuan ibu. Orang tua duduk menatap ke arah kampung mereka yang tak lagi terlihat dalam gelap. Tidak ada yang menangis keras. Yang ada hanya isak yang ditahan, dan diam yang lebih berat daripada isak. Mereka selamat. Semua selamat. Tapi mereka kehilangan tempat untuk pulang, dan itu jenis kehilangan yang tidak bisa dihitung dengan kepala.
Pak Carik berdiri di samping Mae, keduanya basah kuyup, menatap ke arah laut. "Bisa diselamatkan, Mae?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik. "Bidara. Kalau pompanya kita perkuat, kalau tanggulnya ditambah?"
Mae menggeleng, pelan, dan tiap gelengan terasa seperti mengkhianati sesuatu. "Tidak, Pak. Tanahnya sudah di bawah laut surut. Kita bisa sedot seribu kali, dia akan masuk seribu satu. Pompa untuk Bidara cuma akan membakar solar yang dibutuhkan kampung lain." Ia menelan sesuatu yang pahit. "Bidara harus dilepas, Pak. Kita simpan tenaga untuk yang masih bisa dipertahankan."
Kata-kata itu keluar dari mulutnya dan ia membencinya. Seumur hidupnya ia diajari menahan air, menjaga pintu, tidak menyerah. Bapaknya tidak pernah mengajarinya cara mengucapkan dilepas. Tapi malam ini, dengan lengan mati rasa dan Pak Sakdun yang nyaris hilang masih basah di ingatannya, Mae mengerti bahwa kadang menahan segalanya berarti kehilangan segalanya, dan memilih apa yang dilepas adalah satu-satunya kuasa yang tersisa.
Fajar mulai datang, kelabu di tepi langit, menerangi danau baru yang semalam masih bernama Kampung Bidara. Air tidak surut. Mae menatapnya, dan untuk pertama kalinya ia tidak mencatat angkanya. Beberapa hal tidak butuh dihitung untuk diketahui sudah kalah.