Mereka datang di malam tergelap dalam bulan, malam tanpa purnama ketika air sedang surut serendah-rendahnya dan tidak ada yang berjaga karena tidak ada yang perlu dijaga dari air. Mae tahu kapan tepatnya, belakangan, dari bekas yang ditinggalkan. Tapi malam itu ia sedang di balai desa, membantu mengatur jatah beras untuk pengungsi Bidara, dan rumah pompa berdiri sendirian di tepi tanggul, gelap dan tak terkunci dengan benar karena gemboknya sudah lama berkarat dan rusak.
Ia baru tahu paginya. Ia datang untuk sif subuh seperti biasa, dengan buku catatan dan senter, dan menemukan pintu ruang mesin menganga, engselnya dicongkel. Untuk sesaat ia berdiri di ambang, tidak mengerti, otaknya menolak menyusun apa yang dilihat matanya. Lalu ia masuk, dan senternya menyapu ruang yang ia kenal lebih baik daripada kamarnya sendiri, dan ruang itu sudah dilucuti.
Gulungan tembaga di dinamo lenyap, dicongkel keluar dari rumahnya, meninggalkan kerangka motor yang menganga seperti tengkorak. Pipa-pipa kuningan di sambungan saluran dipotong dan dibawa. Panel listrik dibongkar, kabelnya digunting dan ditarik keluar, hanya tembaganya yang dimaui, sisanya berserakan di lantai seperti usus. Bahkan baut-baut kuningan di badan pompa dicongkeli satu per satu. Mereka mengambil apa pun yang bisa dijual sebagai logam tua, dan dalam melakukannya mereka membunuh satu-satunya pompa yang masih hidup di Muara Sigar.
Mae berlutut di lantai yang basah dan dingin, di tengah serpihan mesin bapaknya, dan untuk waktu yang lama ia tidak bisa bergerak. Bukan tangis yang datang. Sesuatu yang lebih kosong dari tangis. Seumur hidupnya pompa ini adalah garis pertahanan terakhir, jantung kota, hal yang membuatnya merasa ada gunanya. Dan dalam satu malam tanpa bulan, orang-orang yang tidak ia kenal, yang tahu kota ini sekarat dan datang untuk mengeruk bangkainya sebelum tenggelam, telah mencabut jantung itu dan menjualnya seharga timbangan tembaga.
Karyo menemukannya masih di sana satu jam kemudian, ketika ia datang mencari Mae yang tidak muncul untuk sarapan jatah. Ia berdiri di ambang pintu, menatap kehancuran, dan tubuh kekarnya tampak mengecil. "Pengepul rongsok," katanya akhirnya, suaranya datar. "Bukan orang sini. Orang sini tahu ini pompa terakhir. Ini orang luar, yang baca berita kota tenggelam, lalu datang malam-malam mengeruk logamnya. Tembaga lagi mahal sekarang."
"Mereka tahu," kata Mae pelan. "Mereka tahu kota ini sudah hampir mati, jadi mereka datang memulungnya selagi masih ada yang bisa dipulung."
Karyo masuk, berjongkok di samping motor pompa yang dibedah, meraba kerangkanya dengan tangan yang dulu memperbaiki mesin kapal. "Dinamonya habis. Gulungannya hilang, harus digulung ulang, dan di sini tidak ada yang bisa. Panelnya bisa kita akali. Pipa kuningan bisa diganti pipa besi, walau cepat karatan." Ia diam, berpikir, dan Mae mengenali ekspresi itu, ekspresi montir yang sedang menghitung apa yang mungkin dari apa yang tersisa. "Mae, mesin kapal nelayan yang karam di muara itu, yang sudah lama ditinggal, dinamonya masih ada. Kecil, tapi mungkin bisa diakali untuk satu pompa kecil. Bukan sekuat ini. Tapi ada daripada tidak ada."
Dan begitulah, alih-alih putus asa di antara serpihan, mereka mulai bekerja. Bukan karena yakin akan berhasil, tapi karena tangan yang bekerja lebih mudah ditanggung daripada tangan yang menganggur menatap kehancuran. Karyo mendayung ke bangkai kapal di muara dan mencabut dinamo kecilnya. Mae mengumpulkan apa pun yang tersisa, mengakali panel dengan kabel sisa, mengganti pipa kuningan yang hilang dengan pipa paralon dan besi bekas yang ia ikat dan lem sebisanya. Anak-anak muda yang belum pergi ikut membantu, mengangkat, memegangi, mengelap. Pak Sakdun, yang nyaris hanyut malam itu, datang dengan kotak peralatan tua bapaknya dan menyerahkannya pada Mae tanpa kata.
Butuh dua hari penuh. Pompa hasil tambalan itu adalah makhluk yang menyedihkan, separuh besi karatan separuh paralon, dinamo dari kapal mati yang dipasang ke badan pompa yang dibedah, kabelnya berjuntai diikat tali rafia. Tapi ketika Karyo menghubungkan dinamo ke generator solar kecil, dan menarik tuas, makhluk itu batuk, tersedak, lalu mulai berdenyut. Lemah. Sangat lemah. Daya sedotnya tidak sampai separuh pompa lama. Tapi ia hidup, dan air mulai mengalir keluar dari saluran buang, tipis, tapi mengalir.
Mereka berdiri di mulut saluran, basah dan kotor dan lelah, menatap air tipis itu tumpah ke laut, dan tidak ada yang bersorak. Tapi Karyo menepuk bahu Mae, satu kali, keras, dan dalam tepukan itu ada sesuatu yang lebih dari sorak.
"Tidak akan menahan pasang besar," kata Mae, jujur, karena ia tidak bisa berbohong soal angka.
"Tidak," Karyo setuju. "Tapi menahan pasang kecil. Mengurangi genangan. Memberi waktu." Ia menyeka wajahnya dengan lengan kotor. "Itu yang kita punya sekarang, Mae. Bukan kemenangan. Cuma waktu. Sedikit waktu."
Malam itu Mae duduk di teras rumah pompa, menatap makhluk tambalan yang berdenyut lemah di dalam, dan memikirkan orang-orang yang datang di malam tanpa bulan untuk mengeruknya. Ia tidak benci mereka, tidak persis benci, walau seharusnya bisa. Mereka bukan pasukan, bukan komplotan terorganisir dengan pemimpin yang bisa ia lawan. Mereka hanya orang lain yang juga menghitung selisih, yang melihat kota sekarat dan memutuskan lebih baik mereka yang mengeruk logamnya daripada membiarkannya tenggelam sia-sia. Aritmetika yang sama, lagi, dari sisi yang lain. Kota yang sudah dianggap mati menarik bukan hanya air, tapi juga orang-orang yang hidup dari kematian, seperti burung pemakan bangkai yang berputar mencium ajal dari jauh. Dan Mae, dengan pompa tambalannya yang menyedihkan, hanya bisa menunda ajal itu sedikit lebih lama, memberi orang-orangnya sedikit lebih banyak waktu untuk memutuskan ke mana mereka akan pergi.