Pekuburan Muara Sigar tenggelam pada awal musim hujan, dan kali ini ia tidak timbul lagi saat surut. Bertahun-tahun nisan-nisan itu bermain petak umpet dengan air, muncul saat surut, hilang saat pasang, seakan yang dikubur di bawahnya masih sesekali ingin menengok dunia. Tapi tanah pekuburan, sama seperti tanah yang lain, terus ambles, dan suatu pagi Mae berdiri di tepinya dan melihat hanya hamparan air keruh, datar, dengan beberapa puncak nisan tertinggi mencuat seperti gigi terakhir dari mulut yang tenggelam.
Mbah Inah datang menjelang siang, dipapah oleh Bu Romlah dan beberapa perempuan tua lain, berdiri di tanggul rendah yang memisahkan pekuburan dari jalan, dan menatap air itu lama sekali. Mae berdiri di sampingnya, tidak berani bicara. Lalu Mbah Inah, dengan suara yang anehnya tenang, berkata, "Kita angkat mereka sebelum hilang."
"Mbah?"
"Tulang-tulangnya. Yang masih bisa diangkat. Kita pindah ke tanah tinggi, ke pekuburan Sukamaju, sebelum air ini menelan semuanya dan kita tidak tahu lagi mana yang siapa." Ia menoleh pada Mae, dan matanya kering tapi keras. "Kakekmu di sana, Mae. Bapakmu di sana. Aku tidak akan membiarkan mereka jadi lumpur dasar laguna yang diinjak ikan. Selama aku masih bisa berdiri, aku akan mengangkat tulang suamiku ke tanah yang kering."
Dan begitulah, di antara semua perpisahan yang sudah Mae saksikan, datang yang paling memilukan, dan yang paling membumi. Perpindahan makam. Mereka melakukannya pada hari surut terendah dalam bulan, ketika air pekuburan turun sampai sebatas paha, cukup untuk berdiri walau tidak cukup untuk kering. Pak modin desa memimpin, membaca doa, menjelaskan tata caranya menurut agama, karena memindahkan makam bukan perkara sembarang, ada adabnya, ada izinnya dari keluarga, ada tata cara membungkus tulang dengan kain kafan baru. Tidak ada yang aneh dalam ini, tidak ada yang tabu, hanya kesedihan yang sangat manusiawi, kesedihan orang yang harus menggali kembali yang sudah mereka kuburkan karena bahkan tanah pun tidak lagi bisa dipercaya menjaga.
Mereka bekerja dalam air keruh, kelompok demi kelompok, keluarga demi keluarga. Menemukan makam yang benar di bawah air bukan perkara mudah; mereka mengandalkan ingatan, hitungan langkah dari nisan yang masih timbul, peta kasar yang digambar para tua di atas kertas. Sebagian tulang ditemukan utuh dalam susunannya, dibungkus pelan dengan kain putih dan diangkat ke perahu dengan tangan gemetar dan bibir yang terus melafalkan doa. Sebagian sudah lama jadi tanah, dan yang bisa diangkat hanya segenggam, dan keluarga itu menangis bukan karena sedikit melainkan karena segenggam itu adalah seluruh yang tersisa dari seseorang yang pernah memeluk mereka.
Mae membantu menggali makam kakeknya sendiri.
Ia belum pernah mengenal kakeknya; lelaki itu meninggal sebelum Mae lahir, lelaki yang menebang bakau dan menguruk rawa untuk membangun Bidara, lelaki yang tanahnya kini di bawah laut. Tapi ia mengenalnya lewat cerita Mbah Inah, ribuan cerita, sampai ia merasa pernah duduk di pangkuannya. Dan sekarang ia berdiri di air sepaha, menggali lumpur dengan tangannya sendiri, mencari sisa dari lelaki yang membangun tanah yang sedang menelannya. Air masuk ke lubang galian secepat ia mengeruknya keluar, dan tiap genggam lumpur yang ia angkat berisi air dan akar dan kepingan masa lalu. Mbah Inah berdiri di tepi, dipapah, menatap, dan untuk pertama kalinya dalam ingatan Mae, air mata jatuh dari mata neneknya, jatuh ke air yang sudah menelan begitu banyak air mata sehingga tidak terasa bedanya.
Ketika akhirnya tangan Mae menyentuh sesuatu yang keras dan bukan akar, ketika ia mengangkat dan membersihkannya dan menyadari apa itu, sesuatu di dalam dirinya yang selama ini kaku akhirnya retak. Bukan ketakutan, bukan tahayul; pak modin sudah menjelaskan ini wajar, ini terhormat, ini cara terakhir berbakti pada yang sudah pergi. Yang retak adalah keras kepalanya. Selama ini Mae percaya bahwa menjaga berarti tidak melepaskan, bahwa tugasnya adalah menahan, menahan air, menahan kampung, menahan semua orang di tempat asalnya. Tapi sekarang, dengan tulang kakeknya di tangannya, ia mengerti bahwa kadang menjaga justru berarti mengangkat dan memindahkan, melepaskan tanah agar yang berharga bisa dibawa ke tempat yang lebih tinggi.
Mereka membungkus sisa-sisa itu dengan kain kafan baru, dan Mbah Inah memeluk bungkusan kecil itu di pangkuannya sepanjang perjalanan perahu ke tanah tinggi, memeluknya seperti memeluk bayi, seperti memeluk seluruh hidup yang pernah ia jalani di tanah yang sekarang jadi laut.
Malam itu, di rumah, Mbah Inah duduk diam lebih lama dari biasanya. Lalu, tanpa Mae bertanya, ia berkata, suaranya parau dan pelan, "Mungkin kamu benar, Nduk."
"Benar apa, Mbah?"
"Soal kampung ini." Mbah Inah menatap tangannya sendiri yang berlumpur, tangan yang sudah tujuh puluh dua tahun memegang tanah ini. "Mungkin memang harus dilepas. Kalau tanah saja tidak bisa lagi menjaga yang mati, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk yang hidup." Ia diam lama. "Tapi belum semua, Mae. Belum semua sudah diangkat. Masih ada yang tertinggal di sana. Masih ada yang belum sempat."
Mae tidak menangkap berat kalimat itu saat itu. Ia kira neneknya hanya berduka secara umum, meratapi makam-makam yang tak sempat dipindahkan karena terlalu dalam atau terlalu hilang. Ia menyentuh tangan neneknya, dan mereka duduk dalam diam, dan untuk pertama kalinya Mae mengucapkan, dalam hatinya, kata yang selama ini ia tolak: mungkin kampung ini memang harus dilepas. Kata itu terasa seperti pengkhianatan dan kelegaan sekaligus. Ia tidak tahu, malam itu, bahwa kalimat neneknya tentang yang belum sempat akan kembali padanya, beberapa minggu kemudian, di puncak badai, sebagai harga yang harus ia bayar.