Lampu jingga di buritan safety car padam. Mobil keselamatan menepi ke pit lane dengan mulus, dan tiba-tiba lintasan jadi milik mereka lagi.
"Dia masuk," kata Pak Gun cepat. "Kamu P5. Jangan buru-buru ke gas. Yang di depan bakal lambatin tempo biar bikin kamu telat—itu permainan restart. Kamu yang atur jarak, bukan dia."
Bayu menahan diri. Mobil di depannya—nomor 8, salah satu papan tengah berpengalaman—sengaja menggantung di tikungan terakhir, melambat lalu menghentak gas mendadak untuk mencuri celah. Bayu tidak terpancing. Ia membiarkan jarak melebar dua mobil, lalu menghentak gasnya sendiri tepat saat garis start-finish lewat, memakai momentum.
V6 di punggungnya meraung penuh. Lima puluh lap, dan mereka baru di lap dua belas. Banyak yang bisa terjadi. Tapi sekarang lintasan dingin lagi, ban semua orang baru saja didinginkan oleh prosesi lambat, dan medan pertempuran rata kembali.
"Suhu kanan depan?" Pak Gun bertanya.
"Lima puluh dua." Bayu mengintip layar kecil di setir di antara tikungan. "Naik pelan. Lima tiga."
"Bagus. Itu sehat. Kita main panjang sekarang. Yang di depan kamu—nomor 8, nomor 3, nomor 14, dan pemimpin nomor 21—mereka semua start lebih cepat dari kita dan ban mereka udah kerja keras dua belas lap sebelum safety car. Ban Adikarya kamu lebih segar karena kamu start lebih telat dan jaga suhu. Itu modal kita."
Bayu mengerti maksudnya. Bukan menyalip dengan tenaga. Mereka tidak punya tenaga lebih. Mereka punya informasi.
Lap demi lap ia menempel nomor 8 tanpa memaksa. Ia membaca angka di setirnya seperti membaca jam: suhu kanan depan merangkak ke 55, lalu turun ke 53 saat ia memberinya napas di bagian lurus. Ia belajar ritme ban. Kapan ban mulai panas, kapan ia harus melembutkan kemudi satu tikungan untuk mengembalikan grip.
Di lap dua puluh, nomor 8 mulai melebar di tikungan. Bukan kesalahan besar, hanya setengah meter, tapi setengah meter itu berarti bannya sudah mulai lelah—pengemudi yang bannya habis selalu mulai melebar di tikungan cepat. Bayu mencatatnya.
"Nomor 8 mulai loyo," lapor Bayu.
"Aku lihat. Sabar. Jangan nyalip di Tikungan Tujuh." Suara Pak Gun mengeras di nama itu. "Salip dia di tikungan satu, garis lurus panjang, ban kamu masih punya cengkeram buat ngerem belakangan. Bersih."
Bayu menunggu. Satu lap. Dua lap. Ia membiarkan nomor 8 percaya ia tak punya tenaga, membiarkannya lengah. Lalu, keluar dari tikungan terakhir, Bayu menempel sedekat mungkin, mengisap angin di belakang mobil itu, dan saat lintasan membentang lurus ke Tikungan Satu, ia keluar dari belakang dan menghentak.
Dua mobil berdampingan menuju titik pengereman. Nomor 8 mengerem lebih awal—bannya sudah tak berani. Bayu menahan gasnya setengah detik lebih lama, percaya pada angka di setirnya yang bilang grip masih ada, lalu mengerem keras dan menukik ke apex.
P4.
"YA!" Dimas berteriak di radio. Pak Gun tidak menegurnya kali ini.
"Bagus, Nak. Sekarang nomor 3 di depan. Tapi dengar—jangan kejar dia mati-matian. Lihat bannya. Sebentar lagi separuh grid mau pit buat ganti ban. Ban kamu masih kuat. Kalau kita tahan tanpa pit selama mungkin, pas mereka keluar dari pit dengan ban dingin, kamu yang di lintasan dengan ban panas siap pakai. Itu strategi kita. Kamu lawan jam, bukan cuma lawan mobil."
Bayu menyetir dengan kepala dingin yang dulu ia kira hilang bersama ayahnya. Ia merasakan mobil. Ia membaca angka. Tikungan Tujuh datang lagi, dan lagi, dan setiap kali dadanya menegang lalu mengendur ketika roda kanan depan melewati apex tanpa asap, tanpa pecah, tanpa runtuh.
Di lap tiga puluh, mobil-mobil depan mulai masuk pit satu per satu. Nomor 3 masuk. Pemimpin nomor 21 masuk. Bayu, dengan ban yang dijaga seperti barang rapuh selama tiga puluh lap, tetap di lintasan.
"Suhu?" tanya Pak Gun.
"Lima empat. Stabil." Bayu hampir tak percaya angka itu sendiri. "Pak, ban ini masih bisa lari."
"Aku tahu. Ratih nggak bohong." Ada kebanggaan getir di suara Pak Gun—kebanggaan seorang lelaki yang dulu menguji ban itu sampai 60 derajat di garasi sempit demi tidak buta lagi. "Lima lap lagi baru kita pit. Sekarang, Nak, ini bagianmu: tahan posisi. Lari konsisten. Setiap detik kamu di lintasan dengan ban hidup, kamu nyuri posisi dari orang yang lagi di pit."
Papan posisi berubah lagi. Mobil-mobil yang habis pit keluar di belakangnya, ban dingin, kehilangan waktu. Bayu, yang sabar, yang membaca angka, yang tidak buta—naik.
P3 sementara. Lalu, untuk satu lap menegangkan sebelum ia sendiri masuk pit, papan menulis sesuatu yang membuat seluruh garasi Prakoso terdiam: P2.
"Sekarang," kata Pak Gun pelan, "kita buktiin kamu bukan kebetulan. Masuk pit lap ini. Kru udah siap. Tarik napas, Bayu. Kita belum selesai."