Tidak semua orang pergi. Mae tahu sejak awal sebagian akan tetap tinggal, tapi melihatnya menjadi nyata tetap terasa seperti pukulan pelan yang berulang. Ketika gelombang relokasi dimulai sungguhan, ketika truk-truk mulai mengangkut keluarga muda ke Sukamaju satu per satu, yang tersisa di Muara Sigar adalah mereka yang, karena satu dan lain hal, tidak bisa atau tidak mau pergi.
Mereka membangun rumah panggung di atas air yang dulu jadi kampung. Tiang-tiang bambu dan kayu bekas ditancapkan ke dasar berlumpur, lantai papan ditinggikan di atas pasang tertinggi, dinding dari triplek dan terpal dan seng bekas. Dari kejauhan, Muara Sigar yang baru tampak seperti kampung nelayan di atas rawa, rumah-rumah berdiri di atas air yang menghubungkan satu ke yang lain dengan jembatan papan goyah dan perahu yang ditambatkan di tiap teras. Mereka hidup dari sisa, dari tambak liar yang batasnya sudah hilang tapi ikannya masih ada, dari kepiting bakau, dari laut yang mengambil rumah mereka tapi masih memberi makan.
Mae mendata mereka, karena seseorang harus. Pak Sakdun, yang menolak jadi tukang parkir di tanah kering. Mbah-mbah yang seluruh kenangannya ada di sini dan tidak punya tenaga untuk memulai dari nol di tempat lain. Beberapa lelaki paruh baya yang tidak punya keterampilan selain melaut dan tahu di Sukamaju mereka tidak akan jadi siapa-siapa. Dan orang-orang seperti Karyo, yang tinggal bukan karena terpaksa melainkan karena memilih, karena ia merasa selama masih ada yang tinggal, harus ada yang bisa memperbaiki mesin dan menambal perahu.
Dan Mbah Inah. Tentu saja Mbah Inah.
"Mbah ikut aku ke Sukamaju," Mae mencoba, untuk kesekian kali, suatu malam. "Di sana ada pekuburan kakek sekarang. Mbah bisa dekat dengan beliau. Tidak perlu menyeberang air tiap mau ziarah."
"Dan tinggal di kotak beton, di lantai tiga, jauh dari laut, menunggu mati?" Mbah Inah menggeleng. "Aku tinggal di sini, di rumah panggung, mendengar laut, sampai giliranku. Kamu yang harus pergi, Mae. Kamu masih muda. Tuntun orang-orang yang mau pergi itu. Itu gunamu sekarang. Aku ini sudah tidak ada gunanya selain jadi beban perahu."
"Jangan ngomong begitu, Mbah."
"Aku ngomong apa adanya." Tapi ada kelembutan langka di suaranya. "Kamu sudah berubah, Nduk. Aku lihat. Dulu kamu cuma bisa menatap papan ukurmu, menghitung air. Sekarang kamu menatap orang. Bapakmu akan bangga."
Mae tidak menjawab. Pujian dari Mbah Inah langka seperti hujan di musim kemarau, dan ia tidak tahu cara menerimanya tanpa air mata, jadi ia diam.
Keputusan yang membebani Mae bukan lagi soal air. Ia harus memilih ke mana tubuhnya berada. Yang mau pergi butuh dituntun; pemerintah memberi truk tapi tidak memberi seseorang yang dipercaya warga, dan warga hanya mau bergerak kalau Mae yang mengatur, Mae yang memastikan yang lemah tidak tertinggal, Mae yang menengahi dengan petugas. Tapi yang tinggal juga butuh dijaga; tanpa seseorang yang membaca air, yang menjalankan pompa tambalan, yang tahu kapan harus naik perahu, rumah-rumah panggung itu adalah jebakan saat pasang besar datang. Mae tidak bisa berada di dua tempat. Tubuhnya satu. Dan tiap pilihan berarti meninggalkan sekelompok orang pada nasibnya.
