Mobil Reno melintir di depan Bayu seperti gasing yang kehilangan poros. Asap putih mengepul dari roda kanan depan, dan dalam sekejap dunia menyempit jadi satu hal: dinding biru-merah mobil Wijaya itu menggeser ke tengah lintasan, menutup garis ideal yang sedetik lalu masih kosong.
Waktu melambat. Di kepala Bayu, sebuah pintu lama mau terbuka—ruang gelap dengan suara mesin dan teriakan dan terpal abu-abu. Ia merasakan tenggorokannya menyempit.
"Lihat ruang kosong. Bukan mobilnya." Suara Pak Gun pecah masuk lewat radio, datar, tegas, persis seperti dulu di Tikungan Tujuh. "Mata ke tempat kamu mau pergi, Bayu."
Bayu memaksa pandangannya pindah. Bukan ke ekor Reno yang berputar, tapi ke pita aspal sempit di sisi dalam, di antara mobil melintir dan rumput basah. Tangannya bergerak sebelum otaknya selesai berpikir. Setir ke kiri, lembut, jangan panik—rem terlalu keras di sini berarti ban mengunci dan ikut melintir.
Roda belakang PR-09 menggigit. Buntut mobil bergetar, mau lepas, lalu dijinakkan lagi. Bayu melewati celah yang lebarnya mungkin tak sampai satu setengah meter, cukup untuk satu mobil yang menahan napas. Sudut matanya menangkap bayangan biru-merah meluncur ke gravel di belakangnya, menabrakkan asap dan kerikil ke udara.
Lalu lurus. Tikungan Tujuh ada di belakang. Ia masih di lintasan.
"Aman. Kamu aman." Pak Gun menarik napas yang terdengar sampai radio. "Napas, Nak. Napas dulu."
Bayu baru sadar ia menahan napas sepanjang itu. Udara masuk ke dadanya, gemetar, panas. Tangannya menempel di setir basah oleh keringat. Di layar kecil di setirnya, angka ban kanan depan masih menyala: 62. Belum mati. Belum.
"Reno—" Bayu menelan ludah. "Reno gimana?"
"Belum kelihatan dari sini. Fokus kamu dulu."
Tapi Bayu tidak bisa tidak melihat ke cermin. Di kejauhan, mobil Reno tergeletak miring di gravel, hidungnya menghadap arah salah. Tidak terbakar. Tidak hancur. Diam. Bayu menunggu pintu kokpit, menunggu gerakan, menunggu apa pun.
Bendera kuning berkibar di marshal post sebelum tikungan berikutnya. Kuning ganda. Sektor netral. Lampu papan di pinggir lintasan menyala: SC. Safety car.
"Safety car keluar," kata Pak Gun. "Turunin pace. Jangan nyalip. Jaga ban biar suhunya turun—ini malah hadiah buat kanan depan kamu."
Bayu mengangkat kaki dari gas. Raungan V6 di belakang punggungnya melembut jadi gerung pelan. Di depan, barisan mobil mulai merapat di belakang mobil keselamatan berlampu jingga yang masuk ke lintasan. Tempo balapan yang tadi membakar sekarang berubah jadi prosesi tegang.
"Pak Gun." Suara Bayu lebih kecil sekarang. "Saya lihat asap itu. Sama persis."
Hening sebentar di radio. Pak Gun tahu apa yang dimaksud "sama persis". Ban kanan depan. Tikungan Tujuh. Asap putih sebelum semuanya runtuh.
"Beda, Bayu." Suara Pak Gun pelan tapi keras seperti besi. "Lima tahun lalu nggak ada yang tahu ban mau gagal sampai udah telat. Hari ini kamu tahu. Angka di setir kamu itu yang bikin beda. Reno nggak punya itu. Bukan salah kamu, sama kayak dulu bukan salah kamu."
Bayu tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu sesak. Tapi tangannya berhenti gemetar.
Di radio marshal yang dipantau pit, kabar masuk patah-patah. Pak Gun menerjemahkannya untuk Bayu beberapa lap kemudian, ketika prosesi safety car sudah berjalan tenang dan suhu ban kanan depan turun ke 54, lalu 51.
"Reno sadar. Dia keluar dari mobil dibantu marshal. Jalan pincang, tapi jalan sendiri." Ada lega yang nyaris tak terdengar di suara tua itu. "Pundak atau tangan kayaknya kena. Dia hidup, Bayu. Dia marah, itu tanda bagus."
Sesuatu mengendur di dada Bayu. Ia tidak menyukai Reno. Reno mengejeknya di gerbang sirkuit, menyebut ayahnya, menyebut dirinya pengecut yang kabur. Tapi membayangkan satu mobil lagi diangkat dari gravel dengan terpal di atasnya—itu hal yang Bayu tidak sanggup tanggung lagi seumur hidupnya.
"Bagus," kata Bayu, dan ia setengah tertawa, setengah ingin menangis di dalam helm. "Bagus dia marah."
Mobil keselamatan masih memimpin. Di luar pagar, ribuan penonton berdiri, menonton mobil Reno ditarik dari gravel. Papan posisi memperlihatkan satu angka yang membuat Dimas berteriak di pit sampai suaranya retak di radio: dengan Reno keluar dan satu mobil lain ikut tergelincir menghindar tadi, posisi Bayu naik.
"P5," kata Pak Gun, dan untuk pertama kali sepanjang hari suaranya bergetar. "Kamu lagi di posisi lima, Nak. Tapi balapan belum selesai. Safety car bakal masuk sebentar lagi. Begitu lampunya padam, kita mulai dari awal. Kamu siap?"
Bayu menatap lurus ke ekor mobil keselamatan. Di setirnya, tangan Hardian dulu menulis kata-kata yang sekarang melekat di kokpit: berani itu takut yang tetap jalan. Ia masih takut. Tikungan Tujuh masih ada di depan, harus dilewati lagi dan lagi sampai garis finis.
"Siap," kata Bayu.
Di kejauhan, lampu di buritan safety car berkedip mati. Satu lap lagi, mereka akan dilepas. Restart.