Grafik di meja lobi itu adalah jantung dari seluruh rencana.
"Semua tim di trek ini pakai strategi dua stop," kata Bu Ratih, menunjuk garis-garis yang ia gambar. "Lurus panjang bikin ban cepat aus. Ban kompetisi biasa habis di lap dua puluh, jadi mereka pit dua kali. Tiap pit, hilang dua puluh lima detik."
"Dan kalau kita cuma pit sekali," Pak Gun melanjutkan, "kita hemat dua puluh lima detik penuh. Itu lebih dari cukup buat nutup kekurangan top speed kita semusim balapan."
Bayu menatap grafik. "Tapi ban saya juga aus."
"Itu bedanya." Bu Ratih menggeser kertas kedua ke depan Bayu — kurva keausan ban Adikarya. "Ban kami aus lebih lambat kalau dikelola benar. Dan kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki dua puluh satu mobil lain di grid itu."
"Sensor," kata Bayu pelan.
"Sensor." Bu Ratih mengangguk. "Mereka pit di lap dua puluh karena nebak. Karena takut. Kamu nggak perlu nebak. Kamu tahu persis suhu dan tekanan tiap ban, tiap lap. Kamu bisa jalan sampai ban hampir habis — bukan lebih awal, bukan terlalu telat. Kamu bisa peras setiap kilometer terakhir dari karet itu."
Pak Gun bersandar. "Tapi ada harganya. Kalau kamu jalan satu stop, paruh kedua balapan ban kamu udah tua. Grip turun. Kamu bakal lambat banget di lap-lap akhir. Mobil belakang bakal datang. Pertanyaannya: kamu sanggup nahan dengan ban habis tanpa panik?"
Kata "panik" menggantung di udara.
Bayu menelan ludah. Ban habis. Grip hilang. Mobil yang nggak mau menurut. Itu persis kondisi yang dulu, di radio, ia dengar dari mulut ayahnya beberapa detik sebelum semua hancur.
"Ban habis nggak sama dengan ban pecah," kata Pak Gun, seolah membaca pikirannya. Suaranya turun, hampir berbisik. "Ban habis cuma licin. Dia nggak mau bunuh kamu. Dia cuma minta kamu lebih halus. Bapakmu mati karena ban pecah tanpa peringatan. Ini beda. Ini ban yang ngomong sama kamu sepanjang jalan."
Bayu menutup mata sebentar. Lalu membukanya. "Berapa lap saya harus tahan ban?"
"Kalau pit di lap dua delapan," kata Bu Ratih cepat, menghitung, "kamu jalan dua puluh dua lap terakhir dengan ban yang makin tua. Tujuh, delapan lap terakhir bakal berat sekali."
"Saya sanggup," kata Bayu. Lalu, lebih jujur: "Saya nggak tahu saya sanggup. Tapi saya mau coba."
Pak Gun memandangnya lama. "Itu jawaban yang bener," katanya akhirnya. "Yang sanggup itu pembohong. Yang mau coba itu pembalap."
Mereka menghabiskan dua jam berikutnya membedah setiap lap. Dimas datang membawa laptop, menyimulasikan suhu aspal besok pagi — diperkirakan 49 derajat, naik ke 54 di tengah balapan. Aman, masih jauh dari ambang. Pak Heru menyetel suspensi malam itu juga di pit, mengikuti salah satu angka dari catatan tangan Hardian: tekanan ban sedikit lebih rendah dari standar, supaya panasnya lebih merata, lebih awet.
"Ini setelan Bapak," kata Bayu, mengenali angka itu di kertas tua.
Pak Heru mengangguk tanpa berhenti memutar kunci. "Bapakmu udah mikirin trek kayak gini lima tahun lalu. Kita cuma ngelanjutin."
Menjelang tengah malam, rencana itu utuh. Start P16. Bertahan di awal, jangan boros ban, jangan terpancing duel. Biarkan yang lain pit di lap dua puluh. Lalu, saat grid berantakan oleh pit stop pertama mereka, susul. Pit sekali di lap dua delapan. Pulang dengan ban tua dan kepala dingin.
Bayu memegang setir mental itu sepanjang malam. Saat akhirnya tidur, ia tidak bermimpi tentang Tikungan Tujuh. Ia bermimpi tentang angka di setir — hijau, stabil, berbicara padanya.
Pagi datang dengan langit yang lebih kelabu dari perkiraan. Dimas menatap awan di ufuk dengan kening berkerut.
"Itu nggak ada di simulasi," gumamnya.
Pak Gun menengadah. Angin berubah arah. Dan di kejauhan, di balik bukit yang mengelilingi sirkuit, garis abu-abu menggantung berat.