Tiga hari setelah Bidara tenggelam, mobil-mobil pemerintah datang. Mereka berhenti di tanah tinggi dekat balai desa, di mana warga Bidara masih menumpang di bawah terpal dan tenda darurat. Turunlah beberapa orang berseragam dinas, membawa map, membawa banner yang dipasang di tiang bambu bertuliskan posko relokasi, dan membawa kata-kata yang sudah disusun rapi jauh sebelum mereka sampai.
Yang memimpin seorang lelaki paruh baya dari dinas, namanya Pak Hidayat, kemejanya disetrika licin dan keringatnya menetes karena tidak terbiasa dengan panas pesisir. Ia bukan orang jahat. Mae menyadari itu cepat, dan kesadaran itu justru membuat segalanya lebih sulit. Pak Hidayat tidak datang untuk menipu atau menggusur dengan kekerasan. Ia datang membawa solusi yang di atas kertas masuk akal, bahkan baik hati, dan justru karena itu menyakitkan.
"Pemerintah kabupaten," kata Pak Hidayat di depan warga yang berkumpul setengah lingkaran, "telah menyiapkan hunian relokasi bagi warga terdampak rob. Rumah susun sederhana, layak huni, di Kecamatan Sukamaju, di dataran tinggi, aman dari banjir selamanya. Listrik ada, air bersih ada, sekolah dekat. Bapak-Ibu akan dapat satu unit per kepala keluarga, gratis, dengan sertifikat hak pakai."
Untuk sesaat tidak ada yang bersuara. Tawaran itu, kalau ditimbang dengan akal, adalah keselamatan. Rumah kering. Air yang bisa diminum. Anak yang tidak tidur di air. Tapi Mae, berdiri di tepi kerumunan, melihat wajah-wajah warga, dan ia membaca di sana bukan kelegaan melainkan sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang Pak Hidayat dengan map dan banner rapinya tidak akan pernah mengerti.
Pak Sakdun, lelaki tua yang nyaris hanyut malam itu, mengangkat tangannya yang masih lemah. "Sukamaju itu jauh dari laut, Pak?"
"Jauh, Pak. Itu kelebihannya. Dua jam naik motor."
"Saya nelayan, Pak. Bapak saya nelayan. Kakek saya nelayan. Saya cuma bisa baca laut, baca angin, baca ikan. Di Sukamaju itu, saya jadi apa? Tukang parkir?"
Pak Hidayat membuka mulut, lalu menutupnya. Ini pertanyaan yang tidak ada di mapnya. "Akan ada pelatihan, Pak. Program pemberdayaan. Bapak bisa belajar keterampilan baru."
Pak Sakdun tertawa, tawa orang tua yang sudah melihat terlalu banyak. "Tujuh puluh dua tahun, Pak. Saya disuruh belajar keterampilan baru. Tangan saya cuma kenal jaring." Ia menggeleng dan duduk kembali, dan diam yang mengikutinya lebih keras daripada bantahan apa pun.
Lalu seorang perempuan, Bu Romlah, berdiri. "Rusunnya berapa lantai, Pak?"
"Empat lantai, Bu. Bapak-Ibu kebanyakan dapat di lantai dua sampai empat."
"Berapa meter satu kamarnya?"
Pak Hidayat menyebut angka. Bu Romlah diam menghitung, lalu berkata pelan, "Rumah saya di Bidara, biar tenggelam, halamannya bisa buat jemur ikan asin. Dapur saya bisa buat warung. Anak saya tidur di kamarnya, saya di kamar saya. Di kotak yang Bapak bilang itu, kami semua tidur di satu ruang, di atas tetangga, di bawah tetangga, jauh dari pasar, jauh dari tempat saya jualan. Bapak kasih saya rumah, tapi Bapak ambil cara saya cari makan. Itu namanya tukar untung atau buntung?"
Dan di sanalah letak luka yang sesungguhnya, Mae menyadarinya. Tawaran itu menyelamatkan nyawa tapi mencerabut kehidupan. Mereka akan punya atap kering tapi kehilangan laut yang memberi makan, kehilangan tetangga yang tersebar ke unit-unit berbeda, kehilangan halaman dan pasar dan masjid dan makam, kehilangan diri mereka sebagai orang Muara Sigar dan menjadi sekadar penghuni nomor unit di tanah yang bukan milik mereka. Selamat, ya. Tapi selamat sebagai siapa?
Warga terbelah saat itu juga, di depan posko itu, dan belahnya mengikuti garis yang sudah Mae lihat di meja makannya sendiri. Yang muda, yang punya anak kecil, condong menerima. Mereka butuh kering, butuh sekolah, butuh masa depan yang tidak basah. Yang tua condong menolak, atau ragu, atau diam, karena pergi berarti meninggalkan terlalu banyak yang tak bisa diangkut truk. Suara mulai meninggi. Seorang pemuda menyebut yang menolak itu keras kepala dan akan menyusahkan semua orang. Seorang tua membalas menyebut yang mau pergi itu pengkhianat yang menjual tanah leluhur. Pak Hidayat berdiri di tengah, kehilangan kendali atas pertemuan yang ia kira akan berjalan menurut map.
Mae melangkah maju, tanpa berniat, hanya karena tidak ada orang lain yang akan, dan mengangkat tangannya. Aneh, mereka diam. Mereka mendengarkannya, padahal ia bukan perangkat desa, bukan pejabat, hanya operator pompa, perempuan dua puluh enam tahun dengan tangan kasar. Tapi mereka percaya padanya, karena bertahun-tahun ia yang menjaga pintu air mereka, dan malam itu ia yang mendayung menjemput mereka dari gelap.
"Tidak ada yang harus memutuskan hari ini," kata Mae, suaranya tenang, lebih tenang daripada perasaannya. "Pak Hidayat, tolong tinggalkan formulirnya. Biar warga pikirkan dengan keluarganya, jangan dipaksa dalam satu pertemuan. Dan tolong, jangan suruh orang memilih antara nyawa dan martabatnya seperti itu pilihan gampang. Itu tidak gampang. Itu pilihan paling susah yang pernah ada." Ia menoleh ke warga. "Dan kita, sesama orang sini, jangan saling memaki. Yang pergi bukan pengkhianat. Yang tinggal bukan orang bodoh. Kita semua cuma orang yang rumahnya ditelan air, dan tidak ada satu pun jawaban yang benar."
Kerumunan itu pelan-pelan tenang, tidak karena terselesaikan, tapi karena lelah. Pak Hidayat menatap Mae dengan campuran terima kasih dan keheranan, lalu menitipkan tumpukan formulir padanya, seakan ia yang paling pantas memegangnya.
Malam itu, berjalan pulang dengan tumpukan formulir di tangan, Mae menyadari sesuatu telah bergeser di dalam dirinya tanpa ia minta. Selama ini tugasnya menjaga pintu air, menahan laut dari kampung. Tapi laut sudah menang di Bidara dan akan menang di tempat lain, dan tidak ada pintu yang bisa ia jaga untuk menahannya selamanya. Yang tersisa untuk dijaga bukan lagi air. Yang tersisa adalah orang-orang ini, martabat mereka, persatuan mereka yang sedang retak, kemampuan mereka untuk tetap menjadi manusia saat segalanya ditelan. Mae menatap formulir di tangannya, kertas yang akan menentukan ke mana orang-orang ini pergi, dan untuk pertama kalinya ia merasa beratnya pintu yang baru, pintu yang bukan dari besi.