Lalu datang peringatan itu.
Mae mendengarnya pertama dari radio cuaca tua di pos, lalu dari Pak Carik yang menerima kabar dari kabupaten. Pasang ekstrem akan datang dalam sepuluh hari, pasang purnama yang bertepatan dengan posisi bulan terdekat ke bumi, pasang yang dalam catatan akan jadi yang tertinggi dalam dekade ini. Dan lebih buruk lagi, perkiraan cuaca menyebut angin baratan kencang akan datang bersamaan, angin musim yang mendorong massa air laut ke arah pantai utara, menumpuknya ke garis pesisir, menaikkan permukaan air jauh di atas pasang astronomis biasa. Pasang tinggi ditambah dorongan angin badai. Dua hal yang masing-masing sudah cukup buruk, datang bersamaan.
Mae menghabiskan dua malam dengan buku catatan dan senter, menghitung. Ia bukan ahli, tapi ia anak mandor tanggul dan ia sudah menghitung air sepanjang hidupnya, dan angkanya, betapapun ia mencoba menyusun ulang, selalu sampai ke kesimpulan yang sama. Tinggi pasang ekstrem yang diperkirakan, ditambah dorongan angin baratan, akan melampaui puncak tanggul barat. Tanggul yang sudah retak, yang sudah ambles, yang hanya ditambal karung pasir di titik lemahnya. Air tidak akan sekadar melampauinya. Air akan menemukan retakan itu, menekannya dengan seluruh berat laut yang didorong angin, dan tanggul itu akan jebol. Bukan mungkin. Pasti. Tinggal soal di titik mana.
Ia membawa hitungannya ke Pak Carik, ke Karyo, ke siapa pun yang mau mendengar. "Tanggul barat tidak akan kuat," katanya, dan ia memaksa suaranya tetap rata, karena panik menular dan ia tidak boleh menularkannya. "Pasang ini akan jebolkan tanggul. Bukan banjir biasa yang surut. Kalau tanggul jebol, laut akan masuk dan tidak akan pernah keluar lagi. Semua yang masih di sini, di rumah panggung, di kampung rendah, harus naik ke titik tinggi sebelum malam pasang. Tidak ada tawar-menawar."
Pak Carik pucat. "Kamu yakin, Mae?"
"Aku tidak pernah yakin soal angka, Pak. Tapi kalau aku salah, kita cuma kehujanan di tempat tinggi semalam. Kalau aku benar dan kita diam saja, kita kehilangan orang." Ia menatap Pak Carik. "Mana yang Bapak pilih untuk salah?"
Mereka mulai memperingatkan semua orang hari itu juga. Mae sendiri yang mendatangi rumah-rumah panggung satu per satu, mendayung dari pintu ke pintu, menjelaskan, memohon, kadang membentak yang keras kepala. Sebagian setuju naik ke balai desa dan tanah tinggi pada malam pasang. Sebagian, yang paling tua, yang paling lelah, menggumam akan lihat nanti. Dan Mbah Inah, ketika Mae mendatanginya, hanya menatap cucunya dengan tenang dan berkata, "Iya, Nduk. Iya. Mbah akan ke posko. Jangan khawatirkan Mbah. Khawatirkan orang banyak."
Mae mengangguk, lega, terlalu lega untuk menangkap sesuatu yang aneh dalam ketenangan neneknya, sesuatu yang seharusnya membuatnya curiga. Ia punya terlalu banyak rumah untuk didatangi, terlalu banyak orang untuk dibujuk, terlalu sedikit waktu. Sepuluh hari menyusut jadi sembilan, jadi delapan. Dan di tepi langit barat, sore demi sore, angin mulai berubah arah, membawa bau laut yang lebih tajam dari biasanya, dan permukaan air, bahkan saat surut, mulai berdiri sedikit lebih tinggi dari yang seharusnya, seakan laut sedang menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong sekuat tenaga.