Tetes pertama jatuh di kaca helm Bayu tepat saat lampu start menyala.
Bukan hujan deras. Belum. Gerimis tipis yang menjilat aspal, membuat permukaannya berkilau di bawah langit kelabu. Tapi setiap pembalap di grid tahu artinya: semua strategi yang disusun semalam baru saja kehilangan setengah nilainya.
"Hujan," suara Pak Gun di radio, tenang dipaksakan. "Aspal mulai basah. Kita tahan rencana dulu, lihat seberapa deras. Ban slick masih jalan kalau cuma lembap. Lapor terus grip-nya."
Lampu padam.
Bayu melepas kopling. PR-09 melompat maju, tapi roda belakang sempat berputar di aspal licin — ia mengoreksi, menahan gas, dan mobil menggigit lagi. Dari P16 ia mempertahankan posisi, tidak kehilangan satu pun, sementara di depannya dua mobil saling senggol di Tikungan Satu karena terlalu agresif di lintasan basah.
Lalu gerimis berubah jadi hujan.
Dalam tiga lap, aspal yang tadi hanya lembap kini tergenang tipis. Semprotan air dari mobil-mobil depan membentuk dinding kabut. Bayu nyaris tak bisa melihat ujung lurus panjang. Jantungnya mulai berdetak terlalu cepat — bukan dari kecepatan, tapi dari sesuatu yang lebih tua, lebih gelap.
Ban yang kehilangan cengkeraman. Mobil yang tak menurut. Rasa kendali yang menipis di ujung jari.
*Tidak. Bukan sekarang.*
"Bayu, lapor." Suara Pak Gun memotong. "Lapor sekarang. Grip berapa? Ngomong sama saya."
"Licin—" Bayu tercekat. Tangannya mengeras di setir. Mobil di depannya tiba-tiba melebar di tikungan, ekornya menari, dan Bayu harus mengangkat gas mendadak. PR-09 ikut goyah. Dunia menyempit. Suara hujan dan mesin berbaur jadi raungan yang ia benci, raungan yang sama, raungan dari lima tahun lalu yang membawa kabar tergores statik—
"BAYU." Suara Pak Gun keras sekarang. "Dengar napas saya. Tarik. Buang. Ini hujan, bukan panas. Ban nggak akan pecah di air. Air bikin licin, bukan mati. Beda. Ngerti? BEDA."
Bayu menarik napas. Buang. Tangannya melonggar setengah.
"Bagus. Sekarang lihat setir. Sensor. Baca buat saya."
Mata Bayu turun sepersekian detik. Angka-angka hijau itu masih di sana. Suhu ban rendah — terlalu rendah, dingin karena air. Tekanan turun. Tapi stabil. Tidak ada lonjakan. Tidak ada peringatan merah. Ban itu, bahkan di tengah hujan, masih berbicara padanya dengan suara yang tenang.
"Suhu... empat puluh satu," kata Bayu, suaranya mulai kembali. "Stabil. Tekanan turun tapi rata."
"Itu dia," kata Pak Gun. "Ban kamu hidup. Dia nggak ninggalin kamu. Sekarang kamu yang jangan ninggalin dia. Halus di gas. Halus di rem. Air cuma minta kamu pelan-pelan, Bayu. Cuma itu."
Sesuatu bergeser di dada Bayu. Selama lima tahun, raungan mesin di tengah situasi genting selalu berarti satu hal: kematian. Tapi sekarang, dengan angka hijau itu di depan matanya, raungan itu berubah jadi sekadar... mesin. Mesin yang bekerja. Ban yang masih menggigit.
Ia bukan ayahnya. Ini bukan hari itu. Ia tidak buta.
Di depan, satu lagi mobil melintir keluar, korban hujan dan keberanian yang salah tempat. Bayu melewatinya dengan hati-hati, halus, garis basah yang ia rasakan lewat ujung jari dan layar di setir. P15. Lalu, beberapa tikungan kemudian, sebuah mobil lain yang menginjak gas terlalu dini di lurus berputar di genangan. P14.
"P14," lapor Bayu, dan untuk pertama kali sejak start, ada sesuatu yang menyerupai tenang di suaranya. "Mereka jatuh sendiri, Pak. Saya cuma... ada di sana waktu mereka jatuh."
Di pit, Pak Gun tersenyum lebar pertama kalinya hari itu. "Itu yang Bapakmu maksud," gumamnya, lebih ke diri sendiri. "Sabar ngambil yang berani buang."
Hujan masih turun. Aspal masih jadi cermin berbahaya. Tapi di tengah dinding air dan kabut semprotan, Bayu Prakoso mulai melihat sesuatu yang tak terlihat pembalap lain — bukan dengan mata, tapi dengan angka yang berbisik dari setirnya.
Dan ia mulai berpikir: kalau ia bisa membaca air ini lebih baik dari siapa pun di lintasan...
Lurus panjang yang tadi jadi musuhnya kini tertutup genangan, dan top speed tak ada artinya bila roda kehilangan cengkeraman. Untuk pertama kali sepanjang akhir pekan, lapangan permainan menjadi rata.
Bayu mengencangkan genggamannya — kali ini bukan dari takut